Annyeong…
(n_n)
Author muncul
lagi, nih. Kemarin udah baca FF “Heartbeat” belum? Nah, kali ini author bawa FF
kelanjutan dari “Heartbeat”. Jadinya author bikin Dwilogi of Heartbeat, deh.
Hehe…
Title
: The True Heart
(Dwilogi of Heartbeat) #Part 1
Author
: Riani Charlina
(Song Hye Ra)
Main
Casts
: Song Hyera,
Eunhyuk, Aiden, Jessica (SNSD)
Genre
: Romance
Length
: two shoots
Hari ini berjalan seperti hari-hari
sebelumnya. Aku masih saja berkutat di bagian dapur, membuat berbagai macam
roti. Aku menghembuskan nafas dalam-dalam. Mencoba menjalani hari ini seperti
tanpa masalah. Namun lagi-lagi usahaku nihil. Masih saja pikiranku melayang
mengingat Donghae. Rasanya hati ini belum bisa menerima kepergiannya. Kejadian
ini benar-benar terlalu cepat terjadi. Baru sekejap aku bertemu dengannya, dan
sekejap pula aku harus kehilangannya kembali. Kurasakan denyut jantungku
berdegup. Jantung ini…. Nyawa ini… Nafas ini…
Kenapa aku
merasa benar-benar rapuh? Bahkan lebih rapuh sekalipun ketika aku masih
menderita jantung kronis. Sudahlah, Hyera. Hentikan tangismu. Kau sudah cukup
menghabiskan air matamu. Berhentilah, dan hadapi hari esok. Aku menyeka air
mata yang tanpa permisi mengalir begitu saja dari lingkar mataku.
Kudengar
suara pintu berderit. Pasti Eunhyuk baru datang. Sudah terlihat dari kelebat
bayangannya.
“Hmm… roti
apa yang kau buat hari ini, nona? Kelihatannya enak” ucapnya spontan.
Aku menunduk,
sibuk mengaduk adonan roti yang hendak kubuat. Tapi sebenarnya aku lebih tak
ingin menatapnya. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku baru saja menangis. Lagi!
Aku merasakan
Eunhyuk masih memperhatikanku atas kediamanku.
“Kau
sakit?”tanyanya.
“Anni.”jawabku
singkat. Masih menunduk tak berani menatapnya.
“Waeyo?
Kulihat sepertinya kau tak berminat menatapku. Apakah tampangku mengerikan hari
ini?”
Apa?
Mengerikan? Hmm… Aku rasa setiap hari dia selalu saja mengerikan. Untuk yang
ini aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menyunggingkan senyum. Akhirnya
kuberanikan melihat wajah Eunhyuk.
“Yak!
Eunhyuk-ssi?” aku terkejut. “Kenapa kau…? Umh.. kk kenapa… HAHAHA…..!!” aku
tergelak. Belum sampai aku menyelesaikan kalimatku, tawaku sudah pecah duluan.
Kutatap lekat-lekat Eunhyuk. Tawaku semakin menjadi-jadi. Yang benar saja?
Pemilik Roti Bakery satu ini memang tidak peka. Bisa-bisanya dia pergi kemari
masih dengan memakai masker di wajahnya? Omo… namja ini sudah tidak waras.
“Waeyo?”tanyanya
innocent sambil menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.
“Kau ingin
ikut pesta Hallowen ya? Wajahmu itu….!? GYAHAHA” Aku menahan perutku. Lucu
sekali. Bisa dibayangkan wajah Eunhyuk yang memakai masker dan berpura-pura
innocent. Oh tidak. Ada yang harus kuralat. Sepertinya bukan lucu. Tapi
tepatnya, mengerikan. Ummm… tidak-tidak, dia memang lucu tapi juga mengerikan.
Aigooo.. Kepalaku rasanya mau lepas karena tertawa
“Mwo?” dia
malah membulatkan mulutnya, kemudian tersenyum.
“Aku senang,
akhirnya kau bisa tertawa juga.” ucapnya sambil beralih menuju wastafel dan
membasuh wajahnya yang putih.
Hah, benar
saja. Sudah lama tidak kurasakan bibirku tertarik sangat lebar. Baru kali ini
aku merasa bisa tertawa lepas lagi. Semenjak kepergiannya, aku merasa duniaku
suram dan tak ada kesempatan untuk tertawa atau menertawakan hal-hal yang patut
ditertawakan. Tapi terserahlah, kali ini kurasakan sedikit senang.
Eunhyuk
sekarang sudah tampil seperti biasanya. Tidak ada embel-embel masker lagi di
wajahnya. Tawaku sedikit mereda. Dia lagi-lagi menatapku.
“Syukurlah.
Ternyata dugaanku salah” katanya dengan mimik serius.
“Mwo?! Apa
maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
“Yahh…
kupikir kau sudah mati rasa, tak bisa lagi tertawa. Karena kerjaanmu selalu
saja menangis. Tapi syukurlah, aku sangat senang melihatmu tertawa, Hyera.”jawabnya.
Aku terdiam…
“Hyera-ya…
kuharap kau bisa melupakan masa lalumu. Maaf jika aku terlihat sedikit
ikut campur. Aku tahu itu memang hal yang sangat sulit kau lakukan, tapi aku
selalu berusaha membuatmu kembali. Kembali ke duniamu sekarang, Hyera….”Eunhyuk
menggenggam tanganku. Aku kembali menunduk. Semakin erat dia menggenggam
jemariku semakin dalam sakit yang kurasa.
“Donghae
merelakan hidupnya agar kau bisa bahagia lagi. Bukan untuk membuatmu menyendiri
seperti ini. Kau tahu, aku sakit setiap melihatmu seperti ini. Aku ingin kau
memandangku, Hyera. Aku ingin kau membuka matamu untukku.” Lanjut Eunhyuk.
Kata-kata itu meluncur dengan mulus dari mulutnya.
Kali ini aku
tak bisa berpura-pura lagi. Air mataku langsung tumpah tanpa bisa dicegah. Aku
benar-benar tak bisa bahkan tak ingin melupakan Donghae. Bagaimana bisa,
Eunhyuk? Itu hal yang tak akan pernah bisa aku lakukan. Kalaupun bisa aku ingin
mencopot jantungku ini, daripada harus hidup dengan penuh kesedihan.
Kurasakan
tangan Eunhyuk dengan lembut mengusap air mataku. Aku menunduk semakin dalam,
tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“Aku ingin
mengajakmu ke Paris.” Ucapnya tiba-tiba.
“Mwo?!”aku
mengangkat kepalaku, menatapnya dengan penuh keterkejutan. “Yang benar saja? Ke
Paris?” tanyaku shock. Aku menatapnya dengan air muka tak percaya. Tapi sedetik
kemudian aku baru tersadar. Aish! Pasti Eunhyuk bercanda. Dia pasti ingin
membuatku berhenti menangis.
“Aku tak
bercanda.” Ujarnya seperti mampu menebak isi pikiranku. “Aku sungguh-sungguh.”
Ulangnya lagi.
Dia kembali
menyeka air mataku yang menggantung di sudut mata.
“Aku
sungguh-sungguh. Kali ini ikutlah denganku. Aku ingin mengajakmu berlibur ke
Paris.”tuturnya. Dia menatapku dalam. “Aku ingin kau melupakan sejenak
kesedihanmu, Hyera.”
Kurasakan
genggamannya semakin erat. Entah mengapa hatiku jadi galau.
“Sudah kuatur
semua ini. Tak ada yang perlu kau permasalahkan. Aku hanya ingin kau ikut
bersamaku ke Paris…” ucapnya setengah memohon.
“Tapi… aku….”
“Kumohon,
Hyera. Kali ini kabulkan permintaanku. Aku bisa memahami jika kau tetap tidak
mampu melupakan Donghae.
Hatiku galau.
Benar-benar galau. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba….
“Kumohon….”pinta
Eunhyuk lagi.
Aku berpikir
sejenak. Mencoba mencerna apa saja yang telah dikatakan Eunhyuk. Apakah ini terdengar
seperti lelucon? Ntahlah, tapi semakin aku mencoba berpikir yang kutemukan
hanya kegalauan.
“Baiklah….”
…….
…….
…….
1 detik
2 detik
3 detik
Mwo?! Apa
tadi yang kukatakan? Baiklah?? Apa tadi yang keluar dari mulutku seperti
kata-kata persetujuan? Hah, kenapa kata itu bisa dengan sendirinya keluar dari
mulutku? Kenapa aku bisa menyetujuinya? Dan sekarang bisa terlihat jelas di
mataku bahwa Eunhyuk sedang lonjak-lonjak kegirangan. Namja ini terlihat sangat
liar. Untung saja pegawai lainnya sedang sibuk dengan kerjaan masing-masing.
Jadi mereka tidak akan terkejut melihat tingkah atasannya yang ternyata
‘seperti itu’. Dan rotiku? Oh… gara-gara Eunhyuk aku belum juga menyelesaikan
rotiku yang satu ini. Kurasakan bibirku kembali tertarik. Aku tersenyum…. Dan
kali ini aku merasa waktuku untuk memikirkan Donghae tersita untuk Eunhyuk…
***
Aku sungguh
tak percaya! Sekali lagi kuulangi, aku sungguh-sungguh tak percaya! Aku ada di
Paris? Dan aku pergi bersama atasanku? Aish, kenapa ini terdengar seperti
sebuah perselingkuhan??
Aku melihat
Eunhyuk yang berdiri gagah di sampingku. Baru kusadari bahwa terenyata ia
sedikit-agak-tampan. Aish, apa-apaan aku ini. Kenapa sekarang malah memuji-muji
Eunhyuk?
“Yak! Kenapa
kau menatapku seperti itu?” tiba-tiba Eunhyuk menoleh ke arahku.
“Anni”
gelengku cepat. Omo… aku kaget sekali karena ketahuan sedang menatapnya.
Kujamin wajahku sekarang pasti memerah seperti kepiting rebus. Eunhyuk malah
tersenyum tak jelas. Aku yakin, pasti namja itu mengira aku sedang
memperhatikannya.
Aku dan
Eunhyuk sama-sama terdiam. Kami sedang menunggu jemputan ahjussi-nya Eunhyuk di
Charles de Gaulle Airport. Kata Eunhyuk kami akan menginap di apartement milik
keluarga mereka. Awalnya aku sempat merasa tidak enak dengan Yooeun. Di antara
semua pegawai hanya Yooeun yang tahu pasti mengenai perihal kepergianku dengan
Eunhyuk ke Paris. Eunhyuk berdalih bahwa aku disuruhnya mengikuti trainee
dengan menjadi asisten koki di resto milik pamannya. Yooeun tahu yang
sebenarnya karena ia tak sengaja mendengar pembicaraanku dengan
Eunhyuk ketika di dapur. Tapi aku yakin, gadis itu pasti bisa menjaga
rahasia. Hufft… kenapa aku jadi merasa bersalah? Akhir-akhir ini aku malah
jarang memikirkan Donghae? Tidak, tidak boleh. Posisi Donghae tak akan bisa
tergantikan oleh siapapun. Bahkan Eunhyuk sekalipun. Meskipun dia sudah
terang-terangan menyatakan cintanya padaku.
“Hyera-ya,
kau mau tetap tinggal di bandara, ya?”Eunhyuk menggoyang-goyangkan tangannya di
depan mataku. Aku baru tersadar, paman Eunhyuk sudah datang. Ternyata dari tadi
aku sibuk dengan pikiranku yang tidak jelas. Dengan cekatan Eunhyuk membawa
koperku dan aku mengikutinya dari belakang. Aku tersenyum pada paman Eunhyuk.
Kudengar Eunhyuk dan pamannya berkomunikasi dalam bahasa Prancis yang sama
sekali tidak aku mengerti. Pamannya menatap ke arahku, tersenyum kepada Eunhyuk
dan menagguk-anggukkan kepalanya senang. Entah apa yang dibicarakan Eunhyuk.
Yang terdengar di telingaku malah seperti dengungan suara lebah.
Selama
perjalanan aku hanya diam. Eunhyuk sepertinya asyik sekali bercerita dengan
ahjussinya. Hal lain yang membuatku diam karena aku tak mengerti bahasa yang
mereka gunakan. Aku hanya memandangi suasana Paris yang mewah. Menghela nafas.
Memejamkan mata. Kemudian kembali memandang suasana kota dari jendela mobil.
Terus kulakukan berulang-ulang. Ekor mataku menangkap Eunhyuk yang sekilas
mencuri pandang ke arahku.
“Kalian tadi
bicara apa?”tanyaku penasaran setelah kami tiba di apartement. Kamar kami
bersebelahan.
“vous
êtes très jolie et je vous aime beaucoup. (kamu sangat cantik, dan aku
benar-benar menyukaimu)”jawab Eunhyuk dalam bahasa Prancis
“Omona… aku
tak mengerti apa yang kau bicarakan, oppa” gerutuku.
Eunhyuk
terkekeh. Dia menepuk-nepuk kepalaku.
Kami kemudian
berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Langsung kuhempaskan tubuhkan di
atas spring bed. Ruangan kamar ini didesain klasik. Aku sangat menyukai
suasananya yang menenangkan. Kupejamkan mataku dan mengingat semua kilas balik
yang kualami. Aku merindukan Donghae… Aku sangat sangat merindukannya.
Kurasakan denyut jantungku berdetak. Kunikmati setiap ritme detakannya. Aku
merasakan Donghae. Aku merasakannya benar-benar dekat dengan diriku.
Benar-benar dekat, sampai-sampai aku merasa dia benar-benar ada di sampingku.
####
Malam pertama
di Paris.
Aku masih
belum bisa memejamkan mataku. Aku membolak-balikkan badanku. Membuka tutup
selimut. Keluar masuk kamar mandi. Mencuci muka berkali-kali. Aish! Kenapa aku
jadi kampungan seperti ini? Oke-oke, aku memang baru pertama kali ke Paris, dan
ini juga kali pertamanya aku berada bahkan tidur di apartemen elit seperti ini.
Tapi kurasa bukan ini yang menyebabkan aku tak bisa tidur. Ada hal lain yang
bergejolak di dadaku. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tapi
mataku masih saja stand by terjaga. Akhirnya kuputuskan untuk keluar ke balkon.
Melihat suasana kota Paris yang tak pernah tidur. Diluar sana lampu
berkelap-kelip. Suara deruman mobil saling beradu satu-sama lain. Tapi ntah
kenapa, aku justru merasa sunyi… aku rindu Donghae…. Aku ingin melihat Donghae…
Akhirnya
kuputuskan untuk berselonjor dan menyender di dekat dinding. Aku ingin
menghabiskan malam ini dengan duduk di dekat balkon. Merasakan desauan angin
malam yang mengantarkan kerinduanku pada Donghae. Kutatap layar ponselku. Waktu
sudah menunjukkan pukul 01.20. Tapi aku masih tak bergeming. Tiba-tiba ada
pesan masuk. Dari Eunhyuk??
From :
Eunhyuk
bonne
nuit ma chérie
Eunhyuk belum
tidur? Apa yang dia lakukan hingga larut malam seperti ini? Dengan cekatan aku
menekan keypad ponselku.
Belum
tidur?? Aku tak mengerti apa yang barusan kau katakan, Eunhyuk-ssi.
Tak berapa
lama Eunhyuk mengirimkan pesan lagi.
From :
Eunhyuk
Aku tak
bisa memejamkan mata. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tidur padamu. Kau
belum tidur juga? Tidurlah Hyera, kau pasti sangat lelah hari ini.
Aku menghela
nafas. Kembali kubalas pesan Eunhyuk
Aku juga
tidak bisa tidur. Banyak yang ingin kupikirkan.
From :
Eunhyuk
Apa yang
kau pikirkan? Sudahlah. Untuk malam ini berhenti dulu memikirkanku. Besok-besok
bisa dilanjutkan. Istirahatlah dulu…
Apa? Eunhyuk
ini, siapa juga yang memikirkannya.
Ne, aku
memang memikirkanmu. Aku bingung, kenapa kau itu sangat aneh!
From
:Eunhyuk
Ne, ne,
ne. Aku sudah tahu itu. Kau pasti sudah mulai jatuh cinta padaku bukan?
Omo…omo… omo…
Sepertinya
Eunhyuk lupa membawa obatnya di Seoul. Kenapa kenarsisannya tiba-tiba meningkat
drastis? Aku menekan-nekan keypad ponsel kemudian menekan tombol send.
Aku
memikirkan Donghae…
Eunhyuk
POV
Aku membuka
pesan dari Hyera
ma
chérie :
Aku
memikirkan Donghae…
Aku menghela
nafas dalam-dalam. Aku sudah biasa sakit seperti ini. Kenapa Hyera begitu
mencintai Donghae? Tapi itu wajar. Karena perngobanan Donghae padanya sangat
besar. Tapi bisakah Hyera melihatku? Memandangku walau hanya sepersekian detik?
Aku hanya ingin dia menatapku. Firasatku ternyata memang benar. Dia belum
tidur. Dia pasti lagi-lagi bersedih memikirkan Donghae.
Aku
sebenarnya tak berminat lagi membalas pesan Hyera. Kurasa dia pasti sedang
sibuk dengan pikirannya bersama Donghae. Entah kapan aku bisa masuk di hatinya…
walau hanya sebentar saja.
To :
ma chérie
Tidurlah,
Hyera….
Aku
menimang-nimang handphoneku. Aku tak bisa tidur. Ntah kenapa dadaku sesak. Ada
rasa tak rela. Meskipun dengan sangat sulit aku menata hatiku ketika tahu bahwa
Donghae lah pria yang selama ini selalu dinanti-nanti Hyera. Dan dengan sekejap
pula, Donghae, sahabat baikku itu pergi meninggalkanku demi gadis yang kucintai.
Dia rela mengorbankan dirinya, nyawanya, untuk gadis itu. Harusnya aku
berterima kasih padanya yang telah menitipkan gadis itu untuk kujaga. Tapi
kenapa justru sekarang aku tak rela? Kenapa aku tak rela kalau Hyera masih
mencintai Donghae? Aissh. Apa-apaan aku ini. Setidaknya kau harus berterima
kasih, Hyuk. Kau sudah diberi kesempatan oleh Donghae untuk memiliki Hyera,
meskipun semua ini hanya berjalan sebelah tangan. Ah, tidak. Ini semua hanya
angan-angan. Aku tak akan mampu menembus kulit hati Hyera. Aku tak bisaaa….
“Arrgghh…”
kuremas rambutku frustasi. Aku berjalan kea rah wastafel dan membasuh wajahku
di sana. Kutatap wajahku di cermin. Serawut wajah dengan rambut kekuningan
menatapku. Aku benci wajah itu. Aku benciiiii….. kenapa? Kenapa sebenarnya aku
ini?? Kuhempaskan tubuhku kuat di atas spring bed sehingga menimbulkan efek
pantulan di tubuhku. Aku tak mengerti. Aku sungguh tak mengerti. Pandanganku
beralih ke handphoneku. Kutatap layar yang masih seperti sedia kala. Tak ada
pesan masuk. Mungkin saja Hyera sudah tidur atau dia memang tak berkeinginan
untuk membalas pesanku. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke balkon, menghirup
udara malam.
Sebelah
kamarku memang kamar Hyera. Ingin rasanya aku menatap gadis itu sekarang.
Menatapnya yang sedang tertidur tenang. Melindunginya dari apapun.
Merengkuhnya… tapi itu sangat mustahil. Seandainya saja aku yang mendonorkan
jantungku, mungkin aku tak sesakit sekarang. Aku bisa melihat Hyera berbahagia
dengan Donghae dari atas sana. Aku masih bisa melihat senyuman gadis itu. Tapi
apa yang kuperbuat? Aku malah membiarkan Donghae mengorbankan jantungnya dan
Hyera kini bersamaku namun tidak dengan hatinya. Hhhh… kau memang tak ada
gunanya Lee Hyuk Jae…
Aku menatap
bintang di sana. Berharap Donghae melihat diriku di sini. Mengerti isi hatiku
dan bagaimana aku menjaga Hyera. Hyera…. Gadis itu sungguh membuatku gila. Aku
mengalihkan pandanganku kea rah balkon kamar Hyera. Sepertinya ada sesuatu yang
aneh. Itu …. tampaknya… seperti Hyera. Hyera?? Omoo… apa itu Hyera???? Aigoo…
dia tertidur di balkon! Aku baru sadar, ternyata itu memang Hyera.
“Hyera-ya…..
ireonna!! Apa kau sedang tertidur di balkon?” aku berteriak-teriak dari balkon
kamarku. Tak ada jawaban. Aish, pabo! Tentu saja Hyera tak mendengar. Dia bisa
masuk angin kalau semalaman tidur di balkon dengan posisi duduk seperti itu.
Aku bergegas keluar kamar dan menggedor-gedor kamar Hyera. “Hyera…. Bangunlah!!
Jangan tidur di balkon!!” Teriakku sedikit menaikkan volume suara. Tapi
sepertinya Hyera tak bergeming. Sepertinya gadis itu tak akan mendengar.
Mungkin ini satu-satunya cara. Aku bergegas turun ke lantai dasar dan kembali
berdiri di depan kamar Hyera. “Maafkan aku Hyera….” gumamku sebelum akhrinya
masuk ke kamar Hyera.
***
Hyera
POV
Aku
mengerjap-ngerjapkan mataku. Rasanya kepalaku berat sekali. Sinar matahari yang
bersemburat pucat menerobos celah-celah tirai jendelaku. Aku berusaha
menggerak-gerakkan kakiku. Tapi , kenapa ini? Seperti ada sesuatu yang
mengganjal. Kutegakkan badanku untuk memastikan apa yang sebenarnya ada di
bawah selimutku. GYAAAAAAA….. a-apa i-itu…?
“Tuan
Eunhyuk????? Kenapa Kau bisa ada di kamarku???!!!!”teriakku histeris. Ternyata
Eunhyuk tertidur di sisi ranjangku. Tatapanku masih lurus dan tak berkedip kea
rah Eunhyuk yang perlahan mulai sadar. Sebelumnya aku memeriksa kelengkapan
diriku takut-takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Aku masih shock
menemukannya tertidur di kamarku!
“Hoammh… khau
sudah bangunh Hyera?” ucap Eunhyuk tak jelas sambil mengusap-usap matanya.
“N-Ne…
ap-ap-apa yang tuan lakukan di sini?”tanyaku terbata. Berharap yang kudengar
adalah jawaban yang tidak mengerikan. Aku merapatkan selimutku hingga ke atas
leher.
Eunhyuk mulai
berdiri dan menggerak-gerakkan badannya. Dia tersenyum. Tapi justru saat itu
senyumannya terasa sangat mengerikan! Dia mendekat.
“”Yak! Tuan
Hyuk.” Aku bergidik ngeri.
Eunhyuk malah
terkekeh dan mengacak rambutku.
“Kau tak
perlu takut Hyera. Aku tak mungkin berbuat macam-macam padamu. Semalam kau
tertidur di balkon. Untung saja aku melihatmu, jika tidak kau akan mati
kedinginan di luar sana. Akhirnya aku masuk ke kamarmu dan mengangkatmu ke
tempat tidur.”jelas Eunhyuk. Aku berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.
Benar saja, waktu itu kan aku sedang sms-an dengan Eunhyuk di balkon? Aissh, cerobohnya
aku sampai-sampai tertidur di sana
“Lalu kenapa
kau tak membangunkanku?”tanyaku balik
“Sudah cukup
aku meneriakimu, mon cherri… tapi kau tak bergeming. Kurasa kau itu tidur
mati.” Eunhyuk lagi-lagi terkekeh. Membuat wajahku semakin mengepul merah.
“Umm.. kalau
begitu jeongmal gomawo, oppa…”ucapku menunduk. Tak mau Eunhyuk tahu kalau aku
sedang tersipu malu. Tapi, kenapa tiba-tiba aku memanggilnya Oppa? Aneh sekali
mengucapkan kalimat itu. Aku tak biasanya memanggilnya oppa.
Eunhyuk
tersenyum sangat lebar.
“Ne…ne…ne…
tapi sebagai balas budi telah menyelamatkanmu, kau harus menuruti
permintaanku.” Titahnya.
Aku terkejut.
Dengan segera kudongakkan kepalaku menatapnya.
“Mwo???”
“Haha… kau
tak perlu histeris seperti itu. Aku tak mungkin minta yang aneh-aneh. Aku hanya
ingin kau menemaniku jalan-jalan di Paris hari ini, otte?”
Aku masih
membelalakkan mataku, juga mulutku. Masih tak percaya.
“Aissh, kau
ini. Baiklah. Kutunggu satu jam lagi. Jam 10 kita akan sarapan di Resto. Lalu
kita akan pergi dan memulai perjalanan hari ini menuju Menara Eiffel. Arasseo
chagi-ya?”ucap Eunhyuk tersenyum lebar kemudian melenggang keluar dari kamarku.
Meninggalkanku yang masih terheran-heran dan shock dengan kejadian pagi ini.
***
Hufffhhh…
Melelahkan
sekali ternyata. Seharian ini aku diajak Eunhyuk berjalan-jalan hingga ke sudut
kota Paris. Aku sampai lupa waktu. Kutatap arlojiku yang sudah menunjukkan
pukul 22.00. Aigoo… yang benar saja. Kami sudah menjelajahi kota Paris selama
12 jam. Dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Hhh… pantas saja aku merasa sangat
lelah. Aku kembali mengingat-ingat urutan tempat yang kami kunjungi sambil
menunggu Eunhyuk datang. Dia sedang pergi ke café di seberang jalan membelikan
sandwich. Aku lebih memilih duduk di bangku taman saja. Benar-benar melelahkan
sampai rasanya berjalan saja aku enggan. Pertama kali kami mengunjungi Menara
Eiffel, lalu Arc de Triomphe, Air Mancur Wallace, Disneyland Resort Paris,
Palce des Vosges, dan masih banyak lagi. Aku lupa namanya, yang pasti
belum semua tempat-tempat menarik kami datangi, hanya beberapa tempat yang
terkenal saja. Barusan kami mengunjungi Musee de Louvre, salah satu museum seni
terbesar di dunia. Aku benar-benar merasa senang hari ini. Senaaaaaaang sekali
meskipun rasanya lelah. Aku merapatkan mantelku. Udara malam yang dingin
sedikit menjalari tulangku. Ditambah sekarang sedang akhir musim gugur yang
menandakan sebentar lagi akan datangnya musim salju. Aku kembali memandang ke
seberang jalan raya yang sangat ramai. Ke mana Eunhuk? Kenapa membeli sandwich
saja lama sekali? Aku mulai menghentak-hentakkan kakiku tak sabar. Udara di
sini bertambah dingin. Seharusnya jam setengah sebelas kami harus sudah sampai
di Champ Elysee, kawasan tempat apartemen Eunhyuk.
Mataku awas
menanti sosok Eunhyuk yang tak kunjung datang. Tapi tiba-tiba mataku terpaku
pada sosok yang baru saja keluar dari sebuah pub kecil di sana. Sosok itu….
Sosok itu berjalan tertatih menopang gadis di sebelahnya. Sepertinya gadis itu
sedang mabuk. Sosok itu terus berjalan menerobos ramainya orang-orang yang
berlalu-lalang. Mataku tak sabar hanya memandang sosok itu. Butiran salju mulai
turun. Aku tak menghiraukan dingin yang kurasa.. Sosok itu…. Tak salah
lagi. Aku harus mengejarnya. Ya, pria itu…. Aku harus bertemu dengannya.
Aku beranjak
dari bangkuku dan berlari menyusul pria itu….
“Donghaeee…..!!!!”teriakku
sambil terus berlari. Pria itu tak menghiraukanku. Aku terus berlari meski
kurasa lelah.
“Donghae….
Chakkaman….!!! Jangan pergi!”teriakku semakin membabibuta. Kali ini Donghae tak
boleh pergi! Donghae harus kembali padaku.
“Donghae…
kumohon berhenti…!”teriakkanku melemah. Tak kuhiraukan orang-orang yang heran
melihatku berteriak-teriak dalam bahasa yang tak mereka mengerti. Aku harus
bisa! Aku harus bertemu dengannya. Jantungku tiba-tiba berdegup hebat. Aku tak
mampu mengontrol tubuhku yang tiba-tiba seperti ini. Aku berusaha
menyeimbangkan diri, tapi rasanya diriku begitu lemah. Lemah sekali…. Hingga
akhirnya….
BRUKKK!!!!
***
“Kau sudah
sadar?”tanya Eunhyuk pertama kali ketika aku membuka kelopak mata. Di mana lagi
ini?
“Apa yang
terjadi?”aku malah balik bertanya. Aku berusaha mengingat-ingat. Akhir-akhir
ini aku sering lupa apa-apa saja yang baru kulakukan. Ternyata aku baru sadar,
sekarang aku ada di kamarku sendiri.
“Semalam kau
pingsan. Seharusnya aku tak meninggalkanmu di bangku taman sendiri. Maafkan aku
terlalu lama pergi, ada urusan mendesak yang tiba-tiba harus kuselesaikan”tutur
Eunhyuk dengan nada bersalah. Dia menatapku khawatir.
Ya, aku
memang pingsan semalam. Aku terlalu lelah ditambah cuaca sangat dingin. Aku
mengernyitkan keningku berusaha mengingat-ingat sesuatu. Donghae! Aku mengejar
Donghae semalam!
“Di mana
Donghae?!”tanyaku tiba-tiba. “Apakah kau bertemu dengannya semalam? Eunhyuk,
katakan padaku, kau bertemu dengan Donghae kan semalam? Kau pasti melihatnya
keluar dari pub di samping café itu!”rentetku tanpa jeda. Harapanku tiba-tiba
membuncah. Berharap Enhyuk juga melihat Donghae. Ya, tidak salah lagi itu pasti
Donghae. Tapi respon yang kuterima dari Eunhyuk hanya berupa tatapan bingung.
“Donghae?”tanyanya
heran.
“Ne, Lee
Donghae. Aku melihatnya semalam. Aku pingsan karena mengejarnya.”ujarku
bersemangat.
Eunhyuk malah
menempelkan telapak tangannya di keningku. Aissh, aku tidak sedang mengigau
sekarang.
“Hyera,
sadarlah…. Donghae sudah mening…”
“Ne, ne, ne.
Jangan teruskan kalimat itu”potongku tak sabar. “Aku melihat Donghae keluar
dari pub memapah gadis mabuk di sebelahnya. Aku tak mungkin salah lihat atau
berimajinasi. Itu benar-benar nyata. Kalaupun itu hanyalah halusinasi Donghae,
untuk apa arwahnya membawa-bawa gadis mabuk segala?”jelasku serasional
mungkin.
Eunhyuk
terpekur di sofa. Mengalihkan tatapannya keluar jendela menatap bulir-bulir
salju yang turun perlahan. Baru kusadari suasana di luar sedikit memutih karena
salju yang turun semalaman.
“Kau mungkin
salah lihat. Di belahan dunia ini banyak yang memiliki rupa yang sama dengan
Donghae. Itu jelas tak mungkin Donghae, karena Donghae sudah meninggal…”kata
Eunhyuk menekankan pada kalimat terakhir.
Aku menghela
nafas mencerna kalimat yang barusan Eunhyuk katakan. Akhirnya aku memilih
menyerah. Mungkin saja yang dikatakan Eunhyuk benar. Aku saja yang terobsesi
pada Donghae. Jika dipikir-pikir itu memang benar. Mana mungkin Donghae hidup
kembali. Aku memejamkan mataku lagi. Meredam rasa sakit di dalam sana. Sakit
sekali. Sedih….
“Mianhae,
Hyera…”ucap Eunhyuk tersadar kalau sedari tadi aku hanya diam. “Aku tak
bermaksud menyakitimu dengan perkataanku tadi, tapi…. Aku hanya ingin kau
sadar. Sadarlah bahwa Donghae tak mungkin kembali…”ujar Eunhyuk yang justru
tambah membuatku sakit.
“Baiklah..”kataku
tak bersemangat.
Eunhyuk
melihat arlojinya kemudian beranjak mendekatiku.
“Sudah pukul
9. Maafkan aku tak bisa berlama-lama menemanimu, Hyera. Pagi ini aku ada
sedikit urusan. Ahjussi meminta bantuanku untuk proyek villa-nya. Aku akan
pulang sekitar pukul 5 sore. Istirahatlah dan jaga kesehatanmu, telfon aku
kalau terjadi apa-apa.”Eunhyuk mengakhiri kalimatnya dengan mengacak-acak
rambutku lembut. Kemudian pergi keluar dari kamarku. Aku hanya menatap
punggungnya yang perlahan menghilang di belokan koridor. Aku berbalik dan
hendak menutup pintu kamar.
“Kau masih
ingat nomor HP ku, kan?”
Aku terlonjak
kaget melihat Eunhyuk yang tiba-tiba muncul di depan wajahku.
“Hyak!
Eunhyuk. Kenapa kau kembali lagi?”aku benar-benar kaget
“Anni, aku
hanya ingin memastikan kalau kau masih menyimpan no HP ku.”Eunhyuk terkekeh.
“Ne, ne, ne.
Tenang saja aku masih ingat.” Aku mendorongnya keluar. “Cepat pergi!”kataku sok
mengusir.
Eunhyuk malah
tertawa-tawa. Aku melemparnya dengan bantal. “Baiklah, kau mau perang bantal
ya, nona? Tapi tunggu sebentar, aku ada urusan dulu. Bye chagi-ya…” Eunhyuk
melemparkan bantalku balik ke arahku, kemudian melesat berlari keluar
kamar. Suara tawanya masih menggema di sepanjang koridor. Aissh! Dasar namja
tak peka.
Aku mengunci
pintu. Kini aku sendirian di kamar. Pikiranku mulai bercabang-cabang. Terkadang
menggumam tak jelas . Aku bingung sendiri dengan perasaanku. Aku sebenarnya tak
ingin membuka hatiku untuk siapapun. Aku hanya ingin Donghae. Dia melebihi
apapun di dunia ini. Tapi kehadiran Eunhyuk di sisiku… itu membuatku sedikit
terhibur. Bahkan dia bisa menyita waktuku untuk tak memikirkan Donghae…
Tidak…. Tidak
boleh…! Aku menggelengkan kepalaku kuat. Berperang dengan batinku sendiri. Aku
tak boleh jatuh cinta padanya… tak boleh!!
Aku menatap
diriku frustasi di cermin. Bagaimana ini?
Akhirnya
kuputuskan untuk keluar apartemen setelah selesai berbenah diri. Aku ingin
membeli makanan di mini market dekat apartemen.
Aku
menimbang-nimbang kedua roti yang ada di tanganku. Bingung harus membeli yang
mana. Akhirnya kuputuskan membeli keduanya dan memasukkannya ke keranjang
belanjaan. Tapi sesuatu telah menabrakku dari belakang hingga aku sedikit
terdorong dan keranjangku berceceran.
“Je n'ai
pas accidentellement, désolé ,Mademoiselle”terdengar suara seorang pria
seperti sedang meminta maaf-aku menerka- karena aku tak mengerti bahasa
Prancis. Aku tak tahu harus bicara apa, jadi aku hanya diam dan membiarkannya
memunguti barang belanjaanku. Pria itu berbalik dan menyerahkan keranjangku
“Ce truc, désolé.”ucapnya lagi.
Aku tertegun.
Pria itu menatapku heran.
“Que
faites-vous, mademoiselle?”
Aku tercekat.
Ya Tuhan, kenapa aku kali ini berhalusinasi lagi? Tidak! Tidak! Aku sedang
berkhayal. Aku mencubit tanganku. Tidak! Tidak! Aku tak bermimpi. Ini nyata!
Mulutku tak
kuasa untuk tak memanggilnya.
“Donghae-ya?”aku
benar-benar terperangah. Pria di depanku sekarang mirip sekali dengan Donghae,
tak ada bedanya. Aku yakin ini pasti Donghae
Pria itu
menautkan alisnya. “Maaf, aku bukan Donghae, aghassi…”ujarnya dalam bahasa
korea. Aku semakin yakin kalau di depanku bukanlah arwah Donghae.
“Kau Donghae,
kan? Jangan bercanda. Kau pasti Donghae.”aku berusaha menguatkan hatiku untuk
tidak menangis. Tapi pria itu semakin heran. Kemudian dia tersenyum seolah
mengerti
“Aku bukan
Donghae, aghassi. Tapi aku kembarannya.”jelasnya. Beribu-ribu panah seperti
menohok jantungku. “Namaku Aiden.”katanya lagi. Kepalaku rasanya berputar-putar.
Pusing. Apa-apaan ini? Donghae punya kembaran? Tapi yang kutahu Donghae adalah
anak tunggal di keluarganya. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tanganku bergetar.
Mataku berkedut-kedut. Aku seperti masuk ke alam lain.
“Aghassi, kau
tak apa-apa?”pria yang mengaku kembaran Donghae itu mulai khawatir melihat
ekspresiku.
“c'est
quoi, ma chérie ? ?”suara wanita dari seberang mulai mendekat
kea rah kami.
Aku tak
mendengar apa yang mereka bicarakan dalam bahasa Prancis. Aku benar-benar
terguncang. Dadaku lagi-lagi sakit. Sesuatu di dalam sana berdenyut sangat
hebat. Penglihatanku buram. Aku tak mampu bertahan lagi….
***
Lagi, dan
lagi.
Aku berada di
posisi lemah seperti ini. Baru 3 hari di Paris aku sudah 2 kali pingsan.
Dan sekarang aku berada di ruangan serba putih dengan jarum infus menempel di
tanganku. Ada apa lagi dengan jantungku? Aku mencoba menggerak-gerak kaki dan
tanganku. Rasanya lemas sekali.
“Syukurlah
kau sudah sadar.” Terdengar suara wanita yang sama kudengar di mini market
tadi.
Wanita itu
menghampiriku. Ternyata dia juga bisa berbahasa korea. “Kau tak apa-apa?”tanya
wanita itu lagi. Aku mengangguk, meyakinkan dirinya bahwa tak ada yang perlu
dikhawatirkan dengan kondisiku.
“Tadi dokter
mengatakan bahwa kondisi tubuhmu belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru
di Paris. Kau pasti baru pertama kali ke Paris ya?”tanya wanita itu lagi. Aku
tersenyum lemah.
“Oh, ya. Aku
lupa. Namaku Jessica”wanita itu memperkenalkan dirinya.
“Song Hyera
imnida”balasku. Mataku menjelajahi setiap sudut ruangan, mencari sosok yang
mirip dengan Donghae.
“Kau mencari
Aiden?”tanya Jessica seolah mengerti apa maksudku.
“N-ne…”
“Dia sedang
keluar, membeli makanan”ujar Jessica. Tampak raut tak senang dari wajahnya.
“Aku tak
bermaksud apa-apa. Hanya saja dia mirip sekali dengan kekasihku”terangku.
Jessica
menatapku lekat-lekat.
“Aiden memang
punya kembaran, kalau tak salah namanya Donghae. Tapi Donghae tinggal bersama
orangtuanya di Seoul. Sedangkan Aiden lebih memilih tinggal bersama kakek dan
neneknya di Paris. Mereka tak pernah cocok satu sama lain.”jelas Jessica
panjang lebar. Aku heran, kenapa gadis itu tau segala hal yang berhubungan
dengan mereka.
“Aku…
kekasihnya Aiden.”Jessica berbicara lagi tanpa kutanya. Sepertinya dia
lagi-lagi tahu apa yang sedang kupikirkan. Ternyata Jessica kekasihnya Aiden.
Mungkin saja wanita yang kulihat keluar dari pub bersama laki-laki yang mirip
Donghae itu adalah Jessica. Tapi sudahlah, untuk apa aku kecewa. Lagipula pria
itu bukan Donghae, tapi kembarannya. Tapi kenapa aku tak tahu masalah ini?
Kenapa aku tak tahu kalau Donghae punya kembaran?
Aku berusaha
bangkit dan merogoh kantong mantelku yang tergeletak di kursi. Aissh! Aku lupa.
HP ku di kamar. Aku tak bisa menghubungi Eunhyuk.
“Gomawo, kau
dan Aiden telah menolongku. Tapi sebaiknya aku harus pulang sekarang.”ujarku
pada Jessica yang memperhatikan gerak-gerikku.
“Ne, cheonma…
Kau tinggal di mana? Mungkin kami bisa mengantarkanmu”tawarnya. Baguslah,
setidaknya gadis itu mengerti maksudku mengucapkan kalimat tadi.
“Aku tinggal
di kawasan Champ Elysee. Aku tak tahu nama jalannya, tapi aku tahu letak
apartemen tempat aku tinggal, tak jauh dari mini market tadi.”jawabku sambil
berbenah.
“Baiklah,
tapi kau yakin sudah baikan?”tanyanya memastikan
“Ne.”jawabku
seadanya.
Terdengar derit
pintu terbuka. Kulihat Donghae, ah maksudku Aiden masuk ke dalam sambil
menjinjing plastik belanjaan. Sepertinya dia tercengang melihatku.
“Kau yakin
sudah sembuh, nona?”tanyanya khawatir melihatku sudah bersiap untuk pulang.
“Aku sudah
baikkan. Temanku akan mengkhawatirkanku jika aku tak ada di apartemen sekarang.
Sudah hampir pukul 5, dia akan pulang”kataku.
Akhirnya
Jessica dan Aiden mengantarkanku pulang. Biaya rumah sakit dibiayai oleh
Aiden meskipun aku bersikeras untuk membayarnya sendiri. Dan sekarang aku sudah
berada di kursi belakang mobil mewah Aiden, sementara Jessica duduk di samping
kemudi. Aku berusaha menenangkan pikiranku bahwa yang di depanku itu bukan
Donghae, tapi Aiden. Donghae dan Aiden berbeda meskipun wajah mereka sama. Hati
mereka tak sama. Tapi rasanya aku tak rela melihat Jessica bergelayutan manja
di lengan Aiden di depan mataku! Ahh… aku ini. Wajar saja, mereka itu sepasang
kekasih.
Aiden sedikit
menambahkan kecepatan mobilnya. Aku memandang wajahnya dari kaca depan. Aiden
memang benar-benar mirip Donghae. sangat mirip. Mereka kembar identik. Apakah
dia tahu bahwa aku kekasih Donghae? Apakah dia tahu bahwa kembarannya telah
merelakan hidupnya untuk gadis sepertiku? Pikiranku mulai berkecamuk.
“Oh ya, siapa
namamu? Kita belum sempat berkenalan.”tanya Aiden menyadari sedari tadi aku
hanya diam.
“Song Hyera
imnida.”jawabku
“Song Hyera??
Sepertinya nama yang tak asing?”Aiden berkomentar sambil sibuk
menggerak-gerakkan stir mobilnya. Aku hanya diam
“Jadi, kau
baru pertama kali ke Paris?”tanyanya lagi sambil melihat bayanganku dari kaca
depan. Mata kami bertemu. Tidak! Tidak! Mata itu, tatapan itu. Itu semua
mengingatkanku pada Donghae.
“Ne”jawabku
datar. Aku tak sanggup memandangnya. Aku benar-benar tak rela melihatnya
bersama Jessica!
Aku menghela
nafas dalam. Sepertinya air mataku sebentar lagi akan meluncur.
“Baiklah,
sudah sampai nona. Benarkan ini apartemennya?” Aiden menepikan mobilnya di
depan apartemen Eunhyuk. Kulihat Eunhyuk sedang sibuk di depan sana. Sepertinya
dia mencariku. Wajahnya cemas. Aku segera turun dengan membawa belanjaanku
tadi. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada Aiden dan Jessica. Eunhyuk menatapku
dengan tatapan mengerikan. Kuyakin, pasti mulutnya akan menyemburkan berbagai
rentetetan pertanyaan yang akan dilontarkan tanpa jeda.
“Hyak!
Hyera-ya, dari mana saja kau? Kenapa kau tak membawa ponselmu? Kau ingin
membuatku mati, hah? Sudah kukatakan untuk istirahat saja, jangan pergi
jauh-jauh. Aku sudah seperti kehilangan sebelah nyawa mengetahui kau tak ada di
apartemen. Lihat, sekarang kau malah pergi dengan orang asing. Kemana saja kau
dari tadi, Hyera?”
Benar kan,
dia merecoki dengan berbagai pertanyaan yang membuatku bingung harus mulai
menjawab dari mana. Kulihat Aiden tersenyum mendengar ocehan Eunhyuk. Eunhyuk
mengira bahwa mereka orang asing dan tak mengerti bahasa Korea. Akhirnya Aiden
turun dari mobil dan menjelaskan semuanya.
Bisa
kupastikan Eunhyuk akan ternganga melihat Aiden. Tapi aku sedang malas dan
sedih. Aku juga kecewa. Aku tak tahu apa alasanku kecewa. Tapi aku sangat
kecewa. Akhirnya aku meninggalkan mereka berdua dan memilih masuk ke kamar dan
berdiri di balkon. Memandang Eunhyuk yang sedang berbicara pada Aiden. Menatap
kepergian Aiden, sosok yang sangat mirip dengan kekasihku melesat meninggalkan
apartemen ini bersama wanita lain yang bukan diriku….
Kapan lagi
aku bisa bertemu dengannya??
Eunhyuk masuk
dengan wajah ditekuk. Jelas sekali dia kesal dan juga cemas karena kepergianku.
Tapi apa boleh buat, aku juga tak meminta untuk pingsan tiba-tiba di tempat
umum seperti itu.
“Ternyata dia
kembaran Donghae…”ucapnya lirih.
“Ne, dia
sangat mirip dengan Donghae…”kataku datar. Air mataku tak bisa dikompromi lagi
kali ini. Mataku basah.
“Hyera… dia
memang mirip Donghae, tapi dia bukan Donghae” Eunhyuk menghampiriku. Dia
mendekapku di dadanya. “Hyera… maafkan aku….”
“Kau tak
perlu minta maaf. Kau sudah terlalu baik padaku. Aku saja yang belum bisa
menerima kenyataan ini.”aku semakin terisak.
Eunhyuk mendekapku
semakin dalam.
“Aku
mencintai Donghae, aku tak akan bisa lepas dari bayangannya. Melihat Aiden yang
ternyata adalah kembaran Donghae membuat jantungku sakit. Aku tak bisa menerima
ini semua. Dia benar-benar sama. Mereka tak ada bedanya…..!!!”aku mulai
berteriak-teriak frustasi.
“Aku
mencintaimu, Hyera…. Jeongmal Saranghae….”bisik Eunhyuk
“Aku tak tahu
bagaimana caranya membuka hatiku, Eunhyuk… aku tak tahu….?” aku mulai tak mampu
mengontrol emosi. perasaanku benar-benar kalut. Bagaimana tidak, aku tak pernah
tahu Donghae punya saudara kembar. dan mereka kembar identik! Di saat aku
sangat merindukan Donghae dan merasa bersalah atas jantung yang diberikannya
padaku, aku bertemu kembaran yang benar-benar sama dengannya bersama wanita
lain. Aku tak bisa berpikir rasional! di mataku, baik itu Aiden lah, atau apa
lah, tapi dia benar-benar sama bahkan tak ada beda dengan Donghae.... Bagiku
dia Donghae
“Kau bisa
memulainya dari sekarang. Kau bisa memandangku di sini. Dan mencoba
menerimaku.”yakin Eunhyuk
“Aku tak
tahu…” jawabku lemas. “Bawa aku pulang ke Seoul… aku tak mau berlama-lama di
sini. Ini akan membuatku semakin sakit.”pintaku pada Eunhyuk.
Eunhyuk
menatapku nanar.
-To
Be Continued-
Eotteohke?
Eotteohke?
Hehehe,,,,
mian banget kalo FF nya jelek, nggak nyambung, atau gimanaaaa gitu. waktu
bikinin FF ini author lagi kesengsem ama Hyukppa,,, #plakk! Tapi buat endingnya
belum tahu pasti. Tergantung moodnya lagi seneng ama siapa, kekeke… Nantikan
endingnya…… jeng-jeng….di The True Heart #Part2-End. Wokeh…?
Tolong Like
and Comment nya…. ya ^_^

0 komentar:
Posting Komentar