Sabtu, 28 Januari 2012

The True Heart (Dwilogi of Heartbeat) #1


Annyeong… (n_n)
Author muncul lagi, nih. Kemarin udah baca FF “Heartbeat” belum? Nah, kali ini author bawa FF kelanjutan dari “Heartbeat”. Jadinya author bikin Dwilogi of Heartbeat, deh. Hehe…

Title                 :           The True Heart (Dwilogi of Heartbeat) #Part 1
Author             :           Riani Charlina (Song Hye Ra)
Main Casts      :           Song Hyera, Eunhyuk, Aiden, Jessica (SNSD)
Genre              :           Romance
Length             :           two shoots


Hari ini berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Aku masih saja berkutat di bagian dapur, membuat berbagai macam roti. Aku menghembuskan nafas dalam-dalam. Mencoba menjalani hari ini seperti tanpa masalah. Namun lagi-lagi usahaku nihil. Masih saja pikiranku melayang mengingat Donghae. Rasanya hati ini belum bisa menerima kepergiannya. Kejadian ini benar-benar terlalu cepat terjadi. Baru sekejap aku bertemu dengannya, dan sekejap pula aku harus kehilangannya kembali. Kurasakan denyut jantungku berdegup. Jantung ini…. Nyawa ini… Nafas ini…
Kenapa aku merasa benar-benar rapuh? Bahkan lebih rapuh sekalipun ketika aku masih menderita jantung kronis. Sudahlah, Hyera. Hentikan tangismu. Kau sudah cukup menghabiskan air matamu. Berhentilah, dan hadapi hari esok. Aku menyeka air mata yang tanpa permisi mengalir begitu saja dari lingkar mataku.
Kudengar suara pintu berderit. Pasti Eunhyuk baru datang. Sudah terlihat dari kelebat bayangannya.
“Hmm… roti apa yang kau buat hari ini, nona? Kelihatannya enak” ucapnya spontan.
Aku menunduk, sibuk mengaduk adonan roti yang hendak kubuat. Tapi sebenarnya aku lebih tak ingin menatapnya. Aku tak ingin dia tahu bahwa aku baru saja menangis. Lagi!
Aku merasakan Eunhyuk masih memperhatikanku atas kediamanku.
“Kau sakit?”tanyanya.
“Anni.”jawabku singkat. Masih menunduk tak berani menatapnya.
“Waeyo? Kulihat sepertinya kau tak berminat menatapku. Apakah tampangku mengerikan hari ini?”
Apa? Mengerikan? Hmm… Aku rasa setiap hari dia selalu saja mengerikan. Untuk yang ini aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menyunggingkan senyum. Akhirnya kuberanikan melihat wajah Eunhyuk.
“Yak! Eunhyuk-ssi?” aku terkejut. “Kenapa kau…? Umh.. kk kenapa… HAHAHA…..!!” aku tergelak. Belum sampai aku menyelesaikan kalimatku, tawaku sudah pecah duluan. Kutatap lekat-lekat Eunhyuk. Tawaku semakin menjadi-jadi. Yang benar saja? Pemilik Roti Bakery satu ini memang tidak peka. Bisa-bisanya dia pergi kemari masih dengan memakai masker di wajahnya? Omo… namja ini sudah tidak waras.
“Waeyo?”tanyanya innocent sambil menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.
“Kau ingin ikut pesta Hallowen ya? Wajahmu itu….!? GYAHAHA” Aku menahan perutku. Lucu sekali. Bisa dibayangkan wajah Eunhyuk yang memakai masker dan berpura-pura innocent. Oh tidak. Ada yang harus kuralat. Sepertinya bukan lucu. Tapi tepatnya, mengerikan. Ummm… tidak-tidak, dia memang lucu tapi juga mengerikan. Aigooo.. Kepalaku rasanya mau lepas karena tertawa
“Mwo?” dia malah membulatkan mulutnya, kemudian tersenyum.
“Aku senang, akhirnya kau bisa tertawa juga.” ucapnya sambil beralih menuju wastafel dan membasuh wajahnya yang putih.
Hah, benar saja. Sudah lama tidak kurasakan bibirku tertarik sangat lebar. Baru kali ini aku merasa bisa tertawa lepas lagi. Semenjak kepergiannya, aku merasa duniaku suram dan tak ada kesempatan untuk tertawa atau menertawakan hal-hal yang patut ditertawakan. Tapi terserahlah, kali ini kurasakan sedikit senang.
Eunhyuk sekarang sudah tampil seperti biasanya. Tidak ada embel-embel masker lagi di wajahnya. Tawaku sedikit mereda. Dia lagi-lagi menatapku.
“Syukurlah. Ternyata dugaanku salah” katanya dengan mimik serius.
“Mwo?! Apa maksudnya?” tanyaku tak mengerti.
“Yahh… kupikir kau sudah mati rasa, tak bisa lagi tertawa. Karena kerjaanmu selalu saja menangis. Tapi syukurlah, aku sangat senang melihatmu tertawa, Hyera.”jawabnya. Aku terdiam…
“Hyera-ya… kuharap kau bisa melupakan masa lalumu. Maaf  jika aku terlihat sedikit ikut campur. Aku tahu itu memang hal yang sangat sulit kau lakukan, tapi aku selalu berusaha membuatmu kembali. Kembali ke duniamu sekarang, Hyera….”Eunhyuk menggenggam tanganku. Aku kembali menunduk. Semakin erat dia menggenggam jemariku semakin dalam sakit yang kurasa.
“Donghae merelakan hidupnya agar kau bisa bahagia lagi. Bukan untuk membuatmu menyendiri seperti ini. Kau tahu, aku sakit setiap melihatmu seperti ini. Aku ingin kau memandangku, Hyera. Aku ingin kau membuka matamu untukku.” Lanjut Eunhyuk. Kata-kata itu meluncur dengan mulus dari mulutnya.

Kali ini aku tak bisa berpura-pura lagi. Air mataku langsung tumpah tanpa bisa dicegah. Aku benar-benar tak bisa bahkan tak ingin melupakan Donghae. Bagaimana bisa, Eunhyuk? Itu hal yang tak akan pernah bisa aku lakukan. Kalaupun bisa aku ingin mencopot jantungku ini, daripada harus hidup dengan penuh kesedihan.

Kurasakan tangan Eunhyuk dengan lembut mengusap air mataku. Aku menunduk semakin dalam, tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“Aku ingin mengajakmu ke Paris.” Ucapnya tiba-tiba.
“Mwo?!”aku mengangkat kepalaku, menatapnya dengan penuh keterkejutan. “Yang benar saja? Ke Paris?” tanyaku shock. Aku menatapnya dengan air muka tak percaya. Tapi sedetik kemudian aku baru tersadar. Aish! Pasti Eunhyuk bercanda. Dia pasti ingin membuatku berhenti menangis.
“Aku tak bercanda.” Ujarnya seperti mampu menebak isi pikiranku. “Aku sungguh-sungguh.” Ulangnya lagi.
Dia kembali menyeka air mataku yang menggantung di sudut mata.
“Aku sungguh-sungguh. Kali ini ikutlah denganku. Aku ingin mengajakmu berlibur ke Paris.”tuturnya. Dia menatapku dalam. “Aku ingin kau melupakan sejenak kesedihanmu, Hyera.”
Kurasakan genggamannya semakin erat. Entah mengapa hatiku jadi galau.
“Sudah kuatur semua ini. Tak ada yang perlu kau permasalahkan. Aku hanya ingin kau ikut bersamaku ke Paris…” ucapnya setengah memohon.
“Tapi… aku….”
“Kumohon, Hyera. Kali ini kabulkan permintaanku. Aku bisa memahami jika kau tetap tidak mampu melupakan Donghae.
Hatiku galau. Benar-benar galau. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba….
“Kumohon….”pinta Eunhyuk lagi.
Aku berpikir sejenak. Mencoba mencerna apa saja yang telah dikatakan Eunhyuk. Apakah ini terdengar seperti lelucon? Ntahlah, tapi semakin aku mencoba berpikir yang kutemukan hanya kegalauan.
“Baiklah….”
…….
…….
…….
1 detik
2 detik
3 detik

Mwo?! Apa tadi yang kukatakan? Baiklah?? Apa tadi yang keluar dari mulutku seperti kata-kata persetujuan? Hah, kenapa kata itu bisa dengan sendirinya keluar dari mulutku? Kenapa aku bisa menyetujuinya? Dan sekarang bisa terlihat jelas di mataku bahwa Eunhyuk sedang lonjak-lonjak kegirangan. Namja ini terlihat sangat liar. Untung saja pegawai lainnya sedang sibuk dengan kerjaan masing-masing. Jadi mereka tidak akan terkejut melihat tingkah atasannya yang ternyata ‘seperti itu’. Dan rotiku? Oh… gara-gara Eunhyuk aku belum juga menyelesaikan rotiku yang satu ini. Kurasakan bibirku kembali tertarik. Aku tersenyum…. Dan kali ini aku merasa waktuku untuk memikirkan Donghae tersita untuk Eunhyuk…
                                                                ***

Aku sungguh tak percaya! Sekali lagi kuulangi, aku sungguh-sungguh tak percaya! Aku ada di Paris? Dan aku pergi bersama atasanku? Aish, kenapa ini terdengar seperti sebuah perselingkuhan??
Aku melihat Eunhyuk yang berdiri gagah di sampingku. Baru kusadari bahwa terenyata ia sedikit-agak-tampan. Aish, apa-apaan aku ini. Kenapa sekarang malah memuji-muji Eunhyuk?
“Yak! Kenapa kau menatapku seperti itu?” tiba-tiba Eunhyuk menoleh ke arahku.
“Anni” gelengku cepat. Omo… aku kaget sekali karena ketahuan sedang menatapnya. Kujamin wajahku sekarang pasti memerah seperti kepiting rebus. Eunhyuk malah tersenyum tak jelas. Aku yakin, pasti namja itu mengira aku sedang memperhatikannya.
 Aku dan Eunhyuk sama-sama terdiam. Kami sedang menunggu jemputan ahjussi-nya Eunhyuk di Charles de Gaulle Airport. Kata Eunhyuk kami akan menginap di apartement milik keluarga mereka. Awalnya aku sempat merasa tidak enak dengan Yooeun. Di antara semua pegawai hanya Yooeun yang tahu pasti mengenai perihal kepergianku dengan Eunhyuk ke Paris. Eunhyuk berdalih bahwa aku disuruhnya mengikuti trainee dengan menjadi asisten koki di resto milik pamannya. Yooeun tahu yang sebenarnya karena ia  tak sengaja mendengar pembicaraanku dengan Eunhyuk  ketika di dapur. Tapi aku yakin, gadis itu pasti bisa menjaga rahasia. Hufft… kenapa aku jadi merasa bersalah? Akhir-akhir ini aku malah jarang memikirkan Donghae? Tidak, tidak boleh. Posisi Donghae tak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Bahkan Eunhyuk sekalipun. Meskipun dia sudah terang-terangan menyatakan cintanya padaku.
“Hyera-ya, kau mau tetap tinggal di bandara, ya?”Eunhyuk menggoyang-goyangkan tangannya di depan mataku. Aku baru tersadar, paman Eunhyuk sudah datang. Ternyata dari tadi aku sibuk dengan pikiranku yang tidak jelas. Dengan cekatan Eunhyuk membawa koperku dan aku mengikutinya dari belakang. Aku tersenyum pada paman Eunhyuk. Kudengar Eunhyuk dan pamannya berkomunikasi dalam bahasa Prancis yang sama sekali tidak aku mengerti. Pamannya menatap ke arahku, tersenyum kepada Eunhyuk dan menagguk-anggukkan kepalanya senang. Entah apa yang dibicarakan Eunhyuk. Yang terdengar di telingaku malah seperti dengungan suara lebah.
Selama perjalanan aku hanya diam. Eunhyuk sepertinya asyik sekali bercerita dengan ahjussinya. Hal lain yang membuatku diam karena aku tak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Aku hanya memandangi suasana Paris yang mewah. Menghela nafas. Memejamkan mata. Kemudian kembali memandang suasana kota dari jendela mobil. Terus kulakukan berulang-ulang. Ekor mataku menangkap Eunhyuk yang sekilas mencuri pandang ke arahku.
“Kalian tadi bicara apa?”tanyaku penasaran setelah kami tiba di apartement. Kamar kami bersebelahan.
vous êtes très jolie et je vous aime beaucoup. (kamu sangat cantik, dan aku benar-benar menyukaimu)”jawab Eunhyuk dalam bahasa Prancis
“Omona… aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, oppa” gerutuku.
Eunhyuk terkekeh. Dia menepuk-nepuk kepalaku.
Kami kemudian berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Langsung kuhempaskan tubuhkan di atas spring bed. Ruangan kamar ini didesain klasik. Aku sangat menyukai suasananya yang menenangkan. Kupejamkan mataku dan mengingat semua kilas balik yang kualami. Aku merindukan Donghae… Aku sangat sangat merindukannya. Kurasakan denyut jantungku berdetak. Kunikmati setiap ritme detakannya. Aku merasakan Donghae. Aku merasakannya benar-benar dekat dengan diriku. Benar-benar dekat, sampai-sampai aku merasa dia benar-benar ada di sampingku.
####

Malam pertama di Paris.
Aku masih belum bisa memejamkan mataku. Aku membolak-balikkan badanku. Membuka tutup selimut. Keluar masuk kamar mandi. Mencuci muka berkali-kali. Aish! Kenapa aku jadi kampungan seperti ini? Oke-oke, aku memang baru pertama kali ke Paris, dan ini juga kali pertamanya aku berada bahkan tidur di apartemen elit seperti ini. Tapi kurasa bukan ini yang menyebabkan aku tak bisa tidur. Ada hal lain yang bergejolak di dadaku. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Tapi mataku masih saja stand by terjaga. Akhirnya kuputuskan untuk keluar ke balkon. Melihat suasana kota Paris yang tak pernah tidur. Diluar sana lampu berkelap-kelip. Suara deruman mobil saling beradu satu-sama lain. Tapi ntah kenapa, aku justru merasa sunyi… aku rindu Donghae…. Aku ingin melihat Donghae…
Akhirnya kuputuskan untuk berselonjor dan menyender di dekat dinding. Aku ingin menghabiskan malam ini dengan duduk di dekat balkon. Merasakan desauan angin malam yang mengantarkan kerinduanku pada Donghae. Kutatap layar ponselku. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.20. Tapi aku masih tak bergeming. Tiba-tiba ada pesan masuk. Dari Eunhyuk??

From : Eunhyuk
bonne nuit ma chérie
Eunhyuk belum tidur? Apa yang dia lakukan hingga larut malam seperti ini? Dengan cekatan aku menekan keypad ponselku.

Belum tidur?? Aku tak mengerti apa yang barusan kau katakan, Eunhyuk-ssi.

Tak berapa lama Eunhyuk mengirimkan pesan lagi.

From : Eunhyuk
Aku tak bisa memejamkan mata. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tidur padamu. Kau belum tidur juga? Tidurlah Hyera, kau pasti sangat lelah hari ini.

Aku menghela nafas. Kembali kubalas pesan Eunhyuk
Aku juga tidak bisa tidur. Banyak yang ingin kupikirkan.

From : Eunhyuk
Apa yang kau pikirkan? Sudahlah. Untuk malam ini berhenti dulu memikirkanku. Besok-besok bisa dilanjutkan. Istirahatlah dulu…

Apa? Eunhyuk ini, siapa juga yang memikirkannya.

Ne, aku memang memikirkanmu. Aku bingung, kenapa kau itu sangat aneh!

From :Eunhyuk
Ne, ne, ne. Aku sudah tahu itu. Kau pasti sudah mulai jatuh cinta padaku bukan?

Omo…omo… omo…
Sepertinya Eunhyuk lupa membawa obatnya di Seoul. Kenapa kenarsisannya tiba-tiba meningkat drastis? Aku menekan-nekan keypad ponsel kemudian menekan tombol send.
Aku memikirkan Donghae…

Eunhyuk POV
Aku membuka pesan dari Hyera

ma chérie :
Aku memikirkan Donghae…

Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku sudah biasa sakit seperti ini. Kenapa Hyera begitu mencintai Donghae? Tapi itu wajar. Karena perngobanan Donghae padanya sangat besar. Tapi bisakah Hyera melihatku? Memandangku walau hanya sepersekian detik? Aku hanya ingin dia menatapku. Firasatku ternyata memang benar. Dia belum tidur. Dia pasti lagi-lagi bersedih memikirkan Donghae.
Aku sebenarnya tak berminat lagi membalas pesan Hyera. Kurasa dia pasti sedang sibuk dengan pikirannya bersama Donghae. Entah kapan aku bisa masuk di hatinya… walau hanya sebentar saja.

To : ma chérie  
Tidurlah, Hyera….

Aku menimang-nimang handphoneku. Aku tak bisa tidur. Ntah kenapa dadaku sesak. Ada rasa tak rela. Meskipun dengan sangat sulit aku menata hatiku ketika tahu bahwa Donghae lah pria yang selama ini selalu dinanti-nanti Hyera. Dan dengan sekejap pula, Donghae, sahabat baikku itu pergi meninggalkanku demi gadis yang kucintai. Dia rela mengorbankan dirinya, nyawanya, untuk gadis itu. Harusnya aku berterima kasih padanya yang telah menitipkan gadis itu untuk kujaga. Tapi kenapa justru sekarang aku tak rela? Kenapa aku tak rela kalau Hyera masih mencintai Donghae? Aissh. Apa-apaan aku ini. Setidaknya kau harus berterima kasih, Hyuk. Kau sudah diberi kesempatan oleh Donghae untuk memiliki Hyera, meskipun semua ini hanya berjalan sebelah tangan. Ah, tidak. Ini semua hanya angan-angan. Aku tak akan mampu menembus kulit hati Hyera. Aku tak bisaaa….
“Arrgghh…” kuremas rambutku frustasi. Aku berjalan kea rah wastafel dan membasuh wajahku di sana. Kutatap wajahku di cermin. Serawut wajah dengan rambut kekuningan menatapku. Aku benci wajah itu. Aku benciiiii….. kenapa? Kenapa sebenarnya aku ini?? Kuhempaskan tubuhku kuat di atas spring bed sehingga menimbulkan efek pantulan di tubuhku. Aku tak mengerti. Aku sungguh tak mengerti. Pandanganku beralih ke handphoneku. Kutatap layar yang masih seperti sedia kala. Tak ada pesan masuk. Mungkin saja Hyera sudah tidur atau dia memang tak berkeinginan untuk membalas pesanku. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke balkon, menghirup udara malam.
Sebelah kamarku memang kamar Hyera. Ingin rasanya aku menatap gadis itu sekarang. Menatapnya yang sedang tertidur tenang. Melindunginya dari apapun. Merengkuhnya… tapi itu sangat mustahil. Seandainya saja aku yang mendonorkan jantungku, mungkin aku tak sesakit sekarang. Aku bisa melihat Hyera berbahagia dengan Donghae dari atas sana. Aku masih bisa melihat senyuman gadis itu. Tapi apa yang kuperbuat? Aku malah membiarkan Donghae mengorbankan jantungnya dan Hyera kini bersamaku namun tidak dengan hatinya. Hhhh… kau memang tak ada gunanya Lee Hyuk Jae…
Aku menatap bintang di sana. Berharap Donghae melihat diriku di sini. Mengerti isi hatiku dan bagaimana aku menjaga Hyera. Hyera…. Gadis itu sungguh membuatku gila. Aku mengalihkan pandanganku kea rah balkon kamar Hyera. Sepertinya ada sesuatu yang aneh. Itu …. tampaknya… seperti Hyera. Hyera?? Omoo… apa itu Hyera???? Aigoo… dia tertidur di balkon! Aku baru sadar, ternyata itu memang Hyera.
“Hyera-ya….. ireonna!! Apa kau sedang tertidur di balkon?” aku berteriak-teriak dari balkon kamarku. Tak ada jawaban. Aish, pabo! Tentu saja Hyera tak mendengar. Dia bisa masuk angin kalau semalaman tidur di balkon dengan posisi duduk seperti itu. Aku bergegas keluar kamar dan menggedor-gedor kamar Hyera. “Hyera…. Bangunlah!! Jangan tidur di balkon!!” Teriakku sedikit menaikkan volume suara. Tapi sepertinya Hyera tak bergeming. Sepertinya gadis itu tak akan mendengar. Mungkin ini satu-satunya cara. Aku bergegas turun ke lantai dasar dan kembali berdiri di depan kamar Hyera. “Maafkan aku Hyera….” gumamku sebelum akhrinya masuk ke kamar Hyera.
***

Hyera POV
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Rasanya kepalaku berat sekali. Sinar matahari yang bersemburat pucat menerobos celah-celah tirai jendelaku. Aku berusaha menggerak-gerakkan kakiku. Tapi , kenapa ini? Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Kutegakkan badanku untuk memastikan apa yang sebenarnya ada di bawah selimutku. GYAAAAAAA….. a-apa i-itu…?
“Tuan Eunhyuk????? Kenapa Kau bisa ada di kamarku???!!!!”teriakku histeris. Ternyata Eunhyuk tertidur di sisi ranjangku. Tatapanku masih lurus dan tak berkedip kea rah Eunhyuk yang perlahan mulai sadar. Sebelumnya aku memeriksa kelengkapan diriku takut-takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Aku masih shock menemukannya tertidur di kamarku!
“Hoammh… khau sudah bangunh Hyera?” ucap Eunhyuk tak jelas sambil mengusap-usap matanya.
“N-Ne… ap-ap-apa yang tuan lakukan di sini?”tanyaku terbata. Berharap yang kudengar adalah jawaban yang tidak mengerikan. Aku merapatkan selimutku hingga ke atas leher.
Eunhyuk mulai berdiri dan menggerak-gerakkan badannya. Dia tersenyum. Tapi justru saat itu senyumannya terasa sangat mengerikan! Dia mendekat.
“”Yak! Tuan Hyuk.” Aku bergidik ngeri.
Eunhyuk malah terkekeh dan mengacak rambutku.
“Kau tak perlu takut Hyera. Aku tak mungkin berbuat macam-macam padamu. Semalam kau tertidur di balkon. Untung saja aku melihatmu, jika tidak kau akan mati kedinginan di luar sana. Akhirnya aku masuk ke kamarmu dan mengangkatmu ke tempat tidur.”jelas Eunhyuk. Aku berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Benar saja, waktu itu kan aku sedang sms-an dengan Eunhyuk di balkon? Aissh, cerobohnya aku sampai-sampai tertidur di sana
“Lalu kenapa kau tak membangunkanku?”tanyaku balik
“Sudah cukup aku meneriakimu, mon cherri… tapi kau tak bergeming. Kurasa kau itu tidur mati.” Eunhyuk lagi-lagi terkekeh. Membuat wajahku semakin mengepul merah.
“Umm.. kalau begitu jeongmal gomawo, oppa…”ucapku menunduk. Tak mau Eunhyuk tahu kalau aku sedang tersipu malu. Tapi, kenapa tiba-tiba aku memanggilnya Oppa? Aneh sekali mengucapkan kalimat itu. Aku tak biasanya memanggilnya oppa.
Eunhyuk tersenyum sangat lebar.
“Ne…ne…ne… tapi sebagai balas budi telah menyelamatkanmu, kau harus menuruti permintaanku.” Titahnya.
Aku terkejut. Dengan segera kudongakkan kepalaku menatapnya.

“Mwo???”
“Haha… kau tak perlu histeris seperti itu. Aku tak mungkin minta yang aneh-aneh. Aku hanya ingin kau menemaniku jalan-jalan di Paris hari ini, otte?”
Aku masih membelalakkan mataku, juga mulutku. Masih tak percaya.

“Aissh, kau ini. Baiklah. Kutunggu satu jam lagi. Jam 10 kita akan sarapan di Resto. Lalu kita akan pergi dan memulai perjalanan hari ini menuju Menara Eiffel. Arasseo chagi-ya?”ucap Eunhyuk tersenyum lebar kemudian melenggang keluar dari kamarku. Meninggalkanku yang masih terheran-heran dan shock dengan kejadian pagi ini.
***

Hufffhhh…
Melelahkan sekali ternyata. Seharian ini aku diajak Eunhyuk berjalan-jalan hingga ke sudut kota Paris. Aku sampai lupa waktu. Kutatap arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 22.00. Aigoo… yang benar saja. Kami sudah menjelajahi kota Paris selama 12 jam. Dari pukul 10 pagi hingga 10 malam. Hhh… pantas saja aku merasa sangat lelah. Aku kembali mengingat-ingat urutan tempat yang kami kunjungi sambil menunggu Eunhyuk datang. Dia sedang pergi ke café di seberang jalan membelikan sandwich. Aku lebih memilih duduk di bangku taman saja. Benar-benar melelahkan sampai rasanya berjalan saja aku enggan. Pertama kali kami mengunjungi Menara Eiffel, lalu Arc de Triomphe, Air Mancur Wallace, Disneyland Resort Paris, Palce des Vosges,  dan masih banyak lagi. Aku lupa namanya, yang pasti belum semua tempat-tempat menarik kami datangi, hanya beberapa tempat yang terkenal saja. Barusan kami mengunjungi Musee de Louvre, salah satu museum seni terbesar di dunia. Aku benar-benar merasa senang hari ini. Senaaaaaaang sekali meskipun rasanya lelah. Aku merapatkan mantelku. Udara malam yang dingin sedikit menjalari tulangku. Ditambah sekarang sedang akhir musim gugur yang menandakan sebentar lagi akan datangnya musim salju. Aku kembali memandang ke seberang jalan raya yang sangat ramai. Ke mana Eunhuk? Kenapa membeli sandwich saja lama sekali? Aku mulai menghentak-hentakkan kakiku tak sabar. Udara di sini bertambah dingin. Seharusnya jam setengah sebelas kami harus sudah sampai di Champ Elysee, kawasan tempat apartemen Eunhyuk.
Mataku awas menanti sosok Eunhyuk yang tak kunjung datang. Tapi tiba-tiba mataku terpaku pada sosok yang baru saja keluar dari sebuah pub kecil di sana. Sosok itu…. Sosok itu berjalan tertatih menopang gadis di sebelahnya. Sepertinya gadis itu sedang mabuk. Sosok itu terus berjalan menerobos ramainya orang-orang yang berlalu-lalang. Mataku tak sabar hanya memandang sosok itu. Butiran salju mulai turun. Aku tak menghiraukan dingin yang kurasa.. Sosok  itu…. Tak salah lagi. Aku harus mengejarnya. Ya, pria itu…. Aku harus bertemu dengannya.
Aku beranjak dari bangkuku dan berlari menyusul pria itu….
“Donghaeee…..!!!!”teriakku sambil terus berlari. Pria itu tak menghiraukanku. Aku terus berlari meski kurasa lelah.
“Donghae…. Chakkaman….!!! Jangan pergi!”teriakku semakin membabibuta. Kali ini Donghae tak boleh pergi! Donghae harus kembali padaku.
“Donghae… kumohon berhenti…!”teriakkanku melemah. Tak kuhiraukan orang-orang yang heran melihatku berteriak-teriak dalam bahasa yang tak mereka mengerti. Aku harus bisa! Aku harus bertemu dengannya. Jantungku tiba-tiba berdegup hebat. Aku tak mampu mengontrol tubuhku yang tiba-tiba seperti ini. Aku berusaha menyeimbangkan diri, tapi rasanya diriku begitu lemah. Lemah sekali…. Hingga akhirnya….
BRUKKK!!!!
***

“Kau sudah sadar?”tanya Eunhyuk pertama kali ketika aku membuka kelopak mata. Di mana lagi ini?
“Apa yang terjadi?”aku malah balik bertanya. Aku berusaha mengingat-ingat. Akhir-akhir ini aku sering lupa apa-apa saja yang baru kulakukan. Ternyata aku baru sadar, sekarang aku ada di kamarku sendiri.
“Semalam kau pingsan. Seharusnya aku tak meninggalkanmu di bangku taman sendiri. Maafkan aku terlalu lama pergi, ada urusan mendesak yang tiba-tiba harus kuselesaikan”tutur Eunhyuk dengan nada bersalah. Dia menatapku khawatir.
Ya, aku memang pingsan semalam. Aku terlalu lelah ditambah cuaca sangat dingin. Aku mengernyitkan keningku berusaha mengingat-ingat sesuatu. Donghae! Aku mengejar Donghae semalam!
“Di mana Donghae?!”tanyaku tiba-tiba. “Apakah kau bertemu dengannya semalam? Eunhyuk, katakan padaku, kau bertemu dengan Donghae kan semalam? Kau pasti melihatnya keluar dari pub di samping café itu!”rentetku tanpa jeda. Harapanku tiba-tiba membuncah. Berharap Enhyuk juga melihat Donghae. Ya, tidak salah lagi itu pasti Donghae. Tapi respon yang kuterima dari Eunhyuk hanya berupa tatapan bingung.
“Donghae?”tanyanya heran.
“Ne, Lee Donghae. Aku melihatnya semalam. Aku pingsan karena mengejarnya.”ujarku bersemangat.
Eunhyuk malah menempelkan telapak tangannya di keningku. Aissh, aku tidak sedang mengigau sekarang.
“Hyera, sadarlah…. Donghae sudah mening…”
“Ne, ne, ne. Jangan teruskan kalimat itu”potongku tak sabar. “Aku melihat Donghae keluar dari pub memapah gadis mabuk di sebelahnya. Aku tak mungkin salah lihat atau berimajinasi. Itu benar-benar nyata. Kalaupun itu hanyalah halusinasi Donghae, untuk apa  arwahnya membawa-bawa gadis mabuk segala?”jelasku serasional mungkin.
Eunhyuk terpekur di sofa. Mengalihkan tatapannya keluar jendela menatap bulir-bulir salju yang turun perlahan. Baru kusadari suasana di luar sedikit memutih karena salju yang turun semalaman.
“Kau mungkin salah lihat. Di belahan dunia ini banyak yang memiliki rupa yang sama dengan Donghae. Itu jelas tak mungkin Donghae, karena Donghae sudah meninggal…”kata Eunhyuk menekankan pada kalimat terakhir.
Aku menghela nafas mencerna kalimat yang barusan Eunhyuk katakan. Akhirnya aku memilih menyerah. Mungkin saja yang dikatakan Eunhyuk benar. Aku saja yang terobsesi pada Donghae. Jika dipikir-pikir itu memang benar. Mana mungkin Donghae hidup kembali. Aku memejamkan mataku lagi. Meredam rasa sakit di dalam sana. Sakit sekali.  Sedih….
“Mianhae, Hyera…”ucap Eunhyuk tersadar kalau sedari tadi aku hanya diam. “Aku tak bermaksud menyakitimu dengan perkataanku tadi, tapi…. Aku hanya ingin kau sadar. Sadarlah bahwa Donghae tak mungkin kembali…”ujar Eunhyuk yang justru tambah membuatku sakit.
“Baiklah..”kataku tak bersemangat.
Eunhyuk melihat arlojinya kemudian beranjak mendekatiku.
“Sudah pukul 9. Maafkan aku tak bisa berlama-lama menemanimu, Hyera. Pagi ini aku ada sedikit urusan. Ahjussi meminta bantuanku untuk proyek villa-nya. Aku akan pulang sekitar pukul 5 sore. Istirahatlah dan jaga kesehatanmu, telfon aku kalau terjadi apa-apa.”Eunhyuk mengakhiri kalimatnya dengan mengacak-acak rambutku lembut. Kemudian pergi keluar dari kamarku. Aku hanya menatap punggungnya yang perlahan menghilang di belokan koridor. Aku berbalik dan hendak menutup pintu kamar.
“Kau masih ingat nomor HP ku, kan?”
Aku terlonjak kaget melihat Eunhyuk yang tiba-tiba muncul di depan wajahku.
“Hyak! Eunhyuk. Kenapa kau kembali lagi?”aku benar-benar kaget
“Anni, aku hanya ingin memastikan kalau kau masih menyimpan no HP ku.”Eunhyuk terkekeh.
“Ne, ne, ne. Tenang saja aku masih ingat.” Aku mendorongnya keluar. “Cepat pergi!”kataku sok mengusir.
Eunhyuk malah tertawa-tawa. Aku melemparnya dengan bantal. “Baiklah, kau mau perang bantal ya, nona? Tapi tunggu sebentar, aku ada urusan dulu. Bye chagi-ya…” Eunhyuk melemparkan bantalku balik  ke arahku, kemudian melesat berlari keluar kamar. Suara tawanya masih menggema di sepanjang koridor. Aissh! Dasar namja tak peka.
Aku mengunci pintu. Kini aku sendirian di kamar. Pikiranku mulai bercabang-cabang. Terkadang menggumam tak jelas . Aku bingung sendiri dengan perasaanku. Aku sebenarnya tak ingin membuka hatiku untuk siapapun. Aku hanya ingin Donghae. Dia melebihi apapun di dunia ini. Tapi kehadiran Eunhyuk di sisiku… itu membuatku sedikit terhibur. Bahkan dia bisa menyita waktuku untuk tak memikirkan Donghae…
Tidak…. Tidak boleh…! Aku menggelengkan kepalaku kuat. Berperang dengan batinku sendiri. Aku tak boleh jatuh cinta padanya… tak boleh!!
Aku menatap diriku frustasi di cermin. Bagaimana ini?
Akhirnya kuputuskan untuk keluar apartemen setelah selesai berbenah diri. Aku ingin membeli makanan di mini market dekat apartemen.
Aku menimbang-nimbang kedua roti yang ada di tanganku. Bingung harus membeli yang mana. Akhirnya kuputuskan membeli keduanya dan memasukkannya ke keranjang belanjaan. Tapi sesuatu telah menabrakku dari belakang hingga aku sedikit terdorong dan keranjangku berceceran.
Je n'ai pas accidentellement, désolé ,Mademoiselle”terdengar suara seorang pria seperti sedang meminta maaf-aku menerka- karena aku tak mengerti bahasa Prancis. Aku tak tahu harus bicara apa, jadi aku hanya diam dan membiarkannya memunguti barang belanjaanku. Pria itu berbalik dan menyerahkan keranjangku
Ce truc, désolé.”ucapnya lagi.
Aku tertegun. Pria itu menatapku heran.
Que faites-vous, mademoiselle?”
Aku tercekat. Ya Tuhan, kenapa aku kali ini berhalusinasi lagi? Tidak! Tidak! Aku sedang berkhayal. Aku mencubit tanganku. Tidak! Tidak! Aku tak bermimpi. Ini nyata!
Mulutku tak kuasa untuk tak memanggilnya.
“Donghae-ya?”aku benar-benar terperangah. Pria di depanku sekarang mirip sekali dengan Donghae, tak ada bedanya. Aku yakin ini pasti Donghae
Pria itu menautkan alisnya. “Maaf, aku bukan Donghae, aghassi…”ujarnya dalam bahasa korea. Aku semakin yakin kalau di depanku bukanlah arwah Donghae.
“Kau Donghae, kan? Jangan bercanda. Kau pasti Donghae.”aku berusaha menguatkan hatiku untuk tidak menangis. Tapi pria itu semakin heran. Kemudian dia tersenyum seolah mengerti
“Aku bukan Donghae, aghassi. Tapi aku kembarannya.”jelasnya. Beribu-ribu panah seperti menohok jantungku. “Namaku Aiden.”katanya lagi. Kepalaku rasanya berputar-putar. Pusing. Apa-apaan ini? Donghae punya kembaran? Tapi yang kutahu Donghae adalah anak tunggal di keluarganya. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tanganku bergetar. Mataku berkedut-kedut. Aku seperti masuk ke alam lain.
“Aghassi, kau tak apa-apa?”pria yang mengaku kembaran Donghae itu mulai khawatir melihat ekspresiku.
c'est quoi, ma chérie  ? ?”suara wanita dari seberang mulai mendekat kea rah kami.
Aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan dalam bahasa Prancis. Aku benar-benar terguncang. Dadaku lagi-lagi sakit. Sesuatu di dalam sana berdenyut sangat hebat. Penglihatanku buram. Aku tak mampu bertahan lagi….
***

Lagi, dan lagi.
Aku berada di posisi lemah seperti ini. Baru 3 hari  di Paris aku sudah 2 kali pingsan. Dan sekarang aku berada di ruangan serba putih dengan jarum infus menempel di tanganku. Ada apa lagi dengan jantungku? Aku mencoba menggerak-gerak kaki dan tanganku. Rasanya lemas sekali.
“Syukurlah kau sudah sadar.” Terdengar suara wanita yang sama kudengar di mini market tadi.
Wanita itu menghampiriku. Ternyata dia juga bisa berbahasa korea. “Kau tak apa-apa?”tanya wanita itu lagi. Aku mengangguk, meyakinkan dirinya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisiku.
“Tadi dokter mengatakan bahwa kondisi tubuhmu belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru di Paris. Kau pasti baru pertama kali ke Paris ya?”tanya wanita itu lagi. Aku tersenyum lemah.
“Oh, ya. Aku lupa. Namaku Jessica”wanita itu memperkenalkan dirinya.
“Song Hyera imnida”balasku. Mataku menjelajahi setiap sudut ruangan, mencari sosok yang mirip dengan Donghae.
“Kau mencari Aiden?”tanya Jessica seolah mengerti apa maksudku.
“N-ne…”
“Dia sedang keluar, membeli makanan”ujar Jessica. Tampak raut tak senang dari wajahnya.
“Aku tak bermaksud apa-apa. Hanya saja dia mirip sekali dengan kekasihku”terangku.
Jessica menatapku lekat-lekat.
“Aiden memang punya kembaran, kalau tak salah namanya Donghae. Tapi Donghae tinggal bersama orangtuanya di Seoul. Sedangkan Aiden lebih memilih tinggal bersama kakek dan neneknya di Paris. Mereka tak pernah cocok satu sama lain.”jelas Jessica panjang lebar. Aku heran, kenapa gadis itu tau segala hal yang berhubungan dengan mereka.
“Aku… kekasihnya Aiden.”Jessica berbicara lagi tanpa kutanya. Sepertinya dia lagi-lagi tahu apa yang sedang kupikirkan. Ternyata Jessica kekasihnya Aiden. Mungkin saja wanita yang kulihat keluar dari pub bersama laki-laki yang mirip Donghae itu adalah Jessica. Tapi sudahlah, untuk apa aku kecewa. Lagipula pria itu bukan Donghae, tapi kembarannya. Tapi kenapa aku tak tahu masalah ini? Kenapa aku tak tahu kalau Donghae punya kembaran?
Aku berusaha bangkit dan merogoh kantong mantelku yang tergeletak di kursi. Aissh! Aku lupa. HP ku di kamar. Aku tak bisa menghubungi Eunhyuk.
“Gomawo, kau dan Aiden telah menolongku. Tapi sebaiknya aku harus pulang sekarang.”ujarku pada Jessica yang memperhatikan gerak-gerikku.
“Ne, cheonma… Kau tinggal di mana? Mungkin kami bisa mengantarkanmu”tawarnya. Baguslah, setidaknya gadis itu mengerti maksudku mengucapkan kalimat tadi.
“Aku tinggal di kawasan Champ Elysee. Aku tak tahu nama jalannya, tapi aku tahu letak apartemen tempat aku tinggal, tak jauh dari mini market tadi.”jawabku sambil berbenah.
“Baiklah, tapi kau yakin sudah baikan?”tanyanya memastikan
“Ne.”jawabku seadanya.
Terdengar derit pintu terbuka. Kulihat Donghae, ah maksudku Aiden masuk ke dalam sambil menjinjing plastik belanjaan. Sepertinya dia tercengang melihatku.
“Kau yakin sudah sembuh, nona?”tanyanya khawatir melihatku sudah bersiap untuk pulang.
“Aku sudah baikkan. Temanku akan mengkhawatirkanku jika aku tak ada di apartemen sekarang. Sudah hampir pukul 5, dia akan pulang”kataku.
Akhirnya Jessica dan Aiden  mengantarkanku pulang. Biaya rumah sakit dibiayai oleh Aiden meskipun aku bersikeras untuk membayarnya sendiri. Dan sekarang aku sudah berada di kursi belakang mobil mewah Aiden, sementara Jessica duduk di samping kemudi. Aku berusaha menenangkan pikiranku bahwa yang di depanku itu bukan Donghae, tapi Aiden. Donghae dan Aiden berbeda meskipun wajah mereka sama. Hati mereka tak sama. Tapi rasanya aku tak rela melihat Jessica bergelayutan manja di lengan Aiden di depan mataku! Ahh… aku ini. Wajar saja, mereka itu sepasang kekasih.
Aiden sedikit menambahkan kecepatan mobilnya. Aku memandang wajahnya dari kaca depan. Aiden memang benar-benar mirip Donghae. sangat mirip. Mereka kembar identik. Apakah dia tahu bahwa aku kekasih Donghae? Apakah dia tahu bahwa kembarannya telah merelakan hidupnya untuk gadis sepertiku? Pikiranku mulai berkecamuk.
“Oh ya, siapa namamu? Kita belum sempat berkenalan.”tanya Aiden menyadari sedari tadi aku hanya diam.
“Song Hyera imnida.”jawabku
“Song Hyera?? Sepertinya nama yang tak asing?”Aiden berkomentar sambil sibuk menggerak-gerakkan stir mobilnya. Aku hanya diam
“Jadi, kau baru pertama kali ke Paris?”tanyanya lagi sambil melihat bayanganku dari kaca depan. Mata kami bertemu. Tidak! Tidak! Mata itu, tatapan itu. Itu semua mengingatkanku pada Donghae.
“Ne”jawabku datar. Aku tak sanggup memandangnya. Aku benar-benar tak rela melihatnya bersama Jessica!
Aku menghela nafas dalam. Sepertinya air mataku sebentar lagi akan meluncur.
“Baiklah, sudah sampai nona. Benarkan ini apartemennya?” Aiden menepikan mobilnya di depan apartemen Eunhyuk. Kulihat Eunhyuk sedang sibuk di depan sana. Sepertinya dia mencariku. Wajahnya cemas. Aku segera turun dengan membawa belanjaanku tadi. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada Aiden dan Jessica. Eunhyuk menatapku dengan tatapan mengerikan. Kuyakin, pasti mulutnya akan menyemburkan berbagai rentetetan pertanyaan yang akan dilontarkan tanpa jeda.
“Hyak! Hyera-ya, dari mana saja kau? Kenapa kau tak membawa ponselmu? Kau ingin membuatku mati, hah? Sudah kukatakan untuk istirahat saja, jangan pergi jauh-jauh. Aku sudah seperti kehilangan sebelah nyawa mengetahui kau tak ada di apartemen. Lihat, sekarang kau malah pergi dengan orang asing. Kemana saja kau dari tadi, Hyera?”
Benar kan, dia merecoki dengan berbagai pertanyaan yang membuatku bingung harus mulai menjawab dari mana. Kulihat Aiden tersenyum mendengar ocehan Eunhyuk. Eunhyuk mengira bahwa mereka orang asing dan tak mengerti bahasa Korea. Akhirnya Aiden turun dari mobil dan menjelaskan semuanya.
Bisa kupastikan Eunhyuk akan ternganga melihat Aiden. Tapi aku sedang malas dan sedih. Aku juga kecewa. Aku tak tahu apa alasanku kecewa. Tapi aku sangat kecewa. Akhirnya aku meninggalkan mereka berdua dan memilih masuk ke kamar dan berdiri di balkon. Memandang Eunhyuk yang sedang berbicara pada Aiden. Menatap kepergian Aiden, sosok yang sangat mirip dengan kekasihku melesat meninggalkan apartemen ini bersama wanita lain yang bukan diriku….
Kapan lagi aku bisa bertemu dengannya??

Eunhyuk masuk dengan wajah ditekuk. Jelas sekali dia kesal dan juga cemas karena kepergianku. Tapi apa boleh buat, aku juga tak meminta untuk pingsan tiba-tiba di tempat umum seperti itu.
“Ternyata dia kembaran Donghae…”ucapnya lirih.
“Ne, dia sangat mirip dengan Donghae…”kataku datar. Air mataku tak bisa dikompromi lagi kali ini. Mataku basah.
“Hyera… dia memang mirip Donghae, tapi dia bukan Donghae” Eunhyuk menghampiriku. Dia mendekapku di dadanya. “Hyera… maafkan aku….”
“Kau tak perlu minta maaf. Kau sudah terlalu baik padaku. Aku saja yang belum bisa menerima kenyataan ini.”aku semakin terisak.
Eunhyuk mendekapku semakin dalam.
“Aku mencintai Donghae, aku tak akan bisa lepas dari bayangannya. Melihat Aiden yang ternyata adalah kembaran Donghae membuat jantungku sakit. Aku tak bisa menerima ini semua. Dia benar-benar sama. Mereka tak ada bedanya…..!!!”aku mulai berteriak-teriak frustasi.
“Aku mencintaimu, Hyera…. Jeongmal Saranghae….”bisik Eunhyuk
“Aku tak tahu bagaimana caranya membuka hatiku, Eunhyuk… aku tak tahu….?” aku mulai tak mampu mengontrol emosi. perasaanku benar-benar kalut. Bagaimana tidak, aku tak pernah tahu Donghae punya saudara kembar. dan mereka kembar identik! Di saat aku sangat merindukan Donghae dan merasa bersalah atas jantung yang diberikannya padaku, aku bertemu kembaran yang benar-benar sama dengannya bersama wanita lain. Aku tak bisa berpikir rasional! di mataku, baik itu Aiden lah, atau apa lah, tapi dia benar-benar sama bahkan tak ada beda dengan Donghae.... Bagiku dia Donghae
“Kau bisa memulainya dari sekarang. Kau bisa memandangku di sini. Dan mencoba menerimaku.”yakin Eunhyuk
“Aku tak tahu…” jawabku lemas. “Bawa aku pulang ke Seoul… aku tak mau berlama-lama di sini. Ini akan membuatku semakin sakit.”pintaku pada Eunhyuk.
Eunhyuk menatapku nanar.

-To Be Continued-

Eotteohke? Eotteohke?
Hehehe,,,, mian banget kalo FF nya jelek, nggak nyambung, atau gimanaaaa gitu. waktu bikinin FF ini author lagi kesengsem ama Hyukppa,,, #plakk! Tapi buat endingnya belum tahu pasti. Tergantung moodnya lagi seneng ama siapa, kekeke… Nantikan endingnya…… jeng-jeng….di The True Heart #Part2-End. Wokeh…?
Tolong Like and Comment nya…. ya ^_^

0 komentar:

Posting Komentar