Annyeong
haseyo…
This
is my first FF. Gyahaahaah…..
Ni
FF gaje banget isinya, tapi yesunglah, namanya juga pemula. Buat yang udah baca
n kasih comment saya ucapkan jeongmal jeongmal gomawo ^^
Title : Heartbeat
Author : Riani
Charlina / Song Hyera
Main
Casts : Lee Donghae, Song Hyera, Lee Hyukjae
Genre : Romance
Length : One
Shoot
Happy
Reading… ^_*
Hyera’s POV
Langit
kota Seoul semakin gelap. Pelan-pelan titik-titik air mulai berjatuhan dari langit.
Udara dingin perlahan merayap dan menjalari tubuhku hingga aku harus lebih
merapatkan mantelku. Aku terpaku di depan jendela. Menatap lekat-lekat suasana
di pinggiran kota Seoul yang perlahan mulai menyepi karena hujan yang turun
semakin deras. Hanya ada segelintir orang yang lewat terburu-buru untuk
berteduh di teras toko-toko kecil di emperan. Kutapakkan tanganku di kaca
jendela yang berembun. Samar-samar kulihat bayanganku sendiri. Aku menatap
diriku nanar.
“Aku
benci hujan” ucapku lirih pada diriku sendiri. Aroma hujan semakin menyesakkan
dadaku. Semua ini, hujan sekarang, hujan yang kemarin, dan hujan-hujan
sebelumnya selalu menyisakan bekas kesedihan di setiap akhir rinainya.
Jantungku berdenyut-denyut. Pandanganku terpaku pada sosok namja dengan seragam SMA dan yeoja
lengkap dengan seragam SMP-nya yang berlarian
di tengah guyuran hujan. Tiba-tiba aku merasa sesak. Jantungku sakit. Kenapa?
Kenapa semua ini selalu membuat jantungku rasanya ingin berhenti berdetak?
Tiba-tiba
siluet hujan yang kulihat semakin kabur. Orang-orang yang berlarian tampak
bergerak lambat, pepohonan, bangunan-bangunan tinggi, semuanya bercampur aduk
dan berkecamuk di kepalaku. Dan yang ada di mataku sekarang adalah bayangan
buram. Butiran bening yang hangat telah mengaburkan pandanganku.
10
tahun yang lalu…
“Yak! Jangan lari kau, Donghae!!
Dasar namja sakit jiwa!” Hyera tersengal-sengal mengejar namja yang
terbahak-bahak di depannya. Bermacam umpatan dengan mulus meluncur dari bibir
mungilnya.
“Aigoo…! Paboya… Cepat kembalikan syalku!!” teriak Hyera lagi.
Sementara namja yang diteriaki
itu malah tertawa semakin keras. Namja itu malah semakin menjadi-jadi dengan
menjulingkan matanya ditambah menjulurkan
lidahnya ke arah Hyera.
“Donghae-ah… cepat kembalikan
syalku! Kenapa kau jadi kerasukan seperti ini, hah? Dasar gila! Jelek! Ini semua
tidak lucu, tau!!” teriak Hyera dari bawah pohon. Matanya awas menatap Donghae
yang terbahak-bahak di tengah rintik hujan yang mulai turun. Namja itu
benar-benar membuatnya naik darah.
“Ayolah Hyera-ya! Tidak mungkin
gadis dengan tubuh ramping sepertimu tidak mampu mengejarku dengan cepat!
Hahahaha…” Donghae semakin terbahak-bahak. Badannya bergetar hebat, tak kuasa
ia menahan perutnya.
“Errr…!!! Kau memang benar-benar
menyebalkan, LEE DONGHAE!!!” Hyera berlari menembus hujan. Berusaha meraih syal
yang sengaja dilayangkan Donghae di tangan kanannya. Dengan gesit Donghae
menghindari dan mengelak dari kejaran Hyera. Dia masih saja terbahak-bahak.
“Kumohon Donghae, berhentilah.
Aku kedinginan.” ujar Hyera mulai melemah. Sepertinya dia tampak menyerah
mengejar Donghae yang entah mengapa, sepertinya memang benar-benar kerasukan
hari ini.
Donghae menghentikan tawanya.
Rambut, wajah, seragam sekolah, semuanya basah terkena guyuran hujan. Donghae
menatap Hyera dalam.
“Cepat berikan syalku! Aku ingin
pulang. Eomma pasti bingung mencariku.” gerutu Hyera yang tersengal-sengal
sambil memegangi lututnya yang kelelahan. Dadanya berdegup-degup.
“Kau benar-benar ingin pulang?”
tanya Donghae datar. Tatapannya sulit diartikan. Nada bicaranya tiba-tiba
berubah menjadi dingin. Perlahan dia berjalan ke arah Hyera yang sudah basah
kuyup sama seperti dirinya.
“Yak! Donghae! Apa-apaan kau?”
Hyera kaget melihat Donghae yang semakin mendekat ke arahnya.
“Kau menginginkan ini, bukan?”
tanya Donghae sambil menggoyang-goyangkan syal di depan mata Hyera. Bak
terhipnotis, dengan sendirinya mata hitam Hyera mengikuti setiap arah gerakan
syal yang digoyangkan Donghae.
“n- nNe…” jawab Hyera gugup. Tiba-tiba
dia meraskan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Hyera-ya….” kata Donghae pelan. Tangannya
menyentuh pipi Hyera lembut. Tatapannya melunak. “Sudah lama aku ingin
mengatakan hal ini…” ucapnya perlahan. Dia menatap mata Hyera dalam-dalam. Hyera
bisa merasakan wajahnya memanas.
“Mwoya?” Hyera menatap Donghae
ragu. Dia merasakan jantungnya makin cepat berdetak. Sementara Donghae semakin
menatapnya intens.
Donghae melilitkan syal di leher
Hyera yang terpaku di bawah guyuran hujan. Tangannya mengusap wajah Hyera
lembut. Donghae tertawa kecil “Mian, aku sengaja membuatmu marah-marah”. “Aku
hanya ingin bermain-main denganmu karena nanti aku pasti akan merindukanmu”
“Ap-apa?”Hyera membelalakkan mata
bulatnya yang semakin membuat Donghae tertawa gemas. Dia tidak mengerti dengan
apa yang baru saja dikatakan Donghae.
Akhirnya Donghae menghela napas
panjang dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah Hyera. “Sudah lama ingin
kukatakan ini semua, aku mencintaimu Song Hye Ra….”
Hyera terkejut. Wajahnya kali ini
benar-benar memerah, dia tak lagi berani menatap Donghae. Donghae merengkuh
pucuk kepala Hyera dan menyandarkan di dadanya. Hujan yang turun dengan
lebatnya semakin membasahi mereka berdua.
“Apakah aku boleh menjadi
namjamu?”Tanya Donghae setengah berbisik.
Jantung Hyera rasanya benar-benar
akan mencuat keluar. Dia tak tahu harus bagaimana di dekapan Donghae, dia hanya
mampu menganggukkan kepalanya pasrah karena dia juga memang mencintai namja itu…
Donghae tersenyum bahagia dan
semakin mengeratkan pelukannya di bawah rinai hujan…
***
Donghae’s POV
“Yang terhormat para penumpang,
mohon maaf karena pendaratan menuju
Incheon Airport akan ditunda selama 30 menit karena cuaca yang kurang baik.
Diharapkan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman demi keselamatan anda. Kami,
para awak kabin mohon maaf atas semua ketidaknyamanan ini. Selamat menikmati
perjalanan anda. Terima kasih.”
Pemberitahuan
dari pramugari tadi telah membuyarkan lamunanku. Aku kembali tersadar dari
alamku 10 tahun yang lalu. Kutatap gumpalan awan-awan hitam melalui jendela
pesawat. Baru kusadari bahwa cuaca di
luar memang sangat buruk. Tampaknya di bawah sana hujan sedang deras-derasnya
turun. Ah, aku kembali teringat saat itu. Tak sabar ingin cepat-cepat
menginjakkan kakiku di Seoul. Bagaimana kabar dia sekarang? Apakah dia masih
tetap seperti dulu? Tapi yang paling
penting, apakah dia masih mengingatku? Aish, aku benar-benar merindukannya. Dia
memang sudah membuatku menjadi orang gila selama 10 tahun ini. Ayolah waktu,
cepat sedikitlah kau berjalan. Aku sudah hampir saraf stadium akhir karena
waktu 10 tahun ini. Aku tak sabar lagi ingin bertemu dengannya.
Aku
mencoba mengamati kota Seoul dari atas sini. Mencari-cari tempat di mana
tepatnya aku pertama kali menyatakan cinta pada Hyera. Di taman dekat sekolahku
dulu. Waktu itu hujan turun dengan sangat deras dan membuat kami berdua basah
kuyup. Aku harus menggendong Hyera hingga sampai di rumahnya karena akibat
ulahku yang membuatnya kedinginan. Setelah aku menyatakan cinta padanya, gadis
itu terlelap di pelukanku dan wajahnya benar-benar pucat.
Gadis
itu…. Aku sangat ingin memeluknya…
Deg!
Aku merasakan ada yang bergejolak di dadaku.
Aku merasakan ada yang bergejolak di dadaku.
Deg! Deg!
Rasa
sakit ini. Kenapa tiba-tiba rasa ini muncul lagi? Ya Tuhan, apakah perasaan
ini?
Deg! Deg! Deg!
Aku
terus menahan dada kiriku yang rasanya seperti tertohok belati. Sakit sekali…
Kenapa jantungku selalu berdenyut-denyut seperti ini?? Kenapa???
***
“Hyera, waeyo? kau tampak pucat? Gwenchani?” Donghae
melontarkan pertanyaan bertubi-tubi ketika melihat Hyera tiba di taman dengan
keadaan yang tidak seperti biasanya. Dirinya merasa ada sesuatu yang tidak
beres pada Hyera.
“Oh, eh, anniya… nan
gwenchanayo.” jawab Hyera kikuk. Dia menundukkan kepalanya. Menarik nafas
dalam-dalam, berusaha meredam sakit yang sedang mendera dirinya. Beraharap Donghae tidak menyadari ini semua, karena aku
tak ingin dia tahu.
“Mmm… jadi besok kau akan
berangkat ke Paris?” tanya Hyera getir. Dia menatap sayu wajah Donghae. Donghae
hanya diam. Sedetik kemudian dia menoleh ke arah Hyera dan terpaku.
“Kau menangis…?”
“Anni, siapa yang menangis?”
dengan cepat Hyera menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah, Hyera… Aku tahu ada
yang tidak beres padamu. Matamu bengkak.” Dengan segera Donghae merengkuh
kepala Hyera dan menyandarkan di bahunya.
“Donghae…”
“Sstt.. sudahlah. Jangan bicara
lagi. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku juga sama. Aku merasakan seperti yang
kau rasakan juga. Kau lihat wajahku? Baru kali ini aku merasa diriku tak
tampan. Semalaman aku menangis. Aku tak bisa tahan dengan rasa yang terus
meledak-ledak seperti ini. Andai saja bisa, aku ingin tetap tinggal di Seoul,
setiap hari bersamamu, menemanimu, menjagamu, dan menghabiskan hidupku hanya
dengan mu. Tapi semua ini diluar kehendakku, Hyera. Appa, eomma, dan aku
terpaksa pindah ke Paris. Kau tahu, keinginan terbesarku hanya satu, aku hanya
ingin terus bisa bersamamu….”
“Jeongmal saranghae, Hyera…” kali
ini Donghae tak mampu membendung air mata yang sejak kemarin terus meluncur
keluar dari pelupuk matanya. Dia semakin memeluk Hyera erat.
“Na do…” ucap Hyera datar. Dia
tidak tahu harus bagaimana lagi berekspresi. Dadanya sesak. Ngilu. Nyeri.
Perih. Pedih. Dia hanya menggigit bibirnya menahan gejolak di dadanya.
Bulir-bulir air mata terus berderaian dari mata sendunya.
“Lalu, kapan kau akan kembali?
Apakah kita masih bisa bertemu?” tanya Hyera, masih dengan sebuncah harapan
bahwa yang dihadapinya sekarang hanyalah fiksi belaka. Bahwa hari perpisahannya
dengan Donghae sebenarnya tak pernah ada.
“Aku tak tahu kapan… Tapi aku
janji. Aku akan menemuimu. Aku akan kembali padamu. Suatu hari nanti aku akan
kembali, Hyera…”
“Kau tak tahu Donghae, aku juga
tak tahu apakah hari itu ada? Apakah hari dimana kita kembali bertemu memang
benar-benar ada. Aku takut tak mampu bertahan, Donghae. Aku takut tak bisa
kembali menemuimu. Aku takut tak sanggup. Aku takut, Donghae….” Hyera bergumam
dalam hati kecilnya.
“Janji? Kita akan terus bersama?”
Donghae mengangkat kelingkingnya.
Hyera tampak ragu. Kemudian
akhirnya dia menautkan kelingkingnya di kelingking Donghae.
“Baiklah…. Aku berjanji.”ucap
Hyera mantap.
“ Baikalah, aku akan bertahan
Donghae. Aku akan bertahan demi dirimu. Meski sebenarnya aku ragu kalau aku
mampu. Rasa ini benar-benar sakit… Jantungku terus berdegup kencang bahkan
kadang rasanya ingin terhenti…. Tapi, jantungku akan terus berdetak selama kau
tetap mengingatku, di sana Donghae…”Hyera berkata dalam hati berusaha
meyakinkan dirinya sendiri untuk terus bertahan.
***
Hyera’s POV
Aku
terkesiap dari lamunanku. Hujan yang turun sudah tak begitu lebat. Suasana di
pinggiran jalanpun sudah mulai ramai kembali. Aku menyeka air mata yang sudah
mulai mengering di kedua pipiku. Donghae, berapa lama lagi aku harus
menunggumu? Berapa lama lagi aku harus bertahan? Aku hanya ingin menepati
janjiku, meskipun rasanya waktuku sudah tak banyak lagi. Jeongmal bogoshippoyo, Donghae… Aku hanya ingin memandang wajahmu,
sebelum aku benar-benar pergi.
Aku
mencengkram dada kiriku. Jantungku tiba-tiba saja berdegup-degup.
Deg! Deg! Deg!
Rasa
ini? Kenapa terus-menerus menderaku? Ya Tuhan… sakit sekali.
Deg! Deg! Deg!
Sakiiiiittt…
ah, aku tak tahan. Ya Tuhan, kenapa rasanya benar-benar nyeri. Sakiiitt sekali
“Nona Song, gwenchani?” aku melihat salah satu
pegawai roti yang ternyata belum pulang berlari cemas ke arahku. Aku tak bisa
melihatnya dengan jelas karena tiba-tiba mataku menjadi kabur.
Deg! Deg! Deg!
Aku
mengecap cairan asin di mulutku. Rasa khas ini…
Deg! Deg! Deg!
Darah…!
Darah segar lagi-lagi keluar dari mulutku. Ya Tuhan… apakah ini akhir dari
semuanya? Pandanganku semakin kabur. Dan semuanya gelap
***
Author’s POV
“Jeongmal gomawo, Hyuk. Ternyata kau
masih ingat denganku.” ucap Donghae seraya masuk ke mobil hitam dan mengambil
posisi di samping kemudi.
“Kau
ini, tentu saja aku masih ingat. Raut wajahmu yang seperti ikan itu menjadi
kenangan tersendiri bagiku.” namja yang bernama Eunhyuk itu tertawa
menyeringaikan gusinya yang mencolok. Dengan cekatan dia meluncurkan Audy
hitamnya di tengah keramaian.
“Aish!
Kau juga tetap sama, Hyuk. Ternyata
setelah 10 tahun tak bertemu kau masih saja sama. Bahkan semakin mirip saja
dengan monyet!” kali ini Donghae terbahak. Dia memperhatikan wajahnya melalui
spion dan menggosok-gosok dagunya yang licin. “Kupikir aku tadi akan mengalami
sedikit kesulitan karena harus meyakinkanmu bahwa aku benar-benar
Donghae,”lanjutnya. Wajahnya tampak serius
“Maksudnya?”
Eunhyuk menoleh kearah Donghae yang masih memperhatikan wajahnya melalui spion.
“Yahh…
kau taulah. Bahwa sekarang aku bertambah tampan saja. Dan pasti akan sulit
bagimu percaya bahwa aku ini benar-benar Donghae, teman SMA-mu dulu” seringai
Donghae
Eunhyuk
hanya mendengus. Dia tidak bisa berbuat banyak karena posisinya sedang
mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Dia sangat merindukan sahabatnya satu
ini. Dulu mereka terbiasa bercanda bersama, dan tak terasa 10 tahun berlalu
Donghae masih saja sama, selalu menjudge
dirinya sebagai manusia tertampan dengan seorang sahabat karib yang bertitle monyet
tampan.
Tapi
bagaimanapun Eunhyuk sangat menyayangi sahabatnya satu ini. Mereka sangat
dekat. Bahkan se-SMA memberikan mereka gelar Fishy-Monkey karena Donghae yang
sangat menyukai ikan dan Eunhyuk yang dijuluki sebagai titisan kera. Sepanjang
perjalanan Donghae dan Eunhyuk terus tertawa sambil bernostalgia tentang
kenangan SMA mereka.
Hujan
yang sempat mereda kembali turun dengan deras. Tiba-tiba saja Donghae terdiam.
Dia menatap suasana hujan dari jendela mobil dengan seksama.
“Yak!
Kenapa sekarang kau diam, Donghae-ya? Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu
selama 10 tahun di Paris? Apakah kau sudah punya yeojachingu?”rentet Eunhyuk
panjang.
Donghae
tersenyum. “Seperti itulah. Jujur saja aku tak begitu menikmati kehidupanku
disana. Karena sebenarnya jiwaku masih ada di Seoul. Hatiku juga masih terpaut
di sini.” desah Donghae.
“Omona…
kau jadi romantis sekali sekarang. Aku jadi malu.” Eunhyuk menjawil lengan
Donghae tersipu-sipu. Donghae menatap sahabatnya yang berambut kuning itu
ngeri.
“Yak!
Yang benar saja Hyuk. Aku masih waras”
Eunhyuk
tergelak. “Jadi, kau masih menunggunya? Gadis yang selalu kau ceritakan padaku
itu?”
“Ne…”
jawab Donghae datar. Matanya menyapu setiap pandangan yang dilewatinya.
“Oh
ya, bagaimana dengan usaha Roti Bakery yang kau kelola sekarang?”tanya Donghae
mengalihkan pandangannya ke arah Eunhyuk yang serius menyetir mobil.
“Aku
hanya meneruskan usaha Appa saja. Selebihnya aku menambahkan produk baru
sehingga sekarang toko roti kami jadi terkenal.”jawab Eunhyuk bangga. Senyumnya
melebar.
“Memangnya
produk apa?”
“Strawberry
monkey bread” jawab Eunhyuk santai. Donghae menganga. Namun belum sempat dia
hendak bertanya lebih lanjut apa saja bahan yang digunakannya Eunhyuk terlebih
dahulu mengangkat handphone-nya yang berdering.
“Ne,
Yooeun-ah. Waeyo?”
“Tuan
Hyuk Jae, nona Song tadi pingsan.” Jawab suara dari seberang.
“Mwo?
Bagaimana keadaan nona Song sekarang?”
“Kami
sekarang sudah berada di rumah sakit. Dia dalam keadaan kritis.”
“Ne,
chakkaman. Aku akan segera kesana.”
Tuut…
tuut.. tuutt.. Eunhyuk melemparkan handphonenya serampangan.
Donghae
menatap Eunhyuk khawatir. Dia heran, hal apa yang baru saja terjadi sehingga
membuat sahabatnya ini sangat panik.
“Donghae,
mianhe. Sepertinya aku belum bisa mengantarmu ke apartamen. Kita harus ke rumah
sakit dulu.”ujar Eunhyuk panik.
“Mwo
hago, Hyuk? Kau tampak panik sekali. Siapa yang masuk rumah sakit?”
“Dia
pegawaiku di toko roti. Dia menderita jantung kronis. Sudah kukatakan bahwa
sebaiknya dia tidak usah bekerja. Aku bisa membantu untuk membiayai
pengobatannya. Tapi dia bersikeras untuk tetap bekerja. Kasihan gadis itu… dia
hanya tinggal berdua dengan eommanya. Dia benar-benar ingin sembuh dari sakit
jantungnya.” jelas Eunhyuk panjang lebar. Tampak jelas Eunhyuk sangat
mengkhawatirkannya. Mata Eunhyuk berkedut-kedut. Dia menangis!
“Hyuk, kau tak apa-apa?” Donghae
menepuk-nepuk bahu Eunhyuk. Pemandangan yang sulit ditemukan melihat Eunhyuk menangis. Sementara Eunhyuk terdiam
dan semakin menambah kelajuan mobilnya.
“Aku menyukainya, Hae…. Aku
sungguh menyayangi gadis itu…” ucap Eunhyuk terbata.
Donghae
sontak tercekat. Dia merasa ini semua ada sangkut paut dengan dirinya.
“Dia…. Yeojachingu mu?” tanya
Donghae hati-hati.
“Bukan.” Jawab Eunhyuk datar.
“Dia sedang menunggu seseorang… Dia sudah punya pilihan sebelum aku sempat
masuk ke hatinya… Dia bilang…. Satu-satu kekuatannya bertahan akan sakit
jantungnya karena namja itu….” Eunhyuk membanting stirnya. Tampak jelas dia
sedang meredam amarah. “Ntah siapa namja itu! Bodoh sekali meninggalkan gadis
yang dengan tulus mencintainya. Bahkan memberi sedikit kabarpun tidak! Namja
itu telah membuat dia tersiksa!” Eunhyuk menggertakkan rahangnya.
Donghae
tercekat. Jantungnya tiba-tiba berdegup lagi. Dia semakin merasa bahwa yang
dikatakan Eunhyuk itu adalah dirinya. Dia merasa bahwa gadis itu adalah….
“Kalau
aku boleh tahu, siapa nama gadis itu?” tanya Donghae pelan.
“Gadis
itu bernama….. Song… Hyera…”
DEG!
DEG! DEG!
***
Hyera’s
POV
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Kenapa semuanya putih? Terakhir kali aku melihat semua yang ada di sekitarku benar-benar buram dan gelap. Aku merasa tubuhku benar-benar melemah. Kuangkat sebelah tanganku. Kenapa tubuhku membiru??
“Hyera-ya…
kau sudah sadar?”
Suara
itu? Ah, aku pasti mengigau. Aku benar-benar sudah tak tahu lagi sekarang
berada di mana. Sampai-sampai suara yang sangat kurindukan itu rasanya
benar-benar dekat dengan diriku.
“Hyera-ya…
syukurlah. Aku benar-benar khawatir.”
Sekarang
aku tambah yakin bahwa aku tidak sedang berada di dunia. Bayangan itu mendekat
ke arahku. Mungkinkah dia malaikat yang menyerupai dirinya? Siapapun tolong katakan
padaku, di mana sebenarnya aku sekarang?
“Hyera-ya…”
Suara
itu.. suara itu benar-benar nyata.
“Donghae-ya….?”
Akhirnya…. Aku sungguh tak percaya akhirnya suaraku bisa
menggaungkan namanya lagi…
“Ne…
bagaimana keadaanmu?” ucap Donghae lembut. Matanya menatap kedua bola mataku
dengan penuh kasih sayang.
“Kkau…
bbenarkah i-itu.. k-kau?” aku tergagap. Donghae tersenyum tulus.
“Ne…”
Kali ini dia mengusap keningku dan mengecupnya pelan. “Sekarang kau sudah
percaya kan bahwa ini aku?”
Perasaan
hangat sekejap menjalari tubuhku. Donghae… ternyata benar kau Donghae… Aku tak
mampu menahan gejolak di dadaku. Semua penantian ini… semua rasa sakit ini…
rasanya benar-benar pupus hanya dengan menatap wajahnya. Jangtungku masih saja
berdegup-degup. Tapi detakannya melemah… dan semakin melemah. Kulihat Donghae
menangis menatapku. Eomma yang baru muncul terlihat khawatir. Tampak jelas raut
kelelahan dari sorot matanya.
Aku
kembali menatap Donghae, namja yang sangat aku cintai. Dia telah menyiksa
perasaanku selama 10 tahun ini… dan kini… dia kembali berada di sampingku. Dia
tampak sangat tampan… benar-benar tampan… aku merasa malu dengan kondisiku yang
benar-benar tidak cantik. Wajah pucatku dan tubuhku yang semakin mengurus. Ntah
mengapa Donghae masih bisa menyukaiku….
Donghae,
aku sudah menepati janjiku… Aku sanggup bertahan sampai menunggu kau kembali…
Dan kurasa… waktuku bersamamu tak lama lagi…
***
Donghae’s POV
Aku benar-benar bahagia bisa kembali bertemu dengan Hyera. Namun pertemuan seperti ini tak pernah aku harapkan. Dalam bayanganku kami akan bertemu di tempat yang sama. Di taman yang sama ketika kami berlari-larian menembus hujan. Ini semua salahku. Aku sama sekali tidak mengetahui keadaan Hyera. Aku tak menyadari bahwa Hyera-ku sakit. Dan ternyata dia bertahan hanya untuk menepati janjinya bertemu denganku. Aku memang Namja goblok! Pantas saja Eunhyuk menamparku ketika mengetahui itu semua. Aku benar-benar bodoh. Bodoooooohhhh…
Sekarang
aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana aku menebus kesalahanku pada Hyera?
Gadis itu sekarang berbaring lemah. Dia hanya tersenyum menatap diriku yang
jahat ini. Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri karena telah membiarkannya
menderita seperti itu. Harusnya selama 10 tahun ini aku merawatnya. Bukan malah
membiarkannya terlunta-lunta dengan perasaan sakit di jantungnya. Aku sudah
melanggar janjiku untuk terus menjaganya. Namja seperti apa aku ini?
Aku
mengecup tangan pucat Hyera. Tiba-tiba detakan jantungku melemah. Dan rasanya
semakin melemah saja. Ternyata selama ini rasa sakit di jantungku adalah rasa
yang sama dirasakan Hyera…
“Donghae-ya…”
panggil Hyera lemah.
“Ne…
mwo hago, chagi-ya?” Aku menatap Hyera penuh kekhawatiran.
Hyera
tersenyum.
“Saranghae….”
Ucapnya setengah berbisik. Aku hanya tercekat. Jantungku benar-benar ngilu
melihat Hyera. Gadis kecilku yang cerewet ini sekarang sedang berbaring lemah.
Wajahnya pucat…. Dan semakin kurasakan bahwa denyut jantungnya melemah.
Hyera
beranjak dari tempat tidurnya. Dengan sigap aku memapah dirinya. Dia berdiri menatap keluar jendela. Tangannya selalu menggosok-gosok
dada kirinya. Lagi-lagi aku merasakan nyeri yang hebat. Akupun ikut menatap keluar jendela. Lagi-lagi
hujan….
“Donghae-ya…
kau masih ingatkan 10 tahun yang lalu? Ketika kita berlarian di tengah hujan?”
tanya Hyera lembut.
“Tentu
saja… Aku masih ingat kau dulu sangat kurus dan garang.” Jawabku mencoba
menggodanya. Aku berusaha untuk tegar. Padahal rasa ini sungguh-sungguh sakit.
“Hem…
kau masih saja sama. Dasar namja nakal!” Kulihat Hyera menyunggingkan
senyumannya. Kenapa? Kenapa rasanya aku semakin tak sanggup saja melihatnya?
Kami
terdiam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku benar-benar tak
sanggup. Aku tak sanggup Hyera… Aku tak sanggup melihatmu sakit..
“Waktu
kau pergi ke Paris aku sempat tak nafsu makan selama sebulan. Kalau kau
melihatku waktu itu pasti kau akan terpingkal-pingkal karena tubuhku semakin
mirip saja dengan ranting kayu saking kurusnya” ucap Hyera memecah keheningan.
“Aku sangat rindu padamu Donghae, rinduuu sekali. Aku tak tahu bagaimana
mengobati rasa rindu ini, kecuali dengan menatap hujan. Tapi lama-lama aku
malah membenci hujan karena aku merasa kau tak akan pernah datang… ”
Hyera…
maafkan aku… maafkan aku…. Aku tak mampu berkata sekarang. Dadaku sesak.
“Aku
tak berani mengatakan tentang penyakitku padamu, karena aku tak ingin kau akan
berubah pikiran. Aku tahu, kau pasti akan melakukan hal yang bodoh jika dulu
kau tahu bahwa aku jantungan…”lanjut Hyera. Masih dengan tatapan menatap hujan.
Hangat…
butir-butiran bening telah meluncur dari kelopak mataku. Nyeri sekali. Aku
memeluk Hyera yang berdiri di depanku. Hyera… aku bisa merasakan sakit yang kau
rasakan…
“Awalnya
aku tak yakin sanggup bertahan, karena aku tak tahu kapan kau kembali padaku.
Tapi aku sudah berjanji akan menunggumu. Karena itu aku masih bisa bertahan
sampai sekarang. Aku benar-benar takut, Donghae. Aku sudah seperti mayat hidup
saja memikirkanmu. Aku takut kau sudah lupa padaku dan tertarik dengan
gadis-gadis Paris yang cantik dan seksi. Sementara di sini aku hanyalah gadis
kurus yang penyakitan…” tutur Hyera
“Hyera-ya…”
aku hanya mampu menyebut namanya. Dadaku benar-benar sesak. Air mata tak
henti-hentinya mengalir dari pelupuk mataku. Aku semakin mengencangkan
pelukanku. Tak ingin melepaskan Hyera yang semakin rapuh.
“Tapi
aku bahagia, Donghae… Aku bahagia kau kembali padaku. Kau menepati janjiku dan
akupun sudah menepati janjiku… Aku senang karena mampu bertahan hingga kau
kembali. Penyakit ini sudah seringkali menyiksaku. Tapi aku bahagia sudah
melihatmu, meskipun…. Aku tahu… waktuku tak banyak lagi untuk bersamamu….” Kata-kata
Hyera semakin pelan…
“Sudahlah
Hyera, jangan berkata seperti itu…. Kumohon… aku kembali padamu karena ingin
terus berada di sisimu. Bukan untuk melihat kepergianmu…” isakku, kali ini
rasanya jantungku tak berdenyut lagi. “Kita akan terus bersama Hyera… aku sudah
janji. Aku akan bersamamu… ”
Aku
benar-benar tak mampu berpikir. Rasanya semua kerja sarafku terhenti saat itu
juga. Aku benar-benar tak mau melihat Hyera pergi dari ku. Aku benar-benar tak
bisa jika Hyera meninggalkanku. Aku ingin Hyera tetap hidup. Aku ingin menebus
kesalahanku yang telah meninggalkannya selama 10 tahun. Aku ingin melihat Hyera
tertawa lagi, berlari lagi. Aku ingin dia terus bernafas. Aku ingin dia masih
bisa merasakan hujan….
Denyut
jantung Hyera seperti tak terdengar lagi. Aku merasakan sesuatu mengalir di
tanganku. Darah! Ya Tuhan… hidung Hyera berdarah. Aku merenggangkan pelukanku.
Dan kulihat mata Hyera sudah terpejam. Ya Tuhan… kumohon… kumohon berikanlah
kesempatan Hyera untuk menghembuskan nafas lagi....
***
Hyera’s POV
Aku melihat Donghae menangis.
Eomma terburu-buru masuk ke ruangan. Kulihat dokter dan perawat tergesa-gesa
menggunakan alat pendeteksi detak jantung pada diriku. Diriku??? Aku tersadar
diriku sedang melayang menatap mereka semua. Kulihat Tuan Hyukjae datang
bersama Yooeun. Dokter mengisyaratkan bahwa sepertinya usaha yang dilakukan
mereka sudah maksimal dan tak ada yang bisa diselamatkan lagi. Aku menatap
diriku sendiri yang terbujur biru. Donghae meraung-raung di tepi ranjangku. Dia
benar-benar terpukul. Donghae beranjak menatap jasadku. Kemudian ntah apa yang
dilakukannya karena tiba-tiba saja aku seperti tersedot ke dalam pusaran yang
sangat gelap.
***
Blash!!
Aku
membelalakkan mataku. Kulihat eomma yang tertidur di tepi ranjangku. Rasanya
aku mengenal tempat ini. Bukankah ini kamarku? Kenapa aku bukan berada di rumah
sakit? Lalu di mana Donghae?
“Eomma…”
aku menyentuh tangan eomma. Eomma tampak terkejut dan tersenyum padaku.
“Hyera…
syukurlah kau sudah sembuh. Eomma sangat mengkhawatirkanmu.
Sembuh??
Apa aku sudah sembuh dari sakit jantungku??? Sebenarnya apa yang terjadi
padaku?? Aku benar-benar merasa sakit kenapa sekarang langsung sembuh seperti
halnya mimpi??? Aku tak mungkin bermimpi.
“Eomma,
mana Donghae?”tanyaku was-was.
Aku
tak mendengar jawaban dari Eomma.
“Eomma?”tanyaku
lagi. “Di mana Donghae?”
“Donghae…
Donghae sudah kembali ke Paris, Hyera…” jawab eomma lemas. Matanya terlihat
berkaca-kaca
“Kenapa?
Kenapa dia datang dan pergi begitu saja?”aku mulai emosi. Seenaknya saja
Donghae mempermainkan perasaanku. Datang bagai malaikat kemudian meninggalkanku
begitu saja.
“Dia
tiba-tiba ada urusan.” Ucap eomma.
Aku
mencium sesuatu yang tidak beres. Kenapa semua ini terjadi begitu cepat?
“Dia
menitipkan ini pada eomma.”ujar eomma seraya menyerahkan secarik kertas. Dengan
tak sabar aku meraih kertas itu dari eomma. Rasanya aku benar-benar ingin
marah. Namja itu! Benar-benar seenaknya saja. Kenapa kau ini, Donghae? Aku
membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Hanya berupa kalimat singkat.
“Hyera… maafkan aku. Ketika kau
membaca ini aku yakin kau pasti sudah sembuh. Aku harus pergi… demi dirimu…
Maafkan aku… Meskipun kau tak bisa melihatku, yakinlah bahwa hatiku selalu
bersamamu…, jeongmal saranghae, chagi-ya…”
Apa-apaan
ini. Apa maksudnya pergi demi diriku? Kau jahat Donghae, jahaaatt….!!! Aku
benci kau. Sudah 10 tahun kau pergi dan sekarang kau pergi lagi. Sampai berapa
lama?
Kalau
begini kenapa aku tidak mati saja? Percuma aku sembuh jika lagi-lagi Donghae
harus pergi dariku. Aku menangis lagi.
***
Aku
duduk di taman tempat aku dan Donghae dulunya sering bercerita. Aku masih
merasakan denyutan di jantungku. Meskipun kata dokter aku sudah sembuh. Aku tak
tahu kenapa aku bisa sembuh. Padahal aku mengira bahwa ajalku sudah dekat. Kata
eomma aku mendapat donor jantung dari seseorang. Tapi aku tak tahu siapa
dia. aku ingin berterima kasih pada
keluarga orang yang telah mendonorkan jantungnya padaku.
“Nona
Song?” seseorang dari belakang memanggilku. Aku menolehkan pandanganku.
Ternyata Tuan Hyukjae.
“Tuan
Hyukjae? Kenapa kau bisa datang kemari?”tanyaku heran.
“Aish!
Sudahlah, jangan memanggil-manggilku dengan sebutan tuan. Panggil saja aku
Eunhyuk. Rasa-rasanya aku benar-benar tua jika kau panggil tuan.”Eunhyuk
terkekeh kemudian mengambil posisi duduk di sebelahku.
Aku
terdiam. Aku teringat Donghae, karena yang biasanya ada di sampingku adalah
Donghae. Tapi yang di sebelahku sekarang adalah Tuan Hyukjae.
“Apakah
kau tahu kenapa Donghae pergi?” tanyaku dengan tatapan lurus ke arah kaki
langit. Eunhyuk hanya diam, kemudian melemparkan batu kerikil ke arah
semak-semak.
“Dia
pergi karena mencintaimu…”jawabnya pelan.
“Aku
tidak mengerti, Eunhyuk-ssi? Kumohon jelaskan padaku. Kau kan temannya…?”aku
mulai tak mampu menahan dadaku yang bergejolak. Jauh di lubuk hatiku aku merasa
ada yang berdenyut. Seperti ada sesuatu yag hidup di dalam sana. Air mataku
mengalir lagi.
“Aku
ingin dia kembali…. Aku ingin bersamanya…”aku sesenggukan
Eunhyuk
menatapku. Dia menghapus air mata yang mengalir di kedua pipiku.
“Dia mencintaimu, Hyera. Dia selalu bersamamu…” mata Eunhyuk berkaca-kaca. Kemudian dia meraih tanganku dan meletakkannya di dada kiriku.
“Dia mencintaimu, Hyera. Dia selalu bersamamu…” mata Eunhyuk berkaca-kaca. Kemudian dia meraih tanganku dan meletakkannya di dada kiriku.
“Kau
bisa merasakan dirinya…”ucap Eunhyuk pelan. Aku semakin tak mengerti.
“Donghae
ada di hatimu, sekarang dan untuk selamanya…”lanjutnya perlahan.
“Donghae
lah yang telah mendonorkan jantungnya untukmu, Hyera…”
DEG!
DEG!
Apa benar???Apa benar yang
dikatakan Eunhyuk ini?
Donghae…?
Jantungnya…?
Untukku?
“Dia
lebih menginginkan melihatmu hidup bahagia, daripada dirinya harus melihatmu
pergi… dia sangat mencintaimu…”
“T-tappii….
Bbagaimmana bisa…” aku terbata. Lidahku kelu. Bagaimana mungkin? Donghae
merelakan hidupnya untuk ku? Jantungnya? Tidakkk… mungkin. Aku melihat mata
Eunhyuk. Berusaha mencari sirat kebohongan di sana.Tapi tak ada. Eunhyuk tak
mungkin berbohong.
“Kau
tidak sedang bercanda kan?!?” tanyaku getir. Tubuhku bergetar hebat. Eunhyuk
menggelengkan kepalanya lemah.
“Dia
menyuruhku untuk menjagamu, Hyera…”
Tidak…
tidak… tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Aku mencubit lenganku berulang kali dan
berharap akan segera terbangun. Namun aku masih saja melihat Eunhyuk di
depanku. Yang artinya aku tidak sedang bermimpi. Aku menggigit bibirku. Mencoba
meredam sakit ini. Donghae…! Kau memang pabo! Kau pabo Donghae….
Aku
mengelus dadaku terus menerus. Berharap rasa sakit ini hilang. Tapi
rasa-rasanya malah bertambah sakit. Rasanya sakit sekali…. Menyesakkan… aku tak
tahu lagi bagaimana wajahku sekarang. Rasanya mataku sekarang sudah menyipit
karena aku terus menerus menumpahkan air mata.
Eunhyuk
merengkuh tubuhku. Memelukku dan mendekapku di dadanya. Aku tak kuasa menahan
semua ini. Rasanya aku ingin mencabut jantung ini dan membiarkan Donghae yang
hidup. Tapi kenapa dia harus memberikan jantungnya untukku? Eunhyuk
menggosok-gosok punggungku. Tubuhnya bergetar. Aku tahu Eunhyuk pun menangis.
“Dia
bersikeras ingin menyelamatkanmu. Sebelumnya dia sudah pernah mengatakan ini
padaku. Dia ingin mendonorkan jantungnya padamu karena jantung kalian cocok dan
kalian mempunyai golongan darah yang sama. Tapi aku sempat melarangnya….”
Eunhyuk bergetar, dia mengumpulkan sekuat tenaga untuk melanjutkan ucapannya.
“Dia… dia meminta dokter untuk menyuntik mati kemudian memindahkan jantungnya
padamu…”tangis Eunhyuk pecah.
“Donghae…”
ucapku bergetar “Donghae… kau memang namja gila…” sekarang aku memuluk-mukul
dadaku sendiri.
Aku tak bisa berpikir. Aku tak bisa bernapas. Rasanya udara di sekitarku mulai menipis. Aku merasa beribu-ribu anak panah menghunus jantungku. Jantung Donghae yang sekarang tertanam di diriku.
Kepalaku
rasanya berputar-putar. Wajah Donghae berputar-putar di otakku. Suaranya menggema
di pikiranku
Aku janji… aku akan selalu
bersamamu, Hyera…
Aku ingin terus hidup bersamamu…
Aku ingin menjagamu, memberikan
segalanya hanya untukmu…
Meskipun kau tak melihatku,
yakinlah aku terus bersamamu…
Dimanapun dan kapanpun, kau dapat
merasakanku, Hyera…
Aku
rasanya terlempar ke jurang paling kelam. Aku benar-benar dilanda kesedihan
yang hebat. Akan lebih baik jika aku saja yang meninggalkan dunia daripada
menikmati dunia tanpa Donghae di sisiku.
Aku
akan menjaga jantungmu, Donghae….
Detak
jantungku adalah detak jantungmu…
Terimakasih
sudah memberikan kehidupan untukku…
Kau
akan terus hidup di dalam diriku…
Kapanpun
itu….
Saranghaeyo Donghae….
The
End…
Ottoke?
Ottoke?
Mian
ya kalo FF nya jelek. Rada-rada nggak nyambung, hehe. Maklum ini one shoot
author yang pertama kali.
Gomawo
yang udah baca^^

0 komentar:
Posting Komentar