Sabtu, 28 Januari 2012

Heartbeat

Annyeong haseyo…
This is my first FF. Gyahaahaah…..
Ni FF gaje banget isinya, tapi yesunglah, namanya juga pemula. Buat yang udah baca n kasih comment saya ucapkan jeongmal jeongmal gomawo ^^

Title                 :           Heartbeat
Author             :           Riani Charlina / Song Hyera
Main Casts       :           Lee Donghae, Song Hyera, Lee Hyukjae
Genre               :           Romance
Length             :           One Shoot

Happy Reading… ^_*

Hyera’s POV

Langit kota Seoul semakin gelap. Pelan-pelan titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Udara dingin perlahan merayap dan menjalari tubuhku hingga aku harus lebih merapatkan mantelku. Aku terpaku di depan jendela. Menatap lekat-lekat suasana di pinggiran kota Seoul yang perlahan mulai menyepi karena hujan yang turun semakin deras. Hanya ada segelintir orang yang lewat terburu-buru untuk berteduh di teras toko-toko kecil di emperan. Kutapakkan tanganku di kaca jendela yang berembun. Samar-samar kulihat bayanganku sendiri. Aku menatap diriku nanar.
“Aku benci hujan” ucapku lirih pada diriku sendiri. Aroma hujan semakin menyesakkan dadaku. Semua ini, hujan sekarang, hujan yang kemarin, dan hujan-hujan sebelumnya selalu menyisakan bekas kesedihan di setiap akhir rinainya. Jantungku berdenyut-denyut. Pandanganku terpaku pada sosok namja dengan seragam SMA dan yeoja lengkap dengan seragam SMP-nya  yang berlarian di tengah guyuran hujan. Tiba-tiba aku merasa sesak. Jantungku sakit. Kenapa? Kenapa semua ini selalu membuat jantungku rasanya ingin berhenti berdetak?
Tiba-tiba siluet hujan yang kulihat semakin kabur. Orang-orang yang berlarian tampak bergerak lambat, pepohonan, bangunan-bangunan tinggi, semuanya bercampur aduk dan berkecamuk di kepalaku. Dan yang ada di mataku sekarang adalah bayangan buram. Butiran bening yang hangat telah mengaburkan pandanganku.

10 tahun yang lalu…

“Yak! Jangan lari kau, Donghae!! Dasar namja sakit jiwa!” Hyera tersengal-sengal mengejar namja yang terbahak-bahak di depannya. Bermacam umpatan dengan mulus meluncur dari bibir mungilnya.
“Aigoo…! Paboya…  Cepat kembalikan syalku!!” teriak Hyera lagi.
Sementara namja yang diteriaki itu malah tertawa semakin keras. Namja itu malah semakin menjadi-jadi dengan menjulingkan matanya ditambah menjulurkan  lidahnya ke arah Hyera.
“Donghae-ah… cepat kembalikan syalku! Kenapa kau jadi kerasukan seperti ini, hah? Dasar gila! Jelek! Ini semua tidak lucu, tau!!” teriak Hyera dari bawah pohon. Matanya awas menatap Donghae yang terbahak-bahak di tengah rintik hujan yang mulai turun. Namja itu benar-benar membuatnya naik darah.  
“Ayolah Hyera-ya! Tidak mungkin gadis dengan tubuh ramping sepertimu tidak mampu mengejarku dengan cepat! Hahahaha…” Donghae semakin terbahak-bahak. Badannya bergetar hebat, tak kuasa ia menahan perutnya.
“Errr…!!! Kau memang benar-benar menyebalkan, LEE DONGHAE!!!” Hyera berlari menembus hujan. Berusaha meraih syal yang sengaja dilayangkan Donghae di tangan kanannya. Dengan gesit Donghae menghindari dan mengelak dari kejaran Hyera. Dia masih saja terbahak-bahak.
“Kumohon Donghae, berhentilah. Aku kedinginan.” ujar Hyera mulai melemah. Sepertinya dia tampak menyerah mengejar Donghae yang entah mengapa, sepertinya memang benar-benar kerasukan hari ini.
Donghae menghentikan tawanya. Rambut, wajah, seragam sekolah, semuanya basah terkena guyuran hujan. Donghae menatap Hyera dalam.
“Cepat berikan syalku! Aku ingin pulang. Eomma pasti bingung mencariku.” gerutu Hyera yang tersengal-sengal sambil memegangi lututnya yang kelelahan. Dadanya berdegup-degup.
“Kau benar-benar ingin pulang?” tanya Donghae datar. Tatapannya sulit diartikan. Nada bicaranya tiba-tiba berubah menjadi dingin. Perlahan dia berjalan ke arah Hyera yang sudah basah kuyup sama seperti dirinya.
“Yak! Donghae! Apa-apaan kau?” Hyera kaget melihat Donghae yang semakin mendekat ke arahnya.
“Kau menginginkan ini, bukan?” tanya Donghae sambil menggoyang-goyangkan syal di depan mata Hyera. Bak terhipnotis, dengan sendirinya mata hitam Hyera mengikuti setiap arah gerakan syal yang digoyangkan Donghae.
“n- nNe…” jawab Hyera gugup. Tiba-tiba dia meraskan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Hyera-ya….” kata Donghae pelan. Tangannya menyentuh pipi Hyera lembut. Tatapannya melunak. “Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini…” ucapnya perlahan. Dia menatap mata Hyera dalam-dalam. Hyera bisa merasakan wajahnya memanas.
“Mwoya?” Hyera menatap Donghae ragu. Dia merasakan jantungnya makin cepat berdetak. Sementara Donghae semakin menatapnya intens.
Donghae melilitkan syal di leher Hyera yang terpaku di bawah guyuran hujan. Tangannya mengusap wajah Hyera lembut. Donghae tertawa kecil “Mian, aku sengaja membuatmu marah-marah”. “Aku hanya ingin bermain-main denganmu karena nanti aku pasti akan merindukanmu”
“Ap-apa?”Hyera membelalakkan mata bulatnya yang semakin membuat Donghae tertawa gemas. Dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan Donghae.
Akhirnya Donghae menghela napas panjang dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah Hyera. “Sudah lama ingin kukatakan ini semua, aku mencintaimu Song Hye Ra….”
Hyera terkejut. Wajahnya kali ini benar-benar memerah, dia tak lagi berani menatap Donghae. Donghae merengkuh pucuk kepala Hyera dan menyandarkan di dadanya. Hujan yang turun dengan lebatnya semakin membasahi mereka berdua.
“Apakah aku boleh menjadi namjamu?”Tanya Donghae setengah berbisik.
Jantung Hyera rasanya benar-benar akan mencuat keluar. Dia tak tahu harus bagaimana di dekapan Donghae, dia hanya mampu menganggukkan kepalanya pasrah karena dia juga memang mencintai namja itu…
Donghae tersenyum bahagia dan semakin mengeratkan pelukannya di bawah rinai hujan…
***

Donghae’s POV

“Yang terhormat para penumpang, mohon maaf  karena pendaratan menuju Incheon Airport akan ditunda selama 30 menit karena cuaca yang kurang baik. Diharapkan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman demi keselamatan anda. Kami, para awak kabin mohon maaf atas semua ketidaknyamanan ini. Selamat menikmati perjalanan anda. Terima kasih.”

Pemberitahuan dari pramugari tadi telah membuyarkan lamunanku. Aku kembali tersadar dari alamku 10 tahun yang lalu. Kutatap gumpalan awan-awan hitam melalui jendela pesawat.  Baru kusadari bahwa cuaca di luar memang sangat buruk. Tampaknya di bawah sana hujan sedang deras-derasnya turun. Ah, aku kembali teringat saat itu. Tak sabar ingin cepat-cepat menginjakkan kakiku di Seoul. Bagaimana kabar dia sekarang? Apakah dia masih tetap  seperti dulu? Tapi yang paling penting, apakah dia masih mengingatku? Aish, aku benar-benar merindukannya. Dia memang sudah membuatku menjadi orang gila selama 10 tahun ini. Ayolah waktu, cepat sedikitlah kau berjalan. Aku sudah hampir saraf stadium akhir karena waktu 10 tahun ini. Aku tak sabar lagi ingin bertemu dengannya.
Aku mencoba mengamati kota Seoul dari atas sini. Mencari-cari tempat di mana tepatnya aku pertama kali menyatakan cinta pada Hyera. Di taman dekat sekolahku dulu. Waktu itu hujan turun dengan sangat deras dan membuat kami berdua basah kuyup. Aku harus menggendong Hyera hingga sampai di rumahnya karena akibat ulahku yang membuatnya kedinginan. Setelah aku menyatakan cinta padanya, gadis itu terlelap di pelukanku dan wajahnya benar-benar pucat.
Gadis itu…. Aku sangat ingin memeluknya…
Deg!
Aku merasakan ada yang bergejolak di dadaku.
Deg! Deg!
Rasa sakit ini. Kenapa tiba-tiba rasa ini muncul lagi? Ya Tuhan, apakah perasaan ini?
Deg! Deg! Deg!
Aku terus menahan dada kiriku yang rasanya seperti tertohok belati. Sakit sekali… Kenapa jantungku selalu berdenyut-denyut seperti ini?? Kenapa???
***

“Hyera, waeyo?  kau tampak pucat? Gwenchani?” Donghae melontarkan pertanyaan bertubi-tubi ketika melihat Hyera tiba di taman dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Dirinya merasa ada sesuatu yang tidak beres pada Hyera.
“Oh, eh, anniya… nan gwenchanayo.” jawab Hyera kikuk. Dia menundukkan kepalanya. Menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredam sakit yang sedang mendera dirinya. Beraharap  Donghae tidak menyadari ini semua, karena aku tak ingin dia tahu. 
“Mmm… jadi besok kau akan berangkat ke Paris?” tanya Hyera getir. Dia menatap sayu wajah Donghae. Donghae hanya diam. Sedetik kemudian dia menoleh ke arah Hyera dan terpaku.
“Kau menangis…?”
“Anni, siapa yang menangis?” dengan cepat Hyera menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah, Hyera… Aku tahu ada yang tidak beres padamu. Matamu bengkak.” Dengan segera Donghae merengkuh kepala Hyera dan menyandarkan di bahunya.
“Donghae…”
“Sstt.. sudahlah. Jangan bicara lagi. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku juga sama. Aku merasakan seperti yang kau rasakan juga. Kau lihat wajahku? Baru kali ini aku merasa diriku tak tampan. Semalaman aku menangis. Aku tak bisa tahan dengan rasa yang terus meledak-ledak seperti ini. Andai saja bisa, aku ingin tetap tinggal di Seoul, setiap hari bersamamu, menemanimu, menjagamu, dan menghabiskan hidupku hanya dengan mu. Tapi semua ini diluar kehendakku, Hyera. Appa, eomma, dan aku terpaksa pindah ke Paris. Kau tahu, keinginan terbesarku hanya satu, aku hanya ingin terus bisa bersamamu….”
“Jeongmal saranghae, Hyera…” kali ini Donghae tak mampu membendung air mata yang sejak kemarin terus meluncur keluar dari pelupuk matanya. Dia semakin memeluk Hyera erat.
“Na do…” ucap Hyera datar. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi berekspresi. Dadanya sesak. Ngilu. Nyeri. Perih. Pedih. Dia hanya menggigit bibirnya menahan gejolak di dadanya. Bulir-bulir air mata terus berderaian dari mata sendunya.
“Lalu, kapan kau akan kembali? Apakah kita masih bisa bertemu?” tanya Hyera, masih dengan sebuncah harapan bahwa yang dihadapinya sekarang hanyalah fiksi belaka. Bahwa hari perpisahannya dengan Donghae sebenarnya tak pernah ada.
“Aku tak tahu kapan… Tapi aku janji. Aku akan menemuimu. Aku akan kembali padamu. Suatu hari nanti aku akan kembali, Hyera…”
“Kau tak tahu Donghae, aku juga tak tahu apakah hari itu ada? Apakah hari dimana kita kembali bertemu memang benar-benar ada. Aku takut tak mampu bertahan, Donghae. Aku takut tak bisa kembali menemuimu. Aku takut tak sanggup. Aku takut, Donghae….” Hyera bergumam dalam hati kecilnya.
“Janji? Kita akan terus bersama?” Donghae mengangkat kelingkingnya.
Hyera tampak ragu. Kemudian akhirnya dia menautkan kelingkingnya di kelingking Donghae.
“Baiklah…. Aku berjanji.”ucap Hyera mantap.
“ Baikalah, aku akan bertahan Donghae. Aku akan bertahan demi dirimu. Meski sebenarnya aku ragu kalau aku mampu. Rasa ini benar-benar sakit… Jantungku terus berdegup kencang bahkan kadang rasanya ingin terhenti…. Tapi, jantungku akan terus berdetak selama kau tetap mengingatku, di sana Donghae…”Hyera berkata dalam hati berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk terus bertahan.
***

Hyera’s POV

Aku terkesiap dari lamunanku. Hujan yang turun sudah tak begitu lebat. Suasana di pinggiran jalanpun sudah mulai ramai kembali. Aku menyeka air mata yang sudah mulai mengering di kedua pipiku. Donghae, berapa lama lagi aku harus menunggumu? Berapa lama lagi aku harus bertahan? Aku hanya ingin menepati janjiku, meskipun rasanya waktuku sudah tak banyak lagi. Jeongmal bogoshippoyo, Donghae… Aku hanya ingin memandang wajahmu, sebelum aku benar-benar pergi.
Aku mencengkram dada kiriku. Jantungku tiba-tiba saja berdegup-degup.
Deg! Deg! Deg!
Rasa ini? Kenapa terus-menerus menderaku? Ya Tuhan… sakit sekali.
Deg! Deg! Deg!
Sakiiiiittt… ah, aku tak tahan. Ya Tuhan, kenapa rasanya benar-benar nyeri. Sakiiitt sekali
 “Nona Song, gwenchani?” aku melihat salah satu pegawai roti yang ternyata belum pulang berlari cemas ke arahku. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena tiba-tiba mataku menjadi kabur.
Deg! Deg! Deg!
Aku mengecap cairan asin di mulutku. Rasa khas ini…
Deg! Deg! Deg!
Darah…! Darah segar lagi-lagi keluar dari mulutku. Ya Tuhan… apakah ini akhir dari semuanya? Pandanganku semakin kabur. Dan semuanya gelap
***

Author’s  POV

Jeongmal gomawo, Hyuk. Ternyata kau masih ingat denganku.” ucap Donghae seraya masuk ke mobil hitam dan mengambil posisi di samping kemudi.
“Kau ini, tentu saja aku masih ingat. Raut wajahmu yang seperti ikan itu menjadi kenangan tersendiri bagiku.” namja yang bernama Eunhyuk itu tertawa menyeringaikan gusinya yang mencolok. Dengan cekatan dia meluncurkan Audy hitamnya di tengah keramaian.
“Aish! Kau juga tetap  sama, Hyuk. Ternyata setelah 10 tahun tak bertemu kau masih saja sama. Bahkan semakin mirip saja dengan monyet!” kali ini Donghae terbahak. Dia memperhatikan wajahnya melalui spion dan menggosok-gosok dagunya yang licin. “Kupikir aku tadi akan mengalami sedikit kesulitan karena harus meyakinkanmu bahwa aku benar-benar Donghae,”lanjutnya. Wajahnya tampak serius
“Maksudnya?” Eunhyuk menoleh kearah Donghae yang masih memperhatikan wajahnya melalui spion.
“Yahh… kau taulah. Bahwa sekarang aku bertambah tampan saja. Dan pasti akan sulit bagimu percaya bahwa aku ini benar-benar Donghae, teman SMA-mu dulu” seringai Donghae
Eunhyuk hanya mendengus. Dia tidak bisa berbuat banyak karena posisinya sedang mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Dia sangat merindukan sahabatnya satu ini. Dulu mereka terbiasa bercanda bersama, dan tak terasa 10 tahun berlalu Donghae masih saja sama, selalu menjudge dirinya sebagai manusia tertampan dengan seorang sahabat karib yang bertitle monyet tampan.
Tapi bagaimanapun Eunhyuk sangat menyayangi sahabatnya satu ini. Mereka sangat dekat. Bahkan se-SMA memberikan mereka gelar Fishy-Monkey karena Donghae yang sangat menyukai ikan dan Eunhyuk yang dijuluki sebagai titisan kera. Sepanjang perjalanan Donghae dan Eunhyuk terus tertawa sambil bernostalgia tentang kenangan SMA mereka.
Hujan yang sempat mereda kembali turun dengan deras. Tiba-tiba saja Donghae terdiam. Dia menatap suasana hujan dari jendela mobil dengan seksama.
“Yak! Kenapa sekarang kau diam, Donghae-ya? Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu selama 10 tahun di Paris? Apakah kau sudah punya yeojachingu?”rentet Eunhyuk panjang.
Donghae tersenyum. “Seperti itulah. Jujur saja aku tak begitu menikmati kehidupanku disana. Karena sebenarnya jiwaku masih ada di Seoul. Hatiku juga masih terpaut di sini.” desah Donghae.
“Omona… kau jadi romantis sekali sekarang. Aku jadi malu.” Eunhyuk menjawil lengan Donghae tersipu-sipu. Donghae menatap sahabatnya yang berambut kuning itu ngeri.
“Yak! Yang benar saja Hyuk. Aku masih waras”
Eunhyuk tergelak. “Jadi, kau masih menunggunya? Gadis yang selalu kau ceritakan padaku itu?”
“Ne…” jawab Donghae datar. Matanya menyapu setiap pandangan yang dilewatinya.
“Oh ya, bagaimana dengan usaha Roti Bakery yang kau kelola sekarang?”tanya Donghae mengalihkan pandangannya ke arah Eunhyuk yang serius menyetir mobil.
“Aku hanya meneruskan usaha Appa saja. Selebihnya aku menambahkan produk baru sehingga sekarang toko roti kami jadi terkenal.”jawab Eunhyuk bangga. Senyumnya melebar.
“Memangnya produk apa?”
“Strawberry monkey bread” jawab Eunhyuk santai. Donghae menganga. Namun belum sempat dia hendak bertanya lebih lanjut apa saja bahan yang digunakannya Eunhyuk terlebih dahulu mengangkat handphone-nya yang berdering.
“Ne, Yooeun-ah. Waeyo?”
“Tuan Hyuk Jae, nona Song tadi pingsan.” Jawab suara dari seberang.
“Mwo? Bagaimana keadaan nona Song sekarang?”
“Kami sekarang sudah berada di rumah sakit. Dia dalam keadaan kritis.”
“Ne, chakkaman. Aku akan segera kesana.”
Tuut… tuut.. tuutt.. Eunhyuk melemparkan handphonenya serampangan.

Donghae menatap Eunhyuk khawatir. Dia heran, hal apa yang baru saja terjadi sehingga membuat sahabatnya ini sangat panik.

“Donghae, mianhe. Sepertinya aku belum bisa mengantarmu ke apartamen. Kita harus ke rumah sakit dulu.”ujar Eunhyuk panik.
“Mwo hago, Hyuk? Kau tampak panik sekali. Siapa yang masuk rumah sakit?”
“Dia pegawaiku di toko roti. Dia menderita jantung kronis. Sudah kukatakan bahwa sebaiknya dia tidak usah bekerja. Aku bisa membantu untuk membiayai pengobatannya. Tapi dia bersikeras untuk tetap bekerja. Kasihan gadis itu… dia hanya tinggal berdua dengan eommanya. Dia benar-benar ingin sembuh dari sakit jantungnya.” jelas Eunhyuk panjang lebar. Tampak jelas Eunhyuk sangat mengkhawatirkannya. Mata Eunhyuk berkedut-kedut. Dia menangis!
“Hyuk, kau tak apa-apa?” Donghae menepuk-nepuk bahu Eunhyuk. Pemandangan yang sulit ditemukan melihat  Eunhyuk menangis. Sementara Eunhyuk terdiam dan semakin menambah kelajuan mobilnya.
“Aku menyukainya, Hae…. Aku sungguh menyayangi gadis itu…” ucap Eunhyuk terbata.
Donghae sontak tercekat. Dia merasa ini semua ada sangkut paut dengan dirinya.
“Dia…. Yeojachingu mu?” tanya Donghae hati-hati.
“Bukan.” Jawab Eunhyuk datar. “Dia sedang menunggu seseorang… Dia sudah punya pilihan sebelum aku sempat masuk ke hatinya… Dia bilang…. Satu-satu kekuatannya bertahan akan sakit jantungnya karena namja itu….” Eunhyuk membanting stirnya. Tampak jelas dia sedang meredam amarah. “Ntah siapa namja itu! Bodoh sekali meninggalkan gadis yang dengan tulus mencintainya. Bahkan memberi sedikit kabarpun tidak! Namja itu telah membuat dia tersiksa!” Eunhyuk menggertakkan rahangnya.
Donghae tercekat. Jantungnya tiba-tiba berdegup lagi. Dia semakin merasa bahwa yang dikatakan Eunhyuk itu adalah dirinya. Dia merasa bahwa gadis itu adalah….
“Kalau aku boleh tahu, siapa nama gadis itu?” tanya Donghae pelan.
“Gadis itu bernama….. Song… Hyera…”

DEG! DEG! DEG!
***

Hyera’s POV

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Kenapa semuanya putih? Terakhir kali aku melihat semua yang ada di sekitarku benar-benar buram dan gelap. Aku merasa tubuhku benar-benar melemah. Kuangkat sebelah tanganku. Kenapa tubuhku membiru??
“Hyera-ya… kau sudah sadar?”
Suara itu? Ah, aku pasti mengigau. Aku benar-benar sudah tak tahu lagi sekarang berada di mana. Sampai-sampai suara yang sangat kurindukan itu rasanya benar-benar dekat dengan diriku.
“Hyera-ya… syukurlah. Aku benar-benar khawatir.”
Sekarang aku tambah yakin bahwa aku tidak sedang berada di dunia. Bayangan itu mendekat ke arahku. Mungkinkah dia malaikat yang menyerupai dirinya? Siapapun tolong katakan padaku, di mana sebenarnya aku sekarang?
“Hyera-ya…”
Suara itu.. suara itu benar-benar nyata.
“Donghae-ya….?”  Akhirnya….  Aku sungguh tak percaya akhirnya suaraku bisa menggaungkan namanya lagi…
“Ne… bagaimana keadaanmu?” ucap Donghae lembut. Matanya menatap kedua bola mataku dengan penuh kasih sayang.
“Kkau… bbenarkah i-itu.. k-kau?” aku tergagap. Donghae tersenyum tulus.
“Ne…” Kali ini dia mengusap keningku dan mengecupnya pelan. “Sekarang kau sudah percaya kan bahwa ini aku?”
Perasaan hangat sekejap menjalari tubuhku. Donghae… ternyata benar kau Donghae… Aku tak mampu menahan gejolak di dadaku. Semua penantian ini… semua rasa sakit ini… rasanya benar-benar pupus hanya dengan menatap wajahnya. Jangtungku masih saja berdegup-degup. Tapi detakannya melemah… dan semakin melemah. Kulihat Donghae menangis menatapku. Eomma yang baru muncul terlihat khawatir. Tampak jelas raut kelelahan dari sorot matanya.
Aku kembali menatap Donghae, namja yang sangat aku cintai. Dia telah menyiksa perasaanku selama 10 tahun ini… dan kini… dia kembali berada di sampingku. Dia tampak sangat tampan… benar-benar tampan… aku merasa malu dengan kondisiku yang benar-benar tidak cantik. Wajah pucatku dan tubuhku yang semakin mengurus. Ntah mengapa Donghae masih bisa menyukaiku….
Donghae, aku sudah menepati janjiku… Aku sanggup bertahan sampai menunggu kau kembali… Dan kurasa… waktuku bersamamu tak lama lagi…
***

Donghae’s POV

Aku benar-benar bahagia bisa kembali bertemu dengan Hyera. Namun pertemuan seperti ini tak pernah aku harapkan. Dalam bayanganku kami akan bertemu di tempat yang sama. Di taman yang sama ketika kami berlari-larian menembus hujan. Ini semua salahku. Aku sama sekali tidak mengetahui keadaan Hyera. Aku tak menyadari bahwa Hyera-ku sakit. Dan ternyata dia bertahan hanya untuk menepati janjinya bertemu denganku. Aku memang Namja goblok! Pantas saja Eunhyuk menamparku ketika mengetahui itu semua. Aku benar-benar bodoh. Bodoooooohhhh…
Sekarang aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana aku menebus kesalahanku pada Hyera? Gadis itu sekarang berbaring lemah. Dia hanya tersenyum menatap diriku yang jahat ini. Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri karena telah membiarkannya menderita seperti itu. Harusnya selama 10 tahun ini aku merawatnya. Bukan malah membiarkannya terlunta-lunta dengan perasaan sakit di jantungnya. Aku sudah melanggar janjiku untuk terus menjaganya. Namja seperti apa aku ini?
Aku mengecup tangan pucat Hyera. Tiba-tiba detakan jantungku melemah. Dan rasanya semakin melemah saja. Ternyata selama ini rasa sakit di jantungku adalah rasa yang sama dirasakan Hyera…
“Donghae-ya…” panggil Hyera lemah.
“Ne… mwo hago, chagi-ya?” Aku menatap Hyera penuh kekhawatiran.
Hyera tersenyum.
“Saranghae….” Ucapnya setengah berbisik. Aku hanya tercekat. Jantungku benar-benar ngilu melihat Hyera. Gadis kecilku yang cerewet ini sekarang sedang berbaring lemah. Wajahnya pucat…. Dan semakin kurasakan bahwa denyut jantungnya melemah.
Hyera beranjak dari tempat tidurnya. Dengan sigap aku memapah dirinya. Dia berdiri  menatap keluar jendela. Tangannya selalu menggosok-gosok dada kirinya. Lagi-lagi aku merasakan nyeri yang hebat.  Akupun ikut menatap keluar jendela. Lagi-lagi hujan….
“Donghae-ya… kau masih ingatkan 10 tahun yang lalu? Ketika kita berlarian di tengah hujan?” tanya Hyera lembut.
“Tentu saja… Aku masih ingat kau dulu sangat kurus dan garang.” Jawabku mencoba menggodanya. Aku berusaha untuk tegar. Padahal rasa ini sungguh-sungguh sakit.
“Hem… kau masih saja sama. Dasar namja nakal!” Kulihat Hyera menyunggingkan senyumannya. Kenapa? Kenapa rasanya aku semakin tak sanggup saja melihatnya?
Kami terdiam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku benar-benar tak sanggup. Aku tak sanggup Hyera… Aku tak sanggup melihatmu sakit..
“Waktu kau pergi ke Paris aku sempat tak nafsu makan selama sebulan. Kalau kau melihatku waktu itu pasti kau akan terpingkal-pingkal karena tubuhku semakin mirip saja dengan ranting kayu saking kurusnya” ucap Hyera memecah keheningan. “Aku sangat rindu padamu Donghae, rinduuu sekali. Aku tak tahu bagaimana mengobati rasa rindu ini, kecuali dengan menatap hujan. Tapi lama-lama aku malah membenci hujan karena aku merasa kau tak akan pernah datang… ”
Hyera… maafkan aku… maafkan aku…. Aku tak mampu berkata sekarang. Dadaku sesak.
“Aku tak berani mengatakan tentang penyakitku padamu, karena aku tak ingin kau akan berubah pikiran. Aku tahu, kau pasti akan melakukan hal yang bodoh jika dulu kau tahu bahwa aku jantungan…”lanjut Hyera. Masih dengan tatapan menatap hujan.
Hangat… butir-butiran bening telah meluncur dari kelopak mataku. Nyeri sekali. Aku memeluk Hyera yang berdiri di depanku. Hyera… aku bisa merasakan sakit yang kau rasakan…
“Awalnya aku tak yakin sanggup bertahan, karena aku tak tahu kapan kau kembali padaku. Tapi aku sudah berjanji akan menunggumu. Karena itu aku masih bisa bertahan sampai sekarang. Aku benar-benar takut, Donghae. Aku sudah seperti mayat hidup saja memikirkanmu. Aku takut kau sudah lupa padaku dan tertarik dengan gadis-gadis Paris yang cantik dan seksi. Sementara di sini aku hanyalah gadis kurus yang penyakitan…” tutur Hyera
“Hyera-ya…” aku hanya mampu menyebut namanya. Dadaku benar-benar sesak. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mataku. Aku semakin mengencangkan pelukanku. Tak ingin melepaskan Hyera yang semakin rapuh.
“Tapi aku bahagia, Donghae… Aku bahagia kau kembali padaku. Kau menepati janjiku dan akupun sudah menepati janjiku… Aku senang karena mampu bertahan hingga kau kembali. Penyakit ini sudah seringkali menyiksaku. Tapi aku bahagia sudah melihatmu, meskipun…. Aku tahu… waktuku tak banyak lagi untuk bersamamu….” Kata-kata Hyera semakin pelan…
“Sudahlah Hyera, jangan berkata seperti itu…. Kumohon… aku kembali padamu karena ingin terus berada di sisimu. Bukan untuk melihat kepergianmu…” isakku, kali ini rasanya jantungku tak berdenyut lagi. “Kita akan terus bersama Hyera… aku sudah janji. Aku akan bersamamu… ”
Aku benar-benar tak mampu berpikir. Rasanya semua kerja sarafku terhenti saat itu juga. Aku benar-benar tak mau melihat Hyera pergi dari ku. Aku benar-benar tak bisa jika Hyera meninggalkanku. Aku ingin Hyera tetap hidup. Aku ingin menebus kesalahanku yang telah meninggalkannya selama 10 tahun. Aku ingin melihat Hyera tertawa lagi, berlari lagi. Aku ingin dia terus bernafas. Aku ingin dia masih bisa merasakan hujan….
Denyut jantung Hyera seperti tak terdengar lagi. Aku merasakan sesuatu mengalir di tanganku. Darah! Ya Tuhan… hidung Hyera berdarah. Aku merenggangkan pelukanku. Dan kulihat mata Hyera sudah terpejam. Ya Tuhan… kumohon… kumohon berikanlah kesempatan Hyera untuk menghembuskan nafas lagi....
***

Hyera’s POV
Aku melihat Donghae menangis. Eomma terburu-buru masuk ke ruangan. Kulihat dokter dan perawat tergesa-gesa menggunakan alat pendeteksi detak jantung pada diriku. Diriku??? Aku tersadar diriku sedang melayang menatap mereka semua. Kulihat Tuan Hyukjae datang bersama Yooeun. Dokter mengisyaratkan bahwa sepertinya usaha yang dilakukan mereka sudah maksimal dan tak ada yang bisa diselamatkan lagi. Aku menatap diriku sendiri yang terbujur biru. Donghae meraung-raung di tepi ranjangku. Dia benar-benar terpukul. Donghae beranjak menatap jasadku. Kemudian ntah apa yang dilakukannya karena tiba-tiba saja aku seperti tersedot ke dalam pusaran yang sangat gelap.
***
Blash!!
Aku membelalakkan mataku. Kulihat eomma yang tertidur di tepi ranjangku. Rasanya aku mengenal tempat ini. Bukankah ini kamarku? Kenapa aku bukan berada di rumah sakit? Lalu di mana Donghae?
“Eomma…” aku menyentuh tangan eomma. Eomma tampak terkejut dan tersenyum padaku.
“Hyera… syukurlah kau sudah sembuh. Eomma sangat mengkhawatirkanmu.
Sembuh?? Apa aku sudah sembuh dari sakit jantungku??? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?? Aku benar-benar merasa sakit kenapa sekarang langsung sembuh seperti halnya mimpi??? Aku tak mungkin bermimpi.
“Eomma, mana Donghae?”tanyaku was-was.
Aku tak mendengar jawaban dari Eomma.
“Eomma?”tanyaku lagi. “Di mana Donghae?”
“Donghae… Donghae sudah kembali ke Paris, Hyera…” jawab eomma lemas. Matanya terlihat berkaca-kaca
“Kenapa? Kenapa dia datang dan pergi begitu saja?”aku mulai emosi. Seenaknya saja Donghae mempermainkan perasaanku. Datang bagai malaikat kemudian meninggalkanku begitu saja.
“Dia tiba-tiba ada urusan.” Ucap eomma.
Aku mencium sesuatu yang tidak beres. Kenapa semua ini terjadi begitu cepat?
“Dia menitipkan ini pada eomma.”ujar eomma seraya menyerahkan secarik kertas. Dengan tak sabar aku meraih kertas itu dari eomma. Rasanya aku benar-benar ingin marah. Namja itu! Benar-benar seenaknya saja. Kenapa kau ini, Donghae? Aku membaca tulisan yang tertera di kertas itu. Hanya berupa kalimat singkat.
“Hyera… maafkan aku. Ketika kau membaca ini aku yakin kau pasti sudah sembuh. Aku harus pergi… demi dirimu… Maafkan aku… Meskipun kau tak bisa melihatku, yakinlah bahwa hatiku selalu bersamamu…, jeongmal saranghae, chagi-ya…”
Apa-apaan ini. Apa maksudnya pergi demi diriku? Kau jahat Donghae, jahaaatt….!!! Aku benci kau. Sudah 10 tahun kau pergi dan sekarang kau pergi lagi. Sampai berapa lama?
Kalau begini kenapa aku tidak mati saja? Percuma aku sembuh jika lagi-lagi Donghae harus pergi dariku. Aku menangis lagi.
***

Aku duduk di taman tempat aku dan Donghae dulunya sering bercerita. Aku masih merasakan denyutan di jantungku. Meskipun kata dokter aku sudah sembuh. Aku tak tahu kenapa aku bisa sembuh. Padahal aku mengira bahwa ajalku sudah dekat. Kata eomma aku mendapat donor jantung dari seseorang. Tapi aku tak tahu siapa dia.  aku ingin berterima kasih pada keluarga orang yang telah mendonorkan jantungnya padaku.
“Nona Song?” seseorang dari belakang memanggilku. Aku menolehkan pandanganku. Ternyata Tuan Hyukjae.
“Tuan Hyukjae? Kenapa kau bisa datang kemari?”tanyaku heran.
“Aish! Sudahlah, jangan memanggil-manggilku dengan sebutan tuan. Panggil saja aku Eunhyuk. Rasa-rasanya aku benar-benar tua jika kau panggil tuan.”Eunhyuk terkekeh kemudian mengambil posisi duduk di sebelahku.
Aku terdiam. Aku teringat Donghae, karena yang biasanya ada di sampingku adalah Donghae. Tapi yang di sebelahku sekarang adalah Tuan Hyukjae.
“Apakah kau tahu kenapa Donghae pergi?” tanyaku dengan tatapan lurus ke arah kaki langit. Eunhyuk hanya diam, kemudian melemparkan batu kerikil ke arah semak-semak.
“Dia pergi karena mencintaimu…”jawabnya pelan.
“Aku tidak mengerti, Eunhyuk-ssi? Kumohon jelaskan padaku. Kau kan temannya…?”aku mulai tak mampu menahan dadaku yang bergejolak. Jauh di lubuk hatiku aku merasa ada yang berdenyut. Seperti ada sesuatu yag hidup di dalam sana. Air mataku mengalir lagi.
“Aku ingin dia kembali…. Aku ingin bersamanya…”aku sesenggukan
Eunhyuk menatapku. Dia menghapus air mata yang mengalir di kedua pipiku.
“Dia mencintaimu, Hyera. Dia selalu bersamamu…” mata Eunhyuk berkaca-kaca. Kemudian dia meraih tanganku dan meletakkannya di dada kiriku.
“Kau bisa merasakan dirinya…”ucap Eunhyuk pelan. Aku semakin tak mengerti.
“Donghae ada di hatimu, sekarang dan untuk selamanya…”lanjutnya perlahan.
“Donghae lah yang telah mendonorkan jantungnya untukmu, Hyera…”
DEG!
DEG!
Apa benar???Apa benar yang dikatakan Eunhyuk ini?
Donghae…?
Jantungnya…?
Untukku?

“Dia lebih menginginkan melihatmu hidup bahagia, daripada dirinya harus melihatmu pergi… dia sangat mencintaimu…”
“T-tappii…. Bbagaimmana bisa…” aku terbata. Lidahku kelu. Bagaimana mungkin? Donghae merelakan hidupnya untuk ku? Jantungnya? Tidakkk… mungkin. Aku melihat mata Eunhyuk. Berusaha mencari sirat kebohongan di sana.Tapi tak ada. Eunhyuk tak mungkin berbohong.
“Kau tidak sedang bercanda kan?!?” tanyaku getir. Tubuhku bergetar hebat. Eunhyuk menggelengkan kepalanya lemah.
“Dia menyuruhku untuk menjagamu, Hyera…”
Tidak… tidak… tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Aku mencubit lenganku berulang kali dan berharap akan segera terbangun. Namun aku masih saja melihat Eunhyuk di depanku. Yang artinya aku tidak sedang bermimpi. Aku menggigit bibirku. Mencoba meredam sakit ini. Donghae…! Kau memang pabo! Kau pabo Donghae….
Aku mengelus dadaku terus menerus. Berharap rasa sakit ini hilang. Tapi rasa-rasanya malah bertambah sakit. Rasanya sakit sekali…. Menyesakkan… aku tak tahu lagi bagaimana wajahku sekarang. Rasanya mataku sekarang sudah menyipit karena aku terus menerus menumpahkan air mata.
Eunhyuk merengkuh tubuhku. Memelukku dan mendekapku di dadanya. Aku tak kuasa menahan semua ini. Rasanya aku ingin mencabut jantung ini dan membiarkan Donghae yang hidup. Tapi kenapa dia harus memberikan jantungnya untukku? Eunhyuk menggosok-gosok punggungku. Tubuhnya bergetar. Aku tahu Eunhyuk pun menangis.
“Dia bersikeras ingin menyelamatkanmu. Sebelumnya dia sudah pernah mengatakan ini padaku. Dia ingin mendonorkan jantungnya padamu karena jantung kalian cocok dan kalian mempunyai golongan darah yang sama. Tapi aku sempat melarangnya….” Eunhyuk bergetar, dia mengumpulkan sekuat tenaga untuk melanjutkan ucapannya. “Dia… dia meminta dokter untuk menyuntik mati kemudian memindahkan jantungnya padamu…”tangis Eunhyuk pecah.
“Donghae…” ucapku bergetar “Donghae… kau memang namja gila…” sekarang aku memuluk-mukul dadaku sendiri.

Aku tak bisa berpikir. Aku tak bisa bernapas. Rasanya udara di sekitarku mulai menipis. Aku merasa beribu-ribu anak panah menghunus jantungku. Jantung Donghae yang sekarang tertanam di diriku.
Kepalaku rasanya berputar-putar. Wajah Donghae berputar-putar di otakku. Suaranya menggema di pikiranku

Aku janji… aku akan selalu bersamamu, Hyera…

Aku ingin terus hidup bersamamu…

Aku ingin menjagamu, memberikan segalanya hanya untukmu…

Meskipun kau tak melihatku, yakinlah aku terus bersamamu…

Dimanapun dan kapanpun, kau dapat merasakanku, Hyera…

Aku rasanya terlempar ke jurang paling kelam. Aku benar-benar dilanda kesedihan yang hebat. Akan lebih baik jika aku saja yang meninggalkan dunia daripada menikmati dunia tanpa Donghae di sisiku.
Aku akan menjaga jantungmu, Donghae….

Detak jantungku adalah detak jantungmu…

Terimakasih sudah memberikan kehidupan untukku…

Kau akan terus hidup di dalam diriku…

Kapanpun itu….

Saranghaeyo Donghae….

The End…

Ottoke? Ottoke?
Mian ya kalo FF nya jelek. Rada-rada nggak nyambung, hehe. Maklum ini one shoot author yang pertama kali.
Gomawo yang udah baca^^





0 komentar:

Posting Komentar