Masih
ingatkah kita mengenai adegan yang tak lumrah terekam melalui video handphone.
April 2008 lalu sekelompok remaja putri
menganiaya temannya sendiri dengan cara memukul bergantian ke arah kepala,organ
vital yang menentukan masa depan setiap orang. Atau mengenai tawuran antar remaja SMA antar
dua sekolah.
Dari
dialog yang terekam, korban diperintah menunjukkan sikap hormat pada anggota-anggota
geng yang bernama Nero. Saat korban mengangkat tangan ke samping kanan dahinya seperti
layaknya hormat benderaseorang
temannya mendampar wajahnya berkali-kali. Lalu sesekali menonjok tepat di
hidung dan mulut korban sampai kepala korban terantuk ke belakang. Sebuah
pertunjukan yang biasa ditemui di atas ring tinju. Namun pertunjukan yang satu
ini lebih dari perhelatan di atas ring tinju: tanpa sarung tangan, dilakukan
dengan keroyokan dan tanpa perlawanan dari pihak lawan.
Hal
yang tak kalah menarik perhatian khalayak ramai adalah tawuran siswa remaja SMA
yang membuat hati siapa saja menjadi miris
ketika melihat kejadian tersebut. Bukan saja berdampak buruk bagi mereka
yang terlibat dalam tawuran, tapi juga merugikan pihak sekolah. Bahkan tak
dipungkiri melukai orang lain di sekitar tempat kejadian.
Yah…
Mau tidak mau kita harus menelan bulat-bulat bahwa itulah potret diri kehidupan
remaja Indonesia yang menyimpang. Yang tak lagi hidup dengan aturan adat dan
tradisi yang sebagaimana mestinya. Akankah perkembangan jaman menghasilkan
generasi muda yang semakin menyimpang?
Apabila hal ini
terus dibiarkan, maka akan membuat ibu pertiwi ini semakin menderita. Semakin
banyak remaja yang menyimpang seiring perkembangan jaman. Bukan tidak mungkin, budaya
asli Indonesia lama kelamaan akan hilang dari peradaban bangsa. Karena setiap
tahun Indonesia akan kedatangan musuh atau budaya baru yang hendak menutup
budaya Indonesia dengan penawaran-penawarannya.
Berbicara tentang kekerasan, kita mendapati
ketetidakwajaran yang menjadi lumrah terutama akhir-akhir ini. Kekerasan banyak
dijumpai di tempat umum seperti di jalan raya, perumahan, kampus dan sekolah
maupun di keluarga. Ketakwajaran yang belum lagi lumrah adalah kekerasan ini
dilakukan oleh perempuan dan pada saat usia pelaku baru menginjak remaja.
Perempuan merupakan sosok yang identik dengan pribadi feminin. Tentang
kepribadian feminin, sudah menjadi rahasia umum jika memaparkan ciri-cirinya
yakni penuh kasih sayang, simpatik, jentel, sensitif, pengasuh, anggunn keibuan.
Namun, kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok remaja putri ini lebih
cenderung menunjukkan pribadi “maskulin“daripada feminin. Wow… keren.
Disamping kekerasan seperti yang dilakukan
remaja putri di atas, ada banyak perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dan
makin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku tersebut antara lain
penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), hamil sebelum
menikah, premanisme di kalangan pelajar dan sebagainya.
Masa Remaja
Masa
remaja adalah usia yang niscaya dilewati oleh setiap orang dewasa. Masa ini
akan menguji setiap orang bahwa tidak selamanya hidup dilewati dengan
perjalanan yang mulus dan lurus. Mungkin si pejalan yang remaja itu tahu
lurusnya jalan. Seorang pedayung yang hendak menuju suatu pulau mungkin tahu
arah jalannya dan mungkin tahu ada badai di depan, tapi tidak semua pendayung
bisa melewati badai dan sampai pada tempat yang dituju.
Masa
remaja adalah masa yang penuh badai dan tidak semua orang bisa lolos melewati
masa-masa itu. Remaja menunjukkan emosi yang labil sehingga mudah dipengaruhi. Remaja
cenderung menunjukkan keakuannya pada orang lain. Kebutuhan untuk diakui bisa
menjerat remaja pada tindakan yang dilarang oleh norma. Dengan kata lain, remaja
bisa saja melakukan tindakan yang melanggar norma asal dirinya bisa diakui oleh
orang lain. Ciri adanya badai lain adalah makin tidak terbendungnya arus
informasi seiring dengan makin mudah didapatnya teknologi informasi.
Remaja bisa dengan mudah memamah informasi
tentang apapun. Bisa dipastikan, hampir semua remaja di kota sudah familiar dengan handphone, bahkan bisa
berganti-ganti model sesuai tren terbaru. Internet sudah bisa diakses sampai ke
pelosok, dimana saja dan kapan saja. Internet menyediakan beragam informasi dan
pengetahuan sesuai kebutuhan penggunanya hanya dengan satu dua kali menekan
tuts keyboard. Lihat! Betapa mudahnya…
Televisi
menjadi penyedia layanan informasi yang paling banyak dikonsumsi, terlebih
banyak handphone yang sudah memiliki fasilitas gambar hidup itu. Media cetak
beragam jumlahnya dan mampu memenuhi beragam hobi dan minat setiap orang.
Derasnya informasi yang mengalir ke segala penjuru ruang sosial di masyarakat tentunya akan memengaruhi pengguna informasi itu. Informasi yang dikenyam akan memengaruhi cara pandang, sikap, perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan seseorang.
Derasnya informasi yang mengalir ke segala penjuru ruang sosial di masyarakat tentunya akan memengaruhi pengguna informasi itu. Informasi yang dikenyam akan memengaruhi cara pandang, sikap, perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan seseorang.
Badai informasi pada kalangan remaja
Namun,
beragam tayangan kekerasan dalam televisi tidak bisa dianggap remeh, apalagi
yang tidak ada hubungannya dengan kekerasan yang dilakukan remaja. Televisi
sudah jadi media yang tidak mungkin dilepas dari keseharian masyarakat,
didalamnya tersaji banyak tayangan yang kurang mendidik bahkan banyak diwarnai
adegan kekerasan. Informasi selebriti mengabarkan kekerasan : perceraian maupun
kekerasan yang dilakukan antarartis. Berita di televisi bertabur kekerasan:
perselisihan antarwarga kampung, perseteruan antarpendukung pilkada. Film tidak
enak dinikmati tanpa adegan kekerasan, bahkan sinetron yang diputar di televisi
kita sebagian besar tidak mengandung unsur pendidikan. Satu hal lagi yang perlu
di singgung di sini, yaitu penggunaan internet oleh kalangan remaja. O’..owww.
Lumpuhnya Budaya Asli Bangsa
Sebuah
bangsa dikatakan hebat apabila mampu mengangkat nama bangsanya sambil
tersenyum. Namun, kini banyak generasi muda bangsa yang malu mengakui dirinya
sebagai generai penerus bangsa. Sebagai contoh, banyak anak remaja yang mulai
senang membeli baju, sepatu atau tas impor dan mereka bangga atas hal itu.
Sebaliknya mereka merasa sangat malu apabila membeli barang di pasar yang
memang asli buatan Indonesia. Gengsi amat
sih…
Dengan
mudah norma-norma yang berlaku di masyarakat tertentu akan diadopsi oleh
norma-norma di masyarakat lain. Mode pakaian yang baru muncul di Perancis
dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat di kota kecil. Apabila
dari kecil saja banyak generasi muda yang mulai acuh terhadap budaya bangsa.
Bagaimana nasib budaya asli Indonesia 10 tahun kedepan? Masihkah ada budaya asli bangsa ini yang dulu diagung-agungkan?
Hmmm..
Korban yang harus dibela
Perubahan
zaman menuju era informasi memiliki andil besar dalam membentuk sikap dan
perilaku remaja. Perilaku menyimpang tidak hanya semata-mata bersumber dari
remaja itu sendiri. Tapi, adanya perubahan zaman bisa memacu remaja bersikap
dan berperilaku di luar batas normativitas. Keterbukaan informasi dan
komunikasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
mungkin merupakan salah satu sebab.
Sehingga kita
sebagai generasi penerus bangsa harus siap merajut cinta untuk Indonesia dengan
menjauhi perbuatan-perbuatan yang menyimpang, yang dapat merugikan orang lain,
dan merusak moral penerus bangsa. Selamatkan generasi muda, selamatkan bangsa
Indonesia.
Kita semua
berharap remaja Indonesia bisa berkualitas lebih baik untuk mencapai Indonesia
yang lebih baik pula. Tetap mencintai dan merasa bangga akan bangsa Indonesia,
mencintai alam, tradisi, adat, hingga produk dalam negeri.
Semua
berawal dari kita, para generasi bangsa…
































