Sabtu, 28 Januari 2012

Love, Too Late


Title                :           Love, Too Late
Author             :           Riani Charlina
Main Cast       :           Lee Sungmin, Park Ji Eun, Park Jung Soo
Genre              :           Romance


Musim  gugur  tiba di masa penghujungnya. Sementara angin dingin perlahan mulai merangkak. Dedaunan kering bertebaran tak tentu arah. Mengambang sejenak di permukaan udara kemudian jatuh kembali dan terkulai di atas gundukan tanah. Dan tangan gadis itu kembali merengkuh helai demi helai dedaunan yang berguguran lemah, mendekapnya, seakan berharap dapat meraup kepingan cintanya yang telah pecah.
Langit senja kala itu seakan tak ingin menghiraukan bisikannya. Kesunyian yang tercipta hanya menambah kepedihannya. Kesedihan yang terus mendera karena keterlambatannya menyadari cinta yang sudah datang dengan tulus untuknya. Cinta yang kini telah pergi bersama dengan luapan penyesalannya…

***

 “Oppa, cukup! Aku tak ingin mendengarnya lagi.” Ji Eun beranjak dari kursi duduknya dan bergegas melangkah keluar.
“Ji Eun-ah, tunggu. Kumohon dengarkan aku.” Laki-laki yang menjadi lawan bicaranya itu mencegat tangan Ji Eun dan kembali mendudukkannya di kursi.
Mianhae, aku harus mengatakan ini semua padamu.” Laki-laki itu menatap Ji Eun pasrah. Sementara Ji Eun hanya diam dengan genangan air di pelupuk matanya.
“Ji Eun-ah… aku tahu ini sangat menyakitimu. Tapi aku tak ingin kau akan lebih tersakiti jika hal ini dibiarkan berlarut-larut. Mianhae, jeongmal mianhae  Ji Eun. Silakan  kau maki aku. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan  kebenaran ini. Silakan  jika kau ingin membenciku seumur hidupmu. Aku yang salah! Aku yang bodoh! Aku yang jahat telah mempermainkan perasaanmu.” Ucap laki-laki itu frustasi. Dia menggapai tangan Ji Eun yang bergetar hebat. Wajahnya basah.
“Ji Eun-ah… bicaralah. Jangan diam seperti ini. Silakan kau pukul aku. Lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku untuk melampiaskan amarahmu. Pukul aku, Ji Eun! Pukul saja!” Laki-laki itu mulai memukul-mukulkan tangan Ji Eun ke kepalanya. Dia pun tak kuasa menahan tangisnya.
“Cukup, Oppa!! Hentikan!” sergah Ji Eun menghentakkan tangannya kasar. Tubuhnya berguncang. Dia menatap laki-laki di depannya dengan nanar. Dadanya sesak. Dia tak pernah merasakan perihnya patah hati sesakit ini. Rasanya dia ingin menderita amnesia saja dan tak pernah mengenal bahkan mengingat laki-laki yang ada di hadapannya sekarang ini. Laki-laki ini telah membuat jiwanya lumpuh dalam sekejap. Laki-laki ini telah membuat hatinya mati rasa.
Laki-laki itu mendekat dan memeluk Ji Eun yang mematung dengan isakkan tangisnya.
“Aku mencintaimu, Ji Eun.  Aku mencintaimu…” laki-laki itu mendekap Ji Eun erat, membiarkan Ji Eun menumpahkan tangis di dadanya. “Aku mencintaimu, adikku…” katanya pelan.
“K-kau jah-hat, Op-pa… a-aku mem-ben-ci-mu…”ucap Ji Eun terbata di sela-sela isakkan tangisnya.
Laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya, dia lebih memilih diam dan membiarkan Ji Eun berkata-kata.
“K-kau tahu, Oppa… aku mencintaimu lebih dari setengah jiwaku. Aku mencintaimu layaknya kaulah cinta terakhirku. Aku sangat mencintaimu…. Bahkan dengan yakinnya kukatakan pada eomma bahwa kaulah yang nantinya akan menjadi pendampingku…”
“T-tapi… kau malah mempermainkan perasaanku… dan membiarkanku bahagia dibalik kebohongan yang kau ciptakan. Kau seolah memberi harapan padaku, padahal kau mengetahui bahwa cinta yang terjalin adalah cinta terlarang….”
“Sakit, Oppa… benar-benar sakit rasanya. Kau benar-benar telah mengatakan kebenaran yang sangat menyakitkan. Hingga rasanya hati dan jiwaku mengerang dan menolak untuk mempercayai kenyataan bahwa kau adalah kakak tiriku, Jung Soo Oppa…” dengan susah payah Ji Eun menyelesaikan kalimatnya.
“Ji Eun… mianhae” Laki-laki yang bernama Jung Soo itu merenggangkan pelukannya dan mengalihkan pandangannya ke Ji Eun yang wajahnya telah membengkak. “Aku mencintaimu, Ji Eun. Rasa cintaku untukmu adalah rasa cintaku untuk orang yang kukasihi. Aku menyayangimu sebagai kekasihku. Sama seperti yang kau rasakan. Hingga kenyataan ini terkuak dan mengoyak batinku. Ternyata kaulah gadis itu. Kaulah gadis yang selalu diceritakan Appa. Kau adalah puteri Appa-ku. Dan saat mengetahui itu, aku benar-benar frustasi dan tak bisa berpikir lagi. Aku tak tahu apa yang seharusnya kurasakan. Apa aku harus membencimu sebagai saudara tiriku, yang menjadi penyebab pertengkaran appa dan eomma? Tapi itu sama sekali tak mungkin, karena aku sangat mencintaimu Ji Eun, dan aku tak pernah berharap cintaku untukmu adalah cinta dari seorang kakak untuk adiknya. Aku bertahan untuk tak mengatakan ini, karena aku masih menyimpan harapan. Aku berharap bukan kaulah gadis itu. Dan selama itu pula aku berusaha untuk menyadarkan diriku, bahwa cintaku untukmu adalah cintaku untuk seorang adik, bukan kekasih.” jelas Jung Soo panjang lebar
Oppa…”
“Bukan hanya malam ini saja aku menangis seperti ini. Tapi tiap malamku selalu kuhabiskan dengan memikirkan ini semua. Aku hampir gila, Ji Eun! AKU HAMPIR GILA!” Jung Soo kembali mendekap Ji Eun dan menumpahkan segala rasa yang menderanya di pundak gadis itu.
“Aku mengerti, Oppa… tapi aku belum bisa menghilangkan rasa sakit ini. Hal yang sangat sulit untuk membiasakan diriku bahwa kau adalah kakakku…” kali ini tangis Ji Eun sedikit mereda. Diusapnya punggung laki-laki yang dicintainya itu dengan penuh kasih sayang.
 “Lakukanlah apa yang kukatakan, Ji Eun. Dengan demikian perlahan-lahan rasa itu akan hilang.” pinta Jung Soo dengan penuh harap.
Aniya, Oppa. Aku tak bisa jika harus melakukan itu. Aku belum bisa…”tolak Ji Eun cepat.
“Kau bisa membuka hatimu, Ji Eun. Percayalah padaku.” Jung Soo berusaha meyakinkan Ji Eun tapi sebenarnya dia juga berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Oppa, aku tak bisa…”
“Kau bisa membuka hatimu, Ji Eun. Percayalah kita bisa melewati keadaan ini.”
Oppa….” Ji Eun menatap Jung Soo dalam. Hati kecilnya masih belum sepenuhnya mempercayai semua ini. Sedetik kemudian lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. “Aku tak kan pernah bisa, Oppa. Aku tak bisa lagi mencintai laki-laki selain dirimu”
Hening.
 Hanya terdengar desau angin dari luar Queen Café, kafe tempat Ji Eun dan Jung Soo bekerja. Pegawai lainnya sudah pulang sejam yang lalu. Menyisakan keheningan di antara Ji Eun dan Jung Soo yang terdiam dengan gejolak hati masing-masing. Masih dengan deraian air mata di antara mereka berdua.
“Aku tak memaksamu, Ji Eun. Tapi sebaiknya kau lakukan apa yang kuharapkan.”

***

Enam bulan kemudian

Sungmin mempercepat langkahnya. Dia tidak ingin membuat gadis yang dicintainya marah atas keterlambatannya. Sesekali diliriknya arloji di tangannya yang sudah bergerak melewati angka 9. Sungmin mendengus kesal. Andaikan Kyuhyun, teman satu apartemennya itu tidak memakai motornya, tentu dia bisa lebih cepat tiba di kafe tempat Ji Eun bekerja. Hari ini Ji Eun  meminta Sungmin untuk menemuinya di kafe, sebelum kafe tutup pukul 9 malam. Tentu saja hal ini membuat Sungmin sangat senang. Selama ini Ji Eun jarang sekali bahkan nyaris tak pernah meminta bertemu atau mengajaknya berduaan saja. Selalu Sungmin yang mengajak terlebih dahulu — Sungmin berpikir memang seharusnya seperti itu  — tapi semua ajakan itu bisa dihitung dengan lima jari berapa kali yang disetujui Ji Eun. Di pikiran Sungmin, Ji Eun selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Tapi Sungmin memahami bahwa Ji Eun memang tipe wanita pekerja keras. Apalagi semenjak ibunya meninggal dunia 2 bulan yang lalu, Ji Eun hanya hidup seorang diri dan itu semakin membuatnya tertutup dan dingin terhadap orang lain.
Terkadang Sungmin memang harus bersabar dengan sikap Ji Eun padanya yang terlalu dingin dan tidak peduli sama sekali. Pernah suatu hari Kyuhyun menanyai hubungan mereka yang tidak terlihat seperti sepasang kekasih karena Ji Eun yang selalu acuh tak acuh pada Sungmin. Tapi meskipun demikian, Sungmin benar-benar mencintai gadis itu, gadis yang telah menjadi penghuni hatinya sejak 4 bulan yang lalu.
Dan sekarang, benar-benar suatu keajaiban ketika Sungmin menerima pesan dari Ji Eun yang mengajaknya bertemu di tempat kerjanya. Dan ini terdengar seperti sebuah kencan bagi Sungmin. Meskipun seharusnya Sungmin masih harus kerja lembur di pabrik, tapi dia rela melakukan apapun asalkan dapat bertemu dengan Ji Eun. Terpaksa dia bolos kerja meskipun dia tahu konsekuensi yang akan diterimanya nanti. Dengan secepat mungkin Sungmin bergegas menuju Queen Café, yang memang lumayan jauh dari apartemen Sungmin. Namun sayangnya, Kyuhyun sudah lebih dulu menyabet motornya untuk berkencan dengan Seo Rin. Terkadang temannya satu itu memang sering tidak tahu diri. Hingga akhirnya Sungmin memilih berlarian kecil menuju ke tempat Ji Eun.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.40. Sungmin menghela nafas dan menyeka keringat di dahinya meskipun udara di luar sangat dingin. Dia tepat berada di sisi depan pintu masuk Queen Café yang sudah sepi. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalam sana. Di depan pintu kafe tertempel papan kecil bertuliskan “Closed”. Sungmin tak menyerah. Dia yakin masih ada orang di dalam sana.
“Ji Eun-ah… apakah kau ada di dalam?”teriak Sungmin dari luar. Nafasnya masih tersengal-sengal karena berlarian.
Sepi…. Tak ada jawaban sama sekali.
“Ji Eun… aku baru saja tiba. Apakah kau masih di sana?” kali ini Sungmin mulai menggedor-gedor pintu kafe. Masih tak ada jawaban.
Sungmin mulai putus asa, kemudian mencoba menghubungi ponsel Ji Eun. Sayangnya yang terdengar hanya nada sibuk.
“Ji Eun… aku sudah di sini. Buka pintunya.” Sungmin berteriak dengan sedikit menambah volume suaranya.
Lagi-lagi tak ada sahutan. Sungmin sedikit kesal karena merasa dipermainkan.
“Lee Sungmin?” suatu suara yang datang dari arah belakang mengejutkan Sungmin. Sekejap Sungmin menoleh ke asal suara dan menemukan seorang gadis dengan seragam kerja baru saja keluar dari pintu belakang.
“Kau Lee Sungmin, kan?” tanya gadis itu.
“Oh, ne. Aku Lee Sungmin. Apa Ji Eun masih ada di dalam?” tanya Sungmin penuh harap.
“Ji Eun baru saja pulang. Dia menyuruhku menyampaikan pesan padamu, bahwa dia sudah pulang ke rumahnya.” jawab gadis itu.
“Sudah pulang?” Sungmin sempat terkejut dan sedikit kecewa. “Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan menyusulnya saja. Jeongmal gomawo.” Sungmin baru saja hendak berbalik arah ketika gadis itu mencegahnya.
“Tunggu. Tunggu sebentar.” tahan gadis itu. “Ji Eun tadi sudah pulang dengan Park Jung Soo. Dia bilang kau sebaiknya pulang saja. Tak perlu menyusulnya.”
Kata-kata terakhir gadis itu benar-benar membuat Sungmin tercekat. Kotak kado di tangannya hampir saja terlepas dan terjatuh. Mendengar penuturan gadis itu benar-benar membuat perasaan Sungmin tak menentu. Dirinya benar-benar diliputi rasa kekecewaan. Bagaimana bisa Ji Eun mempermainkannya seperti itu dan malah memilih pulang bersama Jung Soo?  
Sungmin masih belum bisa berpikir jernih. Dia benar-benar kecewa. Tapi yang lebih membuatnya kecewa kenapa Ji Eun harus pulang dengan Jung Soo? Tapi sebisa mungkin Sungmin menepis rasa cemburunya terhadap Jung Soo. Jung Soo adalah teman baiknya. Sekaligus orang yang telah menjadi “comblang” antara Ji Eun dengan dirinya. Mustahil Jung Soo menghianati temannya sendiri, begitu pikir Sungmin.
“Sungmin-ssi?” panggil gadis itu lagi yang membuat Sungmin tersadar dari pikirannya.
“Baiklah kalau begitu. Aku sebaiknya pulang saja. Gomawo.” Sungmin mulai melangkahkan kakinya gontai. Kemudian terdiam beberapa saat setelah beberapa langkah melewati kafe. Sungmin meremas kotak kado di tangannya dan berbalik menghampriri gadis itu lagi.
“Tunggu, Nona.”cegahnya. Gadis itu kembali menoleh.
“Tolong berikan ini pada Ji Eun.” Sungmin menyerahkan kotak kado berwarna pink kepada gadis itu. “Katakan padanya aku minta maaf karena tak bisa tepat waktu. Motorku sedang dipakai Kyuhyun. Jadi aku kemari dengan jalan kaki.” ucap Sungmin.
Ne, akan kusampaikan pada Ji Eun.” Gadis itu tersenyum dan bersiap-siap untuk pulang.
Sungmin kembali berbalik dan meneruskan langkahnya dengan tak berselera. Langkah yang sangat  berbeda ketika dia pergi menuju kafe itu dengan penuh semangat. Malam itu Sungmin menangis dalam diam. Dia benar-benar kecewa. Ternyata Ji Eun masih belum bisa melihat dirinya sebagai seorang kekasih.

***

Ji Eun meraih ponselnya yang tergeletak di laci meja. Semalaman ponsel itu dinonaktifkannya. Ditekannya tombol ponsel itu lama dan seketika layar ponsel itu bercahaya. Tak lama kemudian terdengar bunyi getar berulang-ulang dan ada beberapa pesan masuk. Semuanya ada 13 pesan. Dua pesan dari Jung Soo Oppa, satu pesan dari Hyo Ri, dan selebihnya dari Sungmin. Pesan dari Jung Soo Oppa hanya berupa ucapan selamat tidur yang dikirim dua kali berturut-turut, sedangkan dari Hyo Ri berisi pemberitahuan bahwa dia sudah menyampaikan pesannya pada Sungmin. Dan pesan dari Sungmin? Laki-laki itu terus-terusan mengiriminya pesan permintaan maaf karena terlambat datang, dan pesan yang terakhir berupa ucapan selamat tidur dan aku mencintaimu selamanya.
Ji Eun menghela nafas. Kemudian melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Ji Eun tak tahu harus bagaimana. Sungmin memang laki-laki yang baik, tapi tetap saja dia tak bisa memberikan hatinya untuk Sungmin. Apapun yang dilakukan laki-laki itu tetap tak bisa menyentuh hatinya. Meskipun sudah 4 bulan ini mereka resmi menjadi sepasang kekasih, tetapi tetap yang tersemat di hati Ji Eun hanyalah Jung Soo. Kadang Ji Eun merasa kasihan dengan Sungmin. Seharusnya Sungmin yang baik itu jatuh cinta pada gadis yang baik juga, gadis yang imut dan manis. Bukan gadis seperti Ji Eun yang kaku, dingin, dan suram. Tapi bagaimana lagi, semua ini dilakukannya karena permintaan dari Jung Soo, orang yang paling dicintainya.
Kembali dihempaskannya tubuhnya di atas tempat tidur. Pagi ini Ji Eun benar-benar merasa tak bertenaga. Semalaman dia lagi-lagi menangis dan meratapi dirinya sendiri. Dia sangat merindukan eomma-nya yang sudah lebih dulu meninggalkannya karena menderita jantung kronis. Dia benar-benar tak sanggup tinggal sendirian. Sementara keluarga yang dimilikinya hanya ayahnya yang hidup bersama ibu tirinya — sebenarnya Ji Eun enggan memanggilnya ibu — dan kakak tirinya Jung Soo. Sayangnya, appa-nya tak bisa mengajaknya tinggal bersama karena eomma  Jung Soo. Entah apa alasan eomma Jung Soo sebenarnya hingga dia benar-benar membenci Ji Eun.
Hampir saja Ji Eun kembali terlelap jika ia tidak ingat bahwa hari ini dia harus masuk kerja. Rasanya dia ingin bolos kerja untuk sehari saja. Tubuhnya benar-benar lelah dan harus istirahat setelah semalaman bergadang dan menangis terus-terusan. Tapi diurungkannya niat itu karena malam ini dia harus berbicara pada Jung Soo. Ada hal yang benar-benar harus dikatakannya.

***

“Ji Eun, kau baik-baik saja?” tanya Hyo Ri cemas ketika melihat penampilan temannya ketika baru saja tiba di kafe.
“Aku…. Baik-baik saja.” Jawab Ji Eun lemah. Sedetik kemudian dia langsung merebahkan kepalanya di atas meja.
“Kau sakit? Sebaiknya tak usah masuk kerja saja.” Hyo Ri mendekat dan mulai meraba-raba dahi Ji Eun. “Ji Eun, badanmu panas. Sebaiknya kau pulang saja.”
“Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur.” ucap Ji Eun seraya menahan tangan Hyo Ri. “Hyo Ri, aku ingin tidur sebentar saja. Tolong bangunkan aku sebelum Tuan Kim datang kemari. Aku… benar-benar lelah.” pinta Ji Eun sembari menelungkupkan kepalanya dengan sweater.
“Umm… baiklah kalau begitu. Biar aku saja yang merapikan mejanya. Kau istirahat saja dulu.” Hyo Ri berlalu dan meninggalkan Ji Eun di meja dapur.
 Sebenarnya Ji Eun tak sepenuhnya tidur. Hanya saja dia ingin memejamkan matanya walau sekejap. Matanya terasa sangat panas. Sudah cukup semalaman dia menumpahkan air matanya.
Beberapa menit kemudian Hyo Ri kembali lagi dengan membawa kado kecil di tangannya.
“Ji Eun, ini dari Sungmin” kata Hyo Ri seraya meletakkan kotak kado berwarna pink di depan Ji Eun. Ji Eun hanya menggumam tak jelas.
“Semalam dia datang kemari dan mencari-carimu. Untung aku belum pulang, jadi masih bisa bertemu dengannya. Dia… kelihatan lelah sekali. Tampaknya dia benar-benar ingin bertemu denganmu.” jelasS Hyo Ri.
“Oh…” ujar Ji Eun singkat. Dia sama sekali tak tertarik mendengar cerita Hyo Ri dengan Sungmin sebagai topik utamanya.
“Dia bilang padaku bahwa dia benar-benar minta maaf padamu. Dia tak bisa tepat waktu karena dia harus berjalan kaki dari apartemennya yang kurasa lumayan jauh. Dia bilang motornya sedang dipakai oleh temannya yang bernama Kyu…. Kyu…. Kyu apa aku lupa.”
“Kyuhyun.”
“Ah, iya. Kyuhyun.”
“Aku sudah tahu. Dia mengirimiku banyak pesan hanya untuk mengatakan itu.” Ji Eun mengangkat kepalanya dan menatap kado yang diberikan Sungmin untuknya. Dia terdiam dan menatap benda kecil itu dengan tatapan hampa.
“Hyo Ri, ambil saja kado itu untukmu.” ucap Ji Eun tiba-tiba.
Mwo? Kenapa memberikannya padaku? Bukannya itu kado dari kekasihmu?” tanya Hyo Ri benar-benar heran.
“Aku tak mau menerimanya. Ambil saja.” Ji Eun menepis kado itu.
“Ji Eun, aku tak mengerti. Apa kau bertengkar dengan Sungmin?” Hyo Ri benar-benar tak habis pikir dengan temannya itu.
“Tidak. Kami tak bertengkar. Hanya saja, aku merasa tak pantas menerima kado itu.”
“Tapi, itu pemberian Sungmin untukmu.”
“Dia memberikannya untukku, berarti benda itu sekarang sudah jadi milikku. Dan sekarang aku memberikan kado itu untukmu.”
“Kau tidak membukanya dulu? Siapa tahu ini benda berharga untukmu. Terimalah Ji Eun. Aku yang merasa tidak enak.”
“Sudahlah, ambil saja. Apapun isinya itu untukmu. Lagipula aku tak suka dengan warna kertas pembungkus kado itu. Terlalu feminim.” Ji Eun beranjak dari tempat duduknya dan memasukkan kado itu ke dalam tas Hyo Ri.
“Ji Eun….” Hyo Ri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Ji Eun. Temannya itu benar-benar sulit dimengerti.

***
“Kau sudah pulang, Hyung?” tanya Kyuhyun heran ketika melihat Sungmin sudah pulang ke apartemen pukul 8 malam. Biasanya Sungmin akan pulang lebih larut dari itu.
“Hemm…” Sungmin langsung saja merebahkan tubuhnya di sofa.
Waeyo? Kau kusut sekali? Ada masalah?” Kyuhyun melirik Sungmin sekilas kemudian kembali terfokus pada joysticknya.
“Aku hampir dipecat.” desah Sungmin. Dia menutupi wajahnya dengan hoodie hitam yang tadi dikenakannya.
“Mwo?” Kyuhyun sontak terkejut dan membulatkan bibirnya. Dia hampir saja melempar joystick kesayangannya itu.
“Sudahlah. Ekspresimu terlalu berlebihan, Kyu. Aku belum dipecat. Baru hampir.” timpal Sungmin dari balik hoodie hitamnya.
“Aish, bagaimana kau bisa melihat ekspresiku di balik hoodie itu?” Kyuhyun malah mengerucutkan bibirnya yang tidak imut sama sekali kemudian bergumam tak jelas. “Lalu, apa yang menyebabkanmu hampir dipecat?” lanjutnya lagi dengan tatapan fokus tertuju ke layar TV.
Sungmin bangkit dan menenggak beberapa gelas air putih. Kemudian kembali duduk di sofa dan terdiam untuk beberapa saat.
“Itu semua karena aku tak menyelesaikan tugas malamku.” Sungmin menghela nafas dalam. “Padahal baru semalam saja aku tak kerja lembur, tapi Tuan Kang sudah marah-marah denganku dan mengancam akan memecatku jika hal ini terulang lagi.”
“Aish. Aku tahu Tuan Kang itu. Bukannya dia itu laki-laki pendek yang mempunyai hobi marah-marah?” komentar Kyuhyun sambil mengingat kejadian yang melibatkannya dengan Tuan Kang beberapa hari lalu. Pria itu terus memarahi Kyuhyun hanya karena Kyuhyun tak sengaja menjatuhkan sebutir telur belanjaan isterinya di Mini Market tempat Kyuhyun bekerja. Hanya sebutir! Isterinya saja tak marah, tapi Tuan Kang yang malah melebih-lebihkan. Benar-benar pria pendek yang berlebihan.
“Lalu kau menemui Ji Eun?” tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan seputar Tuan Kang yang tiba-tiba membuatnya tidak mood.
Ne, tapi sayangnya Ji Eun sudah pulang. Aku lagi-lagi terlambat. Dan semua itu karena kau, Cho Kyuhyun!” Sungmin melemparkan bantal sofa tepat ke wajah Kyuhyun dengan geram.
“Yak! Hyung. Kau mengganggu pandanganku. Lihat, aku jadi salah sasaran.” gerutu Kyuhyun yang dengan lincah semakin menekan-nekan joysticknya.
Sungmin mendengus, “Coba kalau kau tak memakai motorku untuk berkencan dengan Seo Rin, pasti aku akan lebih cepat sampai dan bertemu Ji Eun.”
“Aku tak tahu kalau kau akan bolos kerja, Hyung. Jadi kupinjam saja motornya untuk mengantar Seo Rin ke rumah ahjumma-nya. Bukan berkencan.” Kyuhyun mencoba membela diri.
“Ya sudahlah. Aku juga sudah menitipkan kado untuk Ji Eun. Semoga dia menyukai kado pemberianku.” ucap Sungmin seolah berbicara untuk dirinya sendiri.
“Memangnya apa isi kado itu, Hyung ?”
“Aku memberikannya jam tangan. Semoga saja dia memakai jam itu. Aku berharap Ji Eun akan selalu mengingatku jika melihat jam itu. Tiap detik, tiap menit, jika dia melihat jam itu yang ada di pikirannya adalah aku.” jawab Sungmin sumringah. Dia tersenyum sendiri kemudian dengan cepat menyambar ponselnya di atas meja.
“Sebaiknya kutelfon Ji Eun. Aku sangat merindukannya.” ujar Sungmin kemudian.
Tak beberapa lama kemudian Sungmin sudah berkutat dengan ponselnya dan menunggu hubungan tersambung. Terus dilakukannya berkali-kali, tapi yang terdengar tetaplah nada sibuk dari operator. Sungmin berdecak, kemudian terus mengulangi panggilan. Lagi-lagi tak ada jawaban.
“Aish, kenapa tak diangkat?” gerutu Sungmin pada dirinya sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk langsung menemui Ji Eun di kafe saja.
“Kyu, aku pergi dulu.” ucap Sungmin sembari meraih hoodie dan kontak motornya. Dengan cepat dia melesat keluar melalui pintu apartemen.
“Mau kemana, Hyung?” tanya Kyuhyun setengah berteriak.
“Aku mau menemui Ji Eun.” jawab Sungmin dari luar apartemen.

***

Ji Eun mondar-mandir di dekat meja dapur. Sibuk dengan pikirannya sendiri. Beberapa kali terdengar dering panggilan dari Sungmin yang membuat Ji Eun kesal. Hingga akhirnya ponselnya kembali bernasib sama seperti malam-malam sebelumnya, kembali harus dinonaktifkan. Tak lama kemudian Jung Soo menghampirinya dan mereka duduk di meja kafe, di mana semua pegawai sudah pulang dan yang tersisa hanya mereka berdua. Keadaan ini benar-benar mengingatkan Ji Eun dengan kejadian 6 bulan lalu.
“Apa yang ingin kau katakan?” Jung Soo membuka pembicaraan.
“Oppa.. aku tak bisa terus-terusan seperti ini.” Ji Eun menatap Jung Soo sedih. Matanya kembali berkaca-kaca
“Apa yang terjadi, Ji Eun?” tanya Jung Soo cemas.
“Ini tentang Lee Sungmin” jawab Ji Eun datar. Matanya menerawang ke langit-langit mencoba menahan tangis.
“Kenapa dengan Lee Sungmin?” tanya Jung Soo heran.
“Aku tak bisa mencintainya, Oppa.” kali ini air mata Ji Eun tumpah sudah. “Aku tak bisa mencintainya seperti yang kau harapkan. Aku tak bisa memberi hatiku untuknya. Hingga detik ini aku masih belum bisa.” Ji Eun menahan suaranya, berusaha meredam tangis.
“Kenapa?”
“Kau tanya kenapa, Oppa? Itu karena aku masih mencintaimu. Sampai sekarangpun aku masih mencintaimu. Aku tak bisa mencintai yang lainnya. Dan hingga detik ini aku tetap tak bisa memandangmu sebagai kakakku. Aku tak bisa mencintai Sungmin!” Ji Eun mulai terisak.
Jung Soo terhenyak. Dipandanginya gadis itu lama. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Dia masih mencintai Ji Eun bukan sebagai adik. Jujur saja, sebenarnya dia pun tak rela melihat Ji Eun bersama Sungmin.
“Aku sudah mencobanya, Oppa. Aku sudah berusaha menyukai Sungmin. Tapi semakin kucoba, malah semakin aku membencinya.”
“Sungmin pria yang baik. Malah terlalu baik bagiku. Tapi aku tak bisa terus-terusan berpura-pura mencintainya. Hatiku bagaimanapun juga tak bisa dipaksa. Aku juga kasihan pada Sungmin, aku tak mau menyiksanya lagi, Oppa.” Ji Eun semakin terisak.
Jung Soo menatap Ji Eun sedih. Diusapnya air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
“Maafkan aku,  Ji Eun…” Jung Soo menghela nafas. “Akhiri saja jika kau tak bisa…”
Jung Soo beranjak dari tempat duduknya dan perlahan memeluk Ji Eun. “Maafkan aku sudah memaksamu sejauh ini. Kupikir  kau sudah benar-benar jatuh cinta pada Sungmin. Dan aku akan mulai merelakanmu dan mencoba menyayangimu sebagai seorang kakak.” ucap Jung Soo seraya mengusap rambut Ji Eun lembut.
“Aku tak ingin menyakiti Sungmin lagi. Dia terlalu baik. Seharusnya dia tidak mencintai gadis sepertiku…”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”tanya Jung Soo.
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Sungmin. Sebenarnya aku ingin mengatakan semua ini semalam. Tapi aku rasa belum tepat saatnya.”
“Biarkan perasaan ini mengalir apa adanya, Oppa. Biarkan aku mencintaimu meskipun ini cinta terlarang. Biarkan aku menikmati perasaan cinta ini tanpa harus menyiksa perasaan orang lain.” Ji Eun mengakhiri kalimatnya dengan membalas pelukan Jung Soo. Dia merasa sedikit lega telah mengatakan yang sebenarnya. Setidaknya bebannya sedikit ringan. Dan dia tinggal menunggu kesempatan untuk jujur tentang perasaannya pada Sungmin. Ji Eun benar-benar merasa tenang di pelukan Jung Soo.
Ji Eun dan Jung Soo masih tetap berpelukan, hingga tak menyadari sesosok pria sudah memperhatikan mereka sedari tadi dengan raut wajah yang sulit dilukiskan. Pria itu dengan jelas melihat bayangan mereka melalui jendela kafe yang hanya dilapisi sekeping kaca bening dengan sedikit penerangan dari dalam kafe. Pria itu mematung beberapa saat menatap mereka yang sedang berpelukan, hingga akhirnya dia pergi dan meninggalkan tempat itu dengan motornya.

***

            Sungmin membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan membiarkan jantungnya berdegup-degup menahan amarah. Tak dihiraukannya panggilan Kyuhyun yang menanyai keadaannya dari luar kamar. Pikiran Sungmin sedang kacau. Hatinya sangat galau melihat kenyataan yang baru saja dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Ji Eun memeluk Jung Soo dan menangis di dekapan pria itu! Apalagi yang harus dipertanyakan? Semua dugaan-dugaan dan pikiran buruk Sungmin memang menjadi kenyataan. Ji Eun menjalin hubungan dengan Jung Soo, dan itulah yang membuat sikapnya sangat dingin terhadap Sugmin.
Sungmin tak tahu lagi harus bagaimana, selama ini dia sudah berusaha bertahan dan selalu memahami Ji Eun karena dia benar-benar menyayangi gadis itu. Tapi sungguh Ji Eun sama sekali tak menghiraukan Sungmin. Bahkan Sungmin pun heran dan bingung dengan status mereka yang berpacaran tapi layaknya orang yang bermusuhan. Apapun sudah Sungmin lakukan demi membahagiakan Ji Eun. Sungmin melakukannya dengan tulus. Hanya satu yang diharapkan Sungmin, Ji Eun bisa memperlakukannya layaknya sepasang kekasih pada umumnya.
Tapi nampaknya Ji Eun memang tak memandangnya selama ini. Sungmin hanya mencintai tapi tak dicintai. Kali ini air mata Sungmin mengalir membasahi bantal tidurnya. Dia mengingat apa saja yang sudah dilakukannya untuk Ji Eun. Dan semuanya benar-benar tak berarti bagi gadis itu. Hingga puncak dari semua pengorbanan Sungmin, dia benar-benar dipecat dari tempat kerjanya  hanya karena sekali tak masuk kerja malam. Memang hanya sekali, tapi ternyata itu menyebabkan kesalahan fatal pada pabrik karena Sungmin tak menyelesaikan perbaikan mesin yang harusnya diselesaikannya malam itu juga. Sementara pemilik parbrik alat berat itu, Tuan Kang, memang sangat tidak mentolerir sekecil apapun kesalahan yang terjadi. Sungmin dipecat dan dengan sukses dia membohongi Kyuhyun tentang perihal pemberhentian kerjanya.
Hampir saja Sungmin menonaktifkan ponselnya ketika tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Dari Ji Eun. Sebenarnya Sungmin hendak mengabaikannya, tapi lagi-lagi perasaan sayang Sungmin mengalahkan amarahnya.
Yoboseyo?” ucap Sungmin beberapa saat setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
“Sungmin Oppa, kau belum tidur?” tanya suara dari seberang.
“Belum. Ada apa Ji Eun?” jawab Sungmin sedikit mengubah suaranya. Dia tak ingin terdengar seperti baru saja menangis.
“Umm… aniya. Aku hanya ingin menanyai kabarmu.”
“Aku baik-baik saja.” ujar Sungmin berbohong.
Hening sejenak. Tak ada jawaban dari seberang.
Oppa…?” panggil Ji Eun dengan nada sedikit ragu.
“Hemm…”
Oppa, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu”
Jantung Sungmin mulai berdetak. Firasatnya mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu yang baik.
“Ap-apa yang ingin kau katakan?” tanya Sungmin pasrah.
“Tidak sekarang, Oppa. Aku ingin bertemu denganmu dan bicara berdua saja.”
Harusnya Sungmin senang karena Ji Eun mengajaknya bertemu dan berdua saja. Tapi kali ini Sungmin justru merasa akan ada sesuatu yang menyedihkan.
“Hari Minggu nanti  pukul 9 pagi. Kita bertemu di taman kota.” lanjut Ji Eun sebelum Sungmin sempat bertanya lebih lanjut.
“Baiklah.” jawab Sungmin lemas. “Aku akan menjemputmu.”
“Tidak, tidak usah. Aku bisa pergi sendiri” tolak Ji Eun.
Lagi-lagi hening. Sungmin sibuk dengan pikirannya yang mulai berkecamuk.
“Baiklah kalau begitu. Selamat tidur, Oppa.” ucap Ji Eun beberapa saat kemudian.
Ne, naneul saranghae, Ji Eun-ah” Sungmin mengucapkan kalimat itu dengan tempo yang lebih lama. Entah mengapa dia merasa itu terakhir kalinya dia mengucapkan kalimat cinta pada Ji Eun.
“Hmm… Selamat malam, Oppa” ucap Ji Eun mengakhiri percakapan. Tak lama kemudian terdengar nada hubung yang terputus.

***
Sungmin menggenggam erat liontin bermata giok  yang baru saja dibelinya dari hasil kerja lemburnya selama ini. Wajahnya sedikit ceria. Sudah lama dia ingin membeli liontin ini untuk Ji Eun. Meski harus mengeluarkan tenaga lebih untuk bekerja dan mencari pekerjaan tambahan setelah dipecat Tuan Kang, akhirnya liontin itu berhasil dimilikinya. Walaupun dengan sedikit tambahan uang pinjaman dari Kyuhyun.
Hari ini dia akan bertemu dengan Ji Eun di taman sesuai dengan yang telah dijanjikan. Ternyata hari ini bertepatan dengan ulang tahun Ji Eun yang ke-20. Sungmin merasa senang karena dia bisa langsung memberikan liontin itu pada Ji Eun. Di bayangan Sungmin gadis itu pasti akan senang sekali. Liontin ini sudah lama diidam-idamkan Ji Eun.
Akhirnya Sungmin tiba di taman dan memarkirkan motornya. Dia menyapu pandangannya  hingga ke pelosok taman yang dipenuhi dengan daun-daun yang berguguran. Dilihatnya Ji Eun sedang duduk sendiri di bangku di bawah sebuah pohon besar. Ji Eun terlihat sangat manis dengan jaket merahnya. Tiba-tiba Sungmin merasa tubuhnya sangat ringan ketika berjalan menghampiri Ji Eun. Rasa sedih kembali menyergapnya. Rasa takut akan kehilangan.
“Ji Eun….” sapa Sungmin lembut. Kemudian mengambil posisi duduk di samping Ji Eun.
Oppa, kau sudah datang rupanya.” Ji Eun tersenyum pada Sungmin. Dia menatap Sungmin sayu. Sudah bisa ditebak, Ji Eun sepertinya baru saja menangis.
Tiba-tiba rasa hangat menjalari tubuh Sungmin setelah melihat senyum tulus Ji Eun. Rasanya jarang sekali dia melihat Ji Eun menyunggingkan sebuah senyuman untuknya. Dan ini adalah senyum paling tulus yang diterimanya.
Mianhae, sudah membuatmu menunggu.” ucap Sungmin.
“Tidak, Oppa… aku yang harusnya minta maaf.” ujar Ji Eun
“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanya Sungmin kemudian. Diperhatikannya wajah gadis yang disayanginya itu. Wajah yang manis, namun dipenuhi guratan masalah. Gadis itu terlihat sangat lelah.
Ji Eun hanya menunduk, tak berani membalas tatapan Sungmin. Tiba-tiba saja dia merasa kehilangan keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya pada Sungmin. Lidahnya kelu untuk berkata. Muncul rasa yang aneh pada dirinya.
Oppa…  sebenarnya…. Sebenarnya….” Ji Eun menggantungkan kalimatnya. Tiba-tiba dia merasa tidak yakin untuk mengatakannya.
Mwoya?” tanya Sungmin lembut.
Oppa… maafkan aku.” Ji Eun mendongakkan wajahnya dan mencoba menatap Sungmin. Tapi semakin ditatapnya kedua mata Sungmin, Ji Eun semakin merasa sesuatu yang aneh mulai menjalari dirinya. Mata itu… begitu tulus.
Sungmin hanya menatap Ji Eun dalam, menunggunya melanjutkan kata-katanya.
Oppa…. Selama ini aku hanya pura-pura mencintaimu” ucap Ji Eun pelan. Tiba-tiba dia merasa ragu telah mengucapkan itu.
Rasanya Sungmin baru saja terlempar begitu jauh ketika mendengar penuturan Ji Eun. Dia tidak pecaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Ditatapnya mata Ji Eun yang berair, mencoba menemukan kebohongan dari kata-katanya.
“Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu, Oppa.” tegas Ji Eun yang membuat hati Sungmin semakin tertohok.
Ji Eun semakin tak kuat untuk melanjutkan kalimatnya. Dilihatnya mata Sungmin mulai berkaca-kaca. Pria itu sepertinya tak sanggup mengeluarkan kata-kata.
“Sebenarnya yang aku cintai adalah Jung Soo Oppa. Kami sudah saling mencintai, jauh sebelum kau mengenalku, Oppa. Namun sayangnya, cinta kami tak mampu bertahan. Karena pada kenyataannya kami adalah saudara. Jung Soo Oppa adalah kakak tiriku.”
Ji Eun mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya. Sementara Sungmin menatap lurus-lurus ke depan tanpa ada suara. Mencoba untuk tegar dan mendengar kelanjutan penuturan Ji Eun.
“Aku sangat mencintai Jung Soo Oppa. Dan aku benar-benar frustasi setelah mengetahui dia kakakku. Hingga akhirnya Jung Soo Oppa  memintaku untuk membuka hatiku untuk pria lain agar aku bisa cepat melupakannya. Tapi itu bukanlah hal yang mudah. Aku sudah sangat mencintainya.”
“Akhirnya aku mencoba untuk membuka hatiku. Jung Soo Oppa bilang kalau kau mempunyai perasaan padaku, jadi kuterima saja cintamu dan berharap bisa melupakan Jung Soo Oppa. Tapi dugaanku salah. Aku malah semakin tak bisa melupakannya dan kebersamaanku denganmu malah membuatku kesal dan membencimu tanpa alasan. Jeongmal mianhae, Oppa.” bulir-bulir air mata Ji Eun kembali tumpah. Sungmin masih bertahan dalam diamnya. Nafasnya tak beraturan, antara menahan tangis dan amarah.
Oppa…. Mianhaeyo. Aku… Aku sudah mempermainkan perasaanmu. Tapi sungguh, kulakukan ini karena aku tak ingin menyakitimu lagi. Kau adalah pria yang baik. Seharusnya kau mendapatkan gadis yang baik juga. Lupakan aku yang jahat ini! Aku tak pantas menerima cintamu!”
Sungmin menoleh dan menatap Ji Eun dalam-dalam. Mata Sungmin sudah merah. Akhirnya pertahananannya sedari tadi runtuh juga.  Dia tak ingin kehilangan gadis ini. Bagaimanapun perasaan Ji Eun padanya, Sungmin tetap mencintainya.
Ji Eun masih menunduk. Tubuhnya sedikit bergetar. Sungmin merengkuh Ji Eun dan membaringkan kepala Ji Eun di pundaknya. Ji Eun terkejut. Dia pikir Sungmin akan memarahi atau mencaci makinya. Tapi dia salah. Sungmin malah mengusap pucuk kepala Ji Eun dengan lembut.
“Berhentilah menangis, Ji Eun… Matamu sudah terlalu sering menangis.” Sungmin. menghapus air mata Ji Eun.
“Aku tak bisa memaksa perasaan orang lain untuk mencintaiku. Tapi sungguh, aku sangat tulus mencintaimu meskipun kau benci padaku.”Sungmin tersenyum getir.
Oppa… kau seharusnya marah padaku…”
“Aku tak marah padamu. Malah seharusnya aku yang minta maaf sudah menyiksa perasaanmu selama ini. Aku yang egois, terlalu ingin memilikimu seutuhnya. Tapi aku sama sekali tak menghiraukan perasaanmu. Jika kau tak mengatakannya, mungkin selamanya aku akan tetap menjadi orang yang egois. Maafkan aku, Ji Eun…” Sungmin merasakan dadanya sesak sekali. Akhirnya perpisahan ini benar-benar terjadi. Mimpi buruknya benar-benar menjadi kenyataan.
Oppa… kita masih tetap berteman, kan?” tanya Ji Eun ragu. Dia merasa aneh dengan kata-kata ‘teman’ yang baru saja ditanyakannya. Sepertinya hatinya sedikit menolak dengan apa yang dikatakannya barusan.
Ne, tentu saja.” Sungmin tersenyum dalam tangis yang dipendamnya dalam hati. “Meskipun hanya sebatas teman, dekat denganmu saja sudah membuatku senang.”
Oppa…. Ji Eun mengangkat kepalanya dari pundak Sungmin dan menatap Sungmin sekali lagi. Ji Eun baru kali ini menatap Sungmin sedekat ini. Baru disadarinya laki-laki di depannya ini sangat manis dengan pancaran mata yang menunjukkan sebuah ketulusan. Ji Eun tercekat. Dadanya tiba-tiba saja berdetak. Perasaan aneh itu lagi-lagi merasukinya. Ji Eun merasakan sesuatu yang hangat ketika melihat Sungmin.
Tiba-tiba saja tangan Ji Eun sudah berada di pinggang Sungmin. Ji Eun memeluk laki-laki itu erat. Entah apa sebenarnya yang sedang merasukinya. Tapi Ji Eun tiba-tiba saja tak ingin melihat Sungmin pergi.
Oppa…. Jangan pergi terlalu jauh.” gumamnya dari balik punggung Sungmin. Sungmin terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Ji Eun. Tak biasanya Ji Eun bertingkah semanis ini padanya.
“Aku tak akan pergi, Ji Eun. Aku selalu ada untukmu. Kita kan… ber-te-man” ucap Sungmin sedih. Dia masih belum percaya kalau sekarang dia hanyalah teman bagi Ji Eun.
Sungmin melepaskan pelukannya dan melihat Ji Eun sekali lagi. Rasanya benar-benar tak sanggup meninggalkan gadis itu. Sungmin sudah sangat bahkan terlalu mencintai Ji Eun.
“Oh ya, saengil chukkae hamnida, Ji Eun” ucap Sungmin seraya mengeluarkan kotak kecil dari balik jaketnya.
Ji Eun terperangah. Dia mengingat-ingat tanggal berapa sekarang, sedetik kemudian dia baru tersadar kalau hari ini adalah ulang tahunnya. Sejauh ini Sungminlah orang pertama yang mengucapkan itu padanya. Jika eomma-nya masih hidup, tentu pagi-pagi buta eomma-nya sudah membangunkan Ji Eun dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Ji Eun lagi-lagi sedih.
“Ini untukmu, pakailah.” Sungmin mengeluarkan liontin dengan giok merah dari kotak kecil yang dibawanya. Sungmin berusaha menghilangkan kesedihannya sejenak dan mencoba tersenyum pada Ji Eun.
Ji Eun masih tetap tak percaya. Sungmin benar-benar membelikan liontin itu untuknya. Liontin ini adalah liontin yang sama dengan liontin yang dulu diberikan eomma untuknya. Liontin itu dulunya adalah pemberian appa Ji Eun untuk  eomma. Namun sayangnya, liontin itu harus berpindah tangan karena dirampas eomma Jung Soo. Wanita itu menuduh Ji Eun yang telah mencuri liontinnya. Karena tidak mungkin bagi seorang Ji Eun yang miskin memiliki benda mewah seperti itu. Padahal liontin itu benar-benar adalah liontin milik Ji Eun.
Dan sekarang liontin itu kembali menjadi milikinya. Benar-benar hadiah ulang tahun yang sangat indah. Sungmin menyematkan liontin itu di leher Ji Eun. Ji Eun baru menyadari bahwa Sungmin sangat tulus mencintainya. Ada sedikit rasa sesal ketika dia telah membuat Sungmin kecewa.
Gomawo, Oppa…” Ji Eun tak bisa berkata banyak. Dia masih tak percaya Sungmin melakukan ini semua untuknya.
Cheonma… semoga kau menyukainya.” Sungmin tersenyum menatap Ji Eun. Ada sedikit kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Ji Eun hanya mengangguk-angguk senang. Dia tak banyak bicara lagi.
“Baiklah, kalau begitu aku harus pulang.” ucap Sungmin kemudian.
Ji Eun menatap Sungmin tak rela. Tiba-tiba dia tak ingin Sungmin beranjak dari sisinya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” Sungmin terkekeh melihat Ji Eun menatapnya heran.
“Tenang saja, aku tak akan meninggalkanmu di sini. Aku juga akan mengantarkanmu pulang.” lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Ji Eun gemas.
Ji Eun sempat tertawa melihat Sungmin tersenyum dengan sangat lucu. Tapi tiba-tiba saja dia terdiam. Rasanya senyuman itu akan sulit ditemukannya lagi.
***

Sudah 3 jam yang lalu Sungmin mengantarkan Ji Eun sampai di rumah. Tapi hinga sekarang Ji Eun belum menerima pesan dari Sungmin bahwa dia sudah tiba di apartemennya. Harusnya sekarang Sungmin sudah sampai dan memberinya kabar.
Ji Eun mulai menerka-nerka, mungkin saja Sungmin lupa. Atau ketika tiba di apartemennya Sungmin langsung tertidur karena kelelahan. Atau ponsel Sungmin sedang tak ada pulsa? Ji Eun mulai frustasi dengan buah pikirannya sendiri. Akhirnya Ji Eun berinisiatif untuk menelepon Sungmin duluan. Sekedar untuk mengetahui kabarnya sekarang.
Ji Eun terus saja mondar-mandir di kamarnya. Tangannya sibuk menekan-nekan keypad ponsel. Ponsel Sungmin sama sekali tak bisa dihubungi. Sudah beberapa kali dicobanya tapi yang terdengar selalu nada yang sama dari operator.
Ji Eun tiba-tiba saja merasa tak nyaman. Dia mengakui bahwa dirinya sangat menyesal telah memutuskan Sungmin. Dia merutuki dirinya sendiri kenapa rasa cinta itu baru tumbuh sekarang. Harusnya dia membuka matanya selama ini. Lihatlah, Sungmin sangat tulus mencintainya. 
Jantung Ji Eun tiba-tiba saja berdetak lebih cepat. Dia merasakan perasaan yang sama ketika eomma-nya pergi meninggalkannya. Ji Eun heran, kenapa tiba-tiba dia merasa akan kehilangan sesuatu lagi.
Ji Eun terkejut  ketika didengarnya ponselnya berdering. Dengan cepat disambarnya ponsel yang diletakkannya di atas laci. Ternyata panggilan dari Jung Soo Oppa.
“Yoboseo, Oppa. Mwo? Kau tidak sedang bercanda kan? Aku sekarang sedang di rumah. Baikalah, baiklah aku akan segera ke sana.”
Ji Eun langsung mematikan telepon. Secepat kilat dia menyambar tasnya dan pergi menaiki taksi  menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya dia menangis. Ini tak boleh terjadi. Sungguh, Ji Eun tak ingin lagi-lagi kehilangan. Digenggamnya liontin yang baru saja diberikan Sungmin untuknya.
Segera Ji Eun berlari menyusuri koridor rumah sakit ketika dia tiba. Tak dihiraukan lagi orang-orang yang menatapnya heran karena berlarian di sepanjang koridor rumah sakit. Dia tak bisa berpikir lagi. Kesedihan sudah menguasainya. Dia benar-benar tak ingin hal yang sama terulang lagi.
Oppa!” teriak Ji Eun ketika melihat Jung Soo sedang berdiri di depan sebuah kamar. Dipeluknya kakaknya itu dengan perasaan tak menentu. Wajah Jung Soo pucat pasi. Matanya basah. Di sebelahnya tampak Kyuhyun yang sedang terpekur dengan seorang wanita yang mencoba menenangkannya. Laki-laki itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Biasanya dia selalu saja berkicau dan banyak bicara. Tapi sekarang dia benar-benar terlihat menyedihkan dan hilang asa.
“Bagaimana?” tanya Ji Eun khawatir.
“Dia…. Dia…. Mengalami luka parah.. Motornya menabrak truck kontainer dan dia mengalami pendarahan hebat di kepalanya.” jawab Jung Soo putus asa
“Ya Tuhan…” Ji Eun menutup mulutnya dan menangis hebat. Ji Eun tak menyangka Sungmin akan mengalami kecelakaan selepas mengantarnya pulang ke rumah. Ji Eun terus berdoa di dalam hati, semoga Sungmin bisa melewati masa kritisnya. Ji Eun berharap Tuhan akan memberikannya kesempatan untuk sekali saja membahagiakan Sungmin. Ji Eun berjanji, dia akan benar-benar menyayangi Sungmin jika Sungmin sehat kembali.
Oppa, apa masih ada harapan?” Ji Eun bertanya pada Jung Soo yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
Mollayo, Ji Eun. Semoga saja dia bisa diselamatkan.”
Ji Eun menghela napas panjang. Dia tak bisa berdiam diri menunggu kabar Sungmin. Dia terus berkomat-kamit dalam hatinya agar kesempatan itu masih ada. Dirasakan degup jantungnya yang berlomba berdetak dengan detik waktu  Waktu benar-benar berjalan sangat lama. Hingga akhirnya seorang dokter keluar dari kamar pasien dan berbicara pada Jung Soo. Ji Eun hanya memperhatikan gerak-gerik dokter itu dari bangku. Terlihat mata Jung Soo mulai basah. Air mata yang ditahan-tahannya akhirnya tumpah. Sementara Kyuhyun terlihat sangat histeris. Dokter itu berkata-kata yang terdengar bagai kutukan di telinga Ji Eun.
Ji Eun menutup telinganya segera, tak ingin mendengar apa yang dikatakan dokter itu. Melihat ekspresi Jung Soo dan Kyuhyun sudah dipastikan bahwa dokter itu membawa berita yang tak baik. Dokter itu terlihat dilanda keputus-asaan. Ji Eun mengerti. Ji Eun sudah sangat mengerti apa yang terjadi pada Sungmin. Dia tak akan pernah mendapatkan kesempatan itu lagi.
Ji Eun segera berlari meninggalkan mereka. Dia tak sanggup terus bertahan di tempat itu. Ji Eun tak ingin mendengar apapun yang dikatakan dokter itu lagi. Dokter itu hanya membual. Dokter itu tak mungkin mengatakn yang sebenarnya. Dokter itu hanya berakting saja. Apa yang dikatakan dokter itu sama sekali tak benar. Ji Eun terus berlari, berlari, dan berlari dengan derai air matanya. Dia tak tahu lagi harus melangkah ke mana. Dibiarkan kakinya melangkah sekenanya. Dia terlalu sedih untuk menerima kenyataan yang baru saja di alaminya.
Ji Eun sadar dia sudah terlambat…. Dia sudah sangat terlambat untuk menyadari betapa Sungmin sangat mencintainya. Dia tak bisa membalas cinta Sungmin yang baru saja dirasakannya.
Ji Eun melangkah dengan gontai. Ternyata dia kembali ke taman yang beberapa jam lalu didatanginya bersama Sungmin. Ji Eun kembali duduk di tempatnya. Menggenggam erat liontin pemberian Sungmin. Ji Eun memejamkan matanya, membiarkan air matanya mengalir di kedua pipinya. Dia hanya ingin merasakan angin dingin mulai mengusap wajahnya. Mengenang semuanya…
 Sungmin yang sedang tersenyum untuk terakhir kalinya.

 Bagaimana dengan lembutnya Sungmin merengkuhnya tanpa ada amarah.

Bagaimana besarnya usaha Sungmin untuk membahagiakannya.

 Bagaimana tulusnya rasa cinta Sungmin tanpa meminta balasan darinya.

Dan terakhir… dengan penuh kasih sayang Sungmin memaafkannya, setelah dia  menyakitinya.

Ji Eun benar-benar menyesali sikapnya selama ini. Sungmin telah tiada….


Langit tampak buram menandakan senja mulai menjelang. Ji Eun masih terpekur di bangku taman. Dia masih tak percaya, laki-laki yang baru saja membuatnya  membuka sedikit celah hatinya, kini sudah pergi meninggalkannya dengan menyisakan penyesalan bagi dirinya.
Air mata Ji Eun tak bisa berhenti. Dia tetap duduk sendiri di taman ditemani dengan dedaunan yang berguguran. Direngkuhnya helai demi helai guguran daun itu. Berharap masih bisa meraup puing-puing cintanya yang baru saja menghilang…..

Cintailah orang yang mencintaimu dengan tulus. Sayangilah orang yang menyayangimu dengan sepenuh hati. Bahagiakanlah mereka sebelum mereka benar-benar pergi dan pada akhirnya kau akan menyesal….

“Saranghaeyo, Lee Sungmin….”

The End


0 komentar:

Posting Komentar