Selasa, 10 April 2012

Remaja dan Perilaku Menyimpang, Korban dari perubahan Zaman ?


Masih ingatkah kita mengenai adegan yang tak lumrah terekam melalui video handphone. April 2008 lalu  sekelompok remaja putri menganiaya temannya sendiri dengan cara memukul bergantian ke arah kepala,organ vital yang menentukan masa depan setiap orang. Atau mengenai tawuran antar remaja SMA antar dua sekolah.
Dari dialog yang terekam, korban diperintah menunjukkan sikap hormat pada anggota-anggota geng yang bernama Nero. Saat korban mengangkat tangan ke samping kanan dahinya seperti layaknya hormat benderaseorang temannya mendampar wajahnya berkali-kali. Lalu sesekali menonjok tepat di hidung dan mulut korban sampai kepala korban terantuk ke belakang. Sebuah pertunjukan yang biasa ditemui di atas ring tinju. Namun pertunjukan yang satu ini lebih dari perhelatan di atas ring tinju: tanpa sarung tangan, dilakukan dengan keroyokan dan tanpa perlawanan dari pihak lawan.
Hal yang tak kalah menarik perhatian khalayak ramai adalah tawuran siswa remaja SMA yang membuat hati siapa saja menjadi miris  ketika melihat kejadian tersebut. Bukan saja berdampak buruk bagi mereka yang terlibat dalam tawuran, tapi juga merugikan pihak sekolah. Bahkan tak dipungkiri melukai orang lain di sekitar tempat kejadian.
Yah… Mau tidak mau kita harus menelan bulat-bulat bahwa itulah potret diri kehidupan remaja Indonesia yang menyimpang. Yang tak lagi hidup dengan aturan adat dan tradisi yang sebagaimana mestinya. Akankah perkembangan jaman menghasilkan generasi muda yang semakin menyimpang?
Apabila hal ini terus dibiarkan, maka akan membuat ibu pertiwi ini semakin menderita. Semakin banyak remaja yang menyimpang seiring perkembangan jaman. Bukan tidak mungkin, budaya asli Indonesia lama kelamaan akan hilang dari peradaban bangsa. Karena setiap tahun Indonesia akan kedatangan musuh atau budaya baru yang hendak menutup budaya Indonesia dengan penawaran-penawarannya.
 Berbicara tentang kekerasan, kita mendapati ketetidakwajaran yang menjadi lumrah terutama akhir-akhir ini. Kekerasan banyak dijumpai di tempat umum seperti di jalan raya, perumahan, kampus dan sekolah maupun di keluarga. Ketakwajaran yang belum lagi lumrah adalah kekerasan ini dilakukan oleh perempuan dan pada saat usia pelaku baru menginjak remaja. Perempuan merupakan sosok yang identik dengan pribadi feminin. Tentang kepribadian feminin, sudah menjadi rahasia umum jika memaparkan ciri-cirinya yakni penuh kasih sayang, simpatik, jentel, sensitif, pengasuh, anggunn keibuan. Namun, kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok remaja putri ini lebih cenderung menunjukkan pribadi “maskulin“daripada feminin. Wow… keren.
 Disamping kekerasan seperti yang dilakukan remaja putri di atas, ada banyak perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dan makin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku tersebut antara lain penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), hamil sebelum menikah, premanisme di kalangan pelajar dan sebagainya.
            Masa Remaja
            Masa remaja adalah usia yang niscaya dilewati oleh setiap orang dewasa. Masa ini akan menguji setiap orang bahwa tidak selamanya hidup dilewati dengan perjalanan yang mulus dan lurus. Mungkin si pejalan yang remaja itu tahu lurusnya jalan. Seorang pedayung yang hendak menuju suatu pulau mungkin tahu arah jalannya dan mungkin tahu ada badai di depan, tapi tidak semua pendayung bisa melewati badai dan sampai pada tempat yang dituju.
Masa remaja adalah masa yang penuh badai dan tidak semua orang bisa lolos melewati masa-masa itu. Remaja menunjukkan emosi yang labil sehingga mudah dipengaruhi. Remaja cenderung menunjukkan keakuannya pada orang lain. Kebutuhan untuk diakui bisa menjerat remaja pada tindakan yang dilarang oleh norma. Dengan kata lain, remaja bisa saja melakukan tindakan yang melanggar norma asal dirinya bisa diakui oleh orang lain. Ciri adanya badai lain adalah makin tidak terbendungnya arus informasi seiring dengan makin mudah didapatnya teknologi informasi.
 Remaja bisa dengan mudah memamah informasi tentang apapun. Bisa dipastikan, hampir semua remaja di kota sudah familiar dengan handphone, bahkan bisa berganti-ganti model sesuai tren terbaru. Internet sudah bisa diakses sampai ke pelosok, dimana saja dan kapan saja. Internet menyediakan beragam informasi dan pengetahuan sesuai kebutuhan penggunanya hanya dengan satu dua kali menekan tuts keyboard. Lihat! Betapa mudahnya…
Televisi menjadi penyedia layanan informasi yang paling banyak dikonsumsi, terlebih banyak handphone yang sudah memiliki fasilitas gambar hidup itu. Media cetak beragam jumlahnya dan mampu memenuhi beragam hobi dan minat setiap orang.
Derasnya informasi yang mengalir ke segala penjuru ruang sosial di masyarakat tentunya akan memengaruhi pengguna informasi itu. Informasi yang dikenyam akan memengaruhi cara pandang, sikap, perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan seseorang.
           Badai informasi pada kalangan remaja
Namun, beragam tayangan kekerasan dalam televisi tidak bisa dianggap remeh, apalagi yang tidak ada hubungannya dengan kekerasan yang dilakukan remaja. Televisi sudah jadi media yang tidak mungkin dilepas dari keseharian masyarakat, didalamnya tersaji banyak tayangan yang kurang mendidik bahkan banyak diwarnai adegan kekerasan. Informasi selebriti mengabarkan kekerasan : perceraian maupun kekerasan yang dilakukan antarartis. Berita di televisi bertabur kekerasan: perselisihan antarwarga kampung, perseteruan antarpendukung pilkada. Film tidak enak dinikmati tanpa adegan kekerasan, bahkan sinetron yang diputar di televisi kita sebagian besar tidak mengandung unsur pendidikan. Satu hal lagi yang perlu di singgung di sini, yaitu penggunaan internet oleh kalangan remaja. O’..owww.
           Lumpuhnya Budaya Asli Bangsa
            Sebuah bangsa dikatakan hebat apabila mampu mengangkat nama bangsanya sambil tersenyum. Namun, kini banyak generasi muda bangsa yang malu mengakui dirinya sebagai generai penerus bangsa. Sebagai contoh, banyak anak remaja yang mulai senang membeli baju, sepatu atau tas impor dan mereka bangga atas hal itu. Sebaliknya mereka merasa sangat malu apabila membeli barang di pasar yang memang asli buatan Indonesia. Gengsi amat sih…
Dengan mudah norma-norma yang berlaku di masyarakat tertentu akan diadopsi oleh norma-norma di masyarakat lain. Mode pakaian yang baru muncul di Perancis dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat di kota kecil.    Apabila dari kecil saja banyak generasi muda yang mulai acuh terhadap budaya bangsa. Bagaimana nasib budaya asli Indonesia 10 tahun kedepan?  Masihkah ada budaya asli bangsa ini yang dulu diagung-agungkan? Hmmm..
           Korban yang harus dibela
Perubahan zaman menuju era informasi memiliki andil besar dalam membentuk sikap dan perilaku remaja. Perilaku menyimpang tidak hanya semata-mata bersumber dari remaja itu sendiri. Tapi, adanya perubahan zaman bisa memacu remaja bersikap dan berperilaku di luar batas normativitas. Keterbukaan informasi dan komunikasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mungkin merupakan salah satu sebab.
Sehingga kita sebagai generasi penerus bangsa harus siap merajut cinta untuk Indonesia dengan menjauhi perbuatan-perbuatan yang menyimpang, yang dapat merugikan orang lain, dan merusak moral penerus bangsa. Selamatkan generasi muda, selamatkan bangsa Indonesia.
Kita semua berharap remaja Indonesia bisa berkualitas lebih baik untuk mencapai Indonesia yang lebih baik pula. Tetap mencintai dan merasa bangga akan bangsa Indonesia, mencintai alam, tradisi, adat, hingga produk dalam negeri.
Semua berawal dari kita, para generasi bangsa…

0 komentar:

Posting Komentar